BILLY, SI MANUSIA DENGAN 24 WAJAH

Oleh : Ali Fauzi

Judul : 24 Wajah Billy
Penulis : Daniel Keyes
Penerjemah : Miriasti & Meda Satrio
Tebal : 699 hlm.
Cet. : I, Juli 2005
Penerbit : Qanita, Bandung

Pada saat diterbitkan pertama kali, tahun 1982, buku ini tidak mendapatkan sambutan bagus di Amerika Serikat. Sambutan bagus justru datang dari masyarakat Jepang. Namun, setelah beberapa tahun kemudian, ribuan orang dari berbagai negara di dunia menanyakan; apa yang terjadi terhadap Billy selanjutnya?. William Stanley Milligan atau “Billy” adalah orang pertama dalam sejarah, yang melakukan kejahatan besar dan diputuskan tidak bersalah pada tahun 1978 dengan alasan ketidakwarasan, yakni berkepribadian ganda. 


Kisah kepribadian ganda sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sindrom pertama yang mampu menarik perhatian masyarakat adalah The Three Faces of Eve karya psikiater Corbett Thigpen dan Hervey Cleckley yang ditulis tahun 1957. Karya yang kemudian difilmkan itu, menceritakan pengalaman mereka dengan pasien yang bernama Eve White. Beberapa puluh tahun kemudian, kisah yang meneguhkan penyakit kepribadian ganda secara jelas adalah Sybil (1973) karya Flora Rheta Schreiber yang mengisahkan wanita dengan 16 kepribadian.

Novel karya Daniel Keyes ini, 24 Wajah Billy, merupakan kisah yang paling kuat, detail, mengharukan, dan dianggap buku paling bagus tentang kepribadian ganda. Mengisahkan tentang Billy Milligan, lelaki Ohio, yang memiliki 24 kepribadian. Sebuah buku yang mampu menarik simpati masyarakat dunia. Sebuah kisah yang meneguhkan sekali lagi, bahwa perpecahan kepribadian (split of personality) tidak selalu merupakan gejala schizophrenia.

Kisah menarik ini dibuka dengan seruntutan peristiwa dan pengaduan pemerkosaan, perampokan, dan penodongan di Ohio State University oleh seorang laki-laki tak dikenal. Berdasarkan ciri-ciri yang diungkapkan korban, maka Billy Milligan menjadi tersangka utama. Billy pun ditangkap dan ditahan. Namun, keberadaannya di penjara justru menjadi awal kehidupan yang tidak disadarinya. Berdasarkan keterangan para psikiater, Billy menderita penyakit kepribadian ganda. Di luar kontrol dirinya, kepribadian itu muncul secara bergantian, dan sangat mengguncang.

Dua puluh empat kepribadian itu diantaranya; William Stanley Milligan (“Billy”),26, sosok pribadi asli atau pribadi inti; Arthur, 22, pria Inggris yang rasional; Ragen, 23, pengelola rasa benci; Allen, 18, orang kepercayaan dan bersifat manipulatif; Tommy, 16, ahli elektronika dan ahli melepaskan diri dari segala macam kunci dan simpul ikatan; Danny, 14, anak yang selalu ketakutan; Christene, 3, si anak sudut; Christopher, 13, abang Christene; Adalana, 19, pemalu, kesepian, wanita lesbian yang menggunakan tubuh Billy untuk memperkosa; Kevin, 20, si perencana perampokan & penjahat kelas teri; Philip, 20, si penjahat Brutal; April, 19, si perempuan brengsek yang berambisi membunuh ayah tiri Billy; dan lain sebagainya, termasuk “Sang Guru”, 26 tahun, sosok yang merupakan kesatuan dari seluruh kepribadian, dan dianggap Billy seutuhnya.

Setelah diputuskan tidak bersalah, Billy mendapat perawatan dari pemerintah. Di rumah sakit jiwa milik negara, Athens Mental Health Center, Billy mendapat perawatan dari seorang psikiater ternama, Dr. David Caul. Dan selanjutnya, juga bertemu dengan seorang penulis yang akan menuliskan kisahnya kelak.

