Berdiri Sejajar Dengan Anak, Memulai Pendidikan Karakter

oleh: M. Ali Fauzi

Anak lelaki itu masih enggan menggerakkan kakinya. Dia hanya menunduk. Sesekali mendongakkan kepala. Tangannya memegang ujung baju dan melilitkannya ke jari. Dia masih diam. “Ayo, minta maaf!” ucap sang guru A. Anak lelaki itu masih membisu dan membatu. Matanya semakin merah dan berair.
Kemudian, lewatlah guru B. Setelah beberapa saat berbincang, guru B melipat kaki untuk mengambil posisi jongkok. Tangannya memegang bahu anak lelaki tersebut. Guru B melihat hati yang bersalah di mata yang berkaca-kaca. Kini, kepala sejajar dengan kepala. Mata bertemu mata tanpa perlu mendongak. Lalu, komunikasi terjadi. Dan bergeraklah anak lelaki itu kepada temannya untuk meminta maaf.

Menyampaikan pesan kepada anak harus dimulai dengan pemahaman. Ya, memahami bahasanya, memahami karakternya, memahami hatinya, dan memahami fisiknya. Apa yang dilakukan oleh guru B adalah proses penyetaraan hati dan perasaan melalui simbol fisik. Bagi anak, inilah kepedulian seorang ayah sekaligus teman. Sebuah efek psikologis yang berarti kepedulian penuh sayang sekaligus melindungi bagi anak.

Proses lembaga pendidikan adalah upaya memosisikan diri sejajar dengan murid. Upaya inilah yang akan membuka pengetahuan proses kreatif belajar mengajar. Kita menghadirkan kehidupan anak, misalnya, maka kita akan mengetahui apa yang mereka butuhkan.

Mereka butuh pengetahuan yang banyak karena mereka harus menghadapi dunia yang berbeda 20 tahun kemudian. Mereka butuh fondasi karakter akhlak yang kuat karena mereka kelak harus menghadapi pengaruh dari luar. Mereka membutuhkan kematangan sikap sosial karena mereka harus mandiri dan menjadi diri sendiri. Mereka membutuhkan keimanan yang kuat karena imanlah bekal terbaik menghadap Tuhan.

Ketika mata sejajar dengan mata anak, maka perjuangan dan dakwah akan mengalir. Mengalir dari mata turun ke hati. Dari hati akan mengalir menjadi tindakan dan sikap. Proses yang kontinyu seperti inilah yang membentuk butiran-butiran kristal indah dalam diri mereka sebagai karakter dan perilaku.

Pesannya adalah jangan pernah lelah. Karena kita juga harus mempersiapkan masa depan untuk anak dan cucu kita. Merekalah yang memimpin masa depan. Kita sebagai orang tua, guru, atau orang dewasa berkewajiban memberi mereka kesejahteraan yang lebih lengkap dan menyibak onak dan duri yang merintangi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Jangan terburu kecewa ketika kita menanam bunga dan yang kita dapatkan adalah ulat bulu. Jangan pernah lelah. Dari ulat bulu akan lahir seekor kupu-kupu yang berwarna-warni.

Jangan juga mempercepat kupu-kupu keluar dari kepompongnya. Berproses membentuk karakter adalah proses terus menerus yang harus konsisten. Bukan ijazah dengan sederetan nilai memuaskan yang akan membangun jiwa mereka. Kepribadian, akhlak, dan keimanan yang akan mendampingi mereka tumbuh menjadi dan memiliki jiwa-jiwa yang besar.

Sekarang adalah saatnya menanam. Saat harus mengencangkan otot untuk memulai. Saat harus banyak belajar. Saat harus menjaga dari hama yang tidak baik dan jahat. Di saat inilah, pikiran harus terbuka, kepedulian terhadap yang benar harus menjadi acuan, dan profesionalitas harus dijunjung tinggi. Pada saatnya, pasti akan tiba masa panen. Masa dimana kebahagiaan adalah hadiah terindah bagi mereka yang menanam.

Berdirilah sejajar!, maka kau akan memahami mereka.

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.