Maka, buku ini tidak hanya menjadi sebuah rekaman seorang berkepribadian ganda, namun juga menjadi kesaksian nyata selama dua tahun penulis novel ini, Daniel Keyes.
Di bagian dua, pribadi “sang Guru” menarik ingatan Billy ke masa kecilnya yang suram. Dimana dia mengalami kekejaman fisik, mental, bahkan kekerasan seksual terhadap dirinya. Trauma dan siksaan di masa kecilnya itulah yang menyebabkan dirinya merasa butuh “inner self helper” atau penolong di dalam diri, yang kemudian melahirkan beberapa kepribadian untuk bertahan hidup.
Keterpecahan kepribadian sebenarnya merupakan mekanisme untuk menyelamatkan jiwa. Saat ada masalah yang begitu berat, seseorang akan mencoba meyakinkan bahwa bukan dirinya yang mengalami. Ia akan menganggap, trauma itu bukan lagi miliknya. Dari sinilah, berbagai karakter pribadi lain biasanya akan muncul.

Di bagian akhir cerita, menyorot masa-masa seusai kemelut dan kegoncangan jiwa. Pribadi “Sang Guru” mulai semakin percaya diri, dan mulai mau dipanggil Billy. Kepribadian dan kehidupan Billy sudah mulai terbebas dan terkontrol. Pada sekitar bulan Februari 1979, Billy membaca surat ayah tirinya kepada Mr. Herb Rau yang didapat dari Miami News. Surat itulah yang akhirnya membuat Billy tidak siap menerima kebenaran tentang kehidupan keluarganya. Pribadinya pun terpecah lagi. Kali ini, Billy dapat mengontrolnya lebih cepat.

Serangan terhadap dirinya datang pula dari pihak pemerintah dan koran setempat, yang lagi-lagi, menggoncang jiwa Billy dengan sangat keras. Kesabarannya tak terkendalikan. Kepribadiannya terpecah lagi. Dia frustasi, dan hampir bunuh diri. Dari sinilah, tantangan terus menerus Billy tidak hanya untuk melawan dirinya yang terpecah, melainkan juga harus melawan serangan-serangan profesional dan politis dari luar.

Sebuah novel yang “benar-benar membuat shock.” Demikian komentar Flora Rheta Schreiber, penulis Sybil.

Kepribadian ganda adalah masalah kejiwaan yang paling diperdebatkan dewasa ini. Istilah kepribadian majemuk atau multiple personality disorder pun dirubah menjadi dissociative identity disorder oleh Asosiasi Psikiater Amerika (APA) pada tahun 1994, dengan asumsi bahwa tidak ada pribadi ganda dalam satu tubuh, melainkan yang ada adalah kegagalan mengintegrasikan berbagai macam aspek identitas ke dalam kesatuan dirinya.

Yang membuat istimewa novel ini adalah pada cara-cara inovatif penyembuhannya dan kisah yang detail, tajam, dan menyentuh. Penulis novel ini, Daniel Keyes—yang juga penulis Flowers for Algernon dan sukses di 30 negara dalam 27 bahasa yang berbeda—mampu menghidupkan seluruh karakter tokoh dengan penyajian rinci, detail, dan dilengkapi dengan data-data akurat.
Hal penting dalam novel ini adalah apa yang diajarkan oleh Dr. David Caul dalam menangani kepribadian ganda. Yakni bagaimana berkomunikasi dengan baik satu sama lain diantara mereka sendiri. Harapan terbesar setelah proses perawatan adalah lahirnya sebuah kesatuan pribadi yang fungsional.

Akhirnya, buku ini tidak hanya penting bagi profesional dan para psikiater, namun juga bagi siapapun yang ingin melihat lebih dalam terhadap sesuatu yang lain dari kepribadian individu manusia. Film yang diangkat dari kisah ini, yakni The Crowded Room disutradarai oleh Joel Schumacher, sedang dalam tahap proses.

Lebih dari tiga puluh tahun, Billy mengalami keterpecahan diri. Sebuah luka panjang yang menyatu dalam dirinya. Namun, luka itu sangat berharga bagi Billy dan orang lain. Sebagaimana terekam dalam buku ini, dalam masa-masa labilnya, dia mengkampanyekan anti kekerasan terhadap anak. Stiker Bumper yang dibagi-bagikannya bertuliskan: PELUK ANAK ANDA HARI INI. “PELUKAN TIDAK MENYAKITKAN”. TOLONG BANTU MENGHENTIKAN PENYIKSAAN ANAK—BILLY.[]

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

1 Comment

  1. Orang tua dianggap tempat paling aman bagi anak2, bahkan hewanpun akan menjadi lbh garang demi melindungi anaknya. ironisnya saat ini banyak orang tua yg justru menjadi horor bagi anaknya sendiri, ……dan bila itu terjadi, jarang anak yg berani bercerita, apalagi melapor…..

Leave a Reply

Your email address will not be published.