Dua Sahabat Pengejar Layang-layang


Judul Buku : The Kite Runner
Pengarang : Khaled Hosseini
Alih Bahasa : Berliani M. Nugrahani
Cet. : I, Maret 2006
Tebal : xiv+616 hlm.
Penerbit : Qanita, Bandung

Sebuah buku terkadang hadir dengan fantasi luar biasa, cerita kepahlawanan yang apik, dan penuh visi besar, yang kesemuanya menantang keberanian kita untuk melihat dunia di luar diri kita. Sedangkan buku yang lainnya datang lebih halus, lebih bijaksana, mengajak pembacanya berpikir dari dalam dirinya, memberinya kekuatan untuk menanyakan hidup, kepercayaan, Tuhan, tindakan-tindakan sexual, cinta, politik, atau apapun yang mungkin ada dalam pikiran pembacanya. Novel “The Kite Runner”, karya Khalid Hosseini ini tampaknya memiliki kedua karakter tersebut. Sebuah novel yang berani, kuat, menyentuh, dan bertaburan persoalan-persoalan moral.

The Kite Runner ini merupakan sepenggal kisah tentang persahabatan, pengkhianatan, kehormatan, pengampunan, dan nilai-nilai sosial dengan sejarah Afghanistan modern sebagai latar belakang ceritanya. Ini adalah sebuah gaya berkisah yang mengingatkan kita pada penulis-penulis Rusia abad ke-19. Gaya bertutur yang berani dan gentle dalam novel ini juga mengingatkan lebih jauh akan gaya berkisah Boris Pasternak dalam Dr. Zhivago. Bedanya, narasi yang digunakan Hosseini terasa lebih halus, familiar, dan mudah diikuti.

Dua lelaki, satu rahasia. Novel ini mengisahkan tentang persahabatan yang tak terlupakan antara dua anak laki-laki yang hidup di Kabul, Amir dan Hasan. Mereka tumbuh di rumah yang sama, berbagi atap bersama, namun hidup dalam dunia yang berbeda. Amir adalah anak terpelajar orang kaya Muslim-sunni dari etnik Pashtun. Sedangkan ayah Hasan adalah pelayan di rumah Amir. Hasan adalah seorang Muslim-Syiah dari etnik Hazara, sebuah kaum minoritas di Afghanistan. Di balik perbedaan itu, mereka hidup layaknya saudara.

Hosseini melukiskan kehidupan Afghanistan pra-revolusi dengan penuh kehangatan dan selera humor yang tinggi. Namun, pertentangan antar etnik juga tergambar sangat menyayat hati dalam novel yang bersetting lebih dari tiga puluh tahun yang lalu ini.
Masa kecil Amir dan Hasan diliputi dan dipenuhi dengan kisah dan permainan layang-layang di Kabul. Hasan dan Amir adalah pengejar layang-layang (The Kite Runner) yang handal. Alkisah, ketika pesta adu layang-layang terbesar diadakan, Amir dan Hasan menjadi pemenangnya. Namun, peristiwa itu ternyata sekaligus mengakibatkan sebuah peristiwa rahasia yang memilukan, peristiwa yang akhirnya menyebabkan perpisahan mereka setelah lebih dari dua puluh tahun bersama. Sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh Amir dan Hasan.

Metafor ‘layang-layang’ yang digunakan Hosseini dalam The Kite Runner untuk mengungkapkan konflik sosial bangsanya, sungguh mengagumkan. Metafor sederhana yang menyentuh tradisi dan budaya Afghanistan. Negeri gurun ini dikenal dunia sebagai negara yang misterius, terutama pasca-serangan 11 September 2001 di AS dan didaulatnya kaum fundamentalis di Taliban. Afghanistan telah mengalami masa-masa Monarchy, Demokrasi, pengasingan dan perang saudara yang terus bergejolak hingga kini.

Maka, novel ini telah berperan sekaligus menjadi media informatif yang sangat bagus tentang sejarah Afghanistan bagi masyarakat dunia. Sebuah kisah yang mampu membuat kita menangis dan tertawa. Kepedihan-kepedihan yang dengan sangat detail diungkapkan oleh Hosseini akan terasa begitu pedih dalam benak pembaca.
Secara keseluruhan, novel ini mengisahkan pergolakan pribadi akan permasalahan-permasalahan sosial dalam setting sejarah yang kelam. Sebuah kisah yang kurang lebih mengingatkan kita pada novel klasik Gone With The Wind karya Margaret Mitchell.
Pada saat perang sipil terjadi, Rusia menginvasi Afghanistan, ratusan bahkan ribuan rakyat Afghanistan diasingkan. Begitu juga dengan Amir dan ayahnya, Baba. Mereka harus melarikan diri ke Amerika Serikat. Tradisi Afghan yang menekankan kebanggan dan kehormatan harus dipertaruhkan. Di California, Baba bekerja di pompa bensin, dan di akhir pekan, Baba dan Amir pergi ke pasar loak bersama komunitas orang-orang Afghan. Disamping itu, Amir juga melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dan kemudian menikah. Kerja keras Baba dan kebiasaannya merokok telah mengakibatkan dirinya sakit. Tak lama kemudian, Baba meninggal dunia.

Kisah kelam personal dan sosial memuncak, ketika Amir menjumpai kehancuran bangsanya saat kembali ke kampung halaman, dengan harapan akan membantu Hasan dan keluarganya. Tanah kelahirannya yang indah telah hancur dan berubah total. Aroma kepedihan terasa dimana-mana.

Khaled Hosseini, penulis novel ini, lahir dan besar di Kabul, Afghanistan. Hosseini adalah anak dari seorang diplomat yang mendapat suaka politik ke Amerika Serikat pada tahun 1980. Maka tak heran, setiap inci dan detail kisah beserta istilah-istilah lokal terasa begitu kuat. Hosseini sendiri mengakui bahwa seluruh nama tempat, kisah, dan peristiwa yang dialami Amir sebagian besar terilhami dari pengalaman dirinya sewaktu di Kabul. Namun, tokoh Amir dalam novel ini sepenuhnya fiktif belaka.
Persinggungan fisik dan psikologis yang terlukis dalam novel ini pada akhirnya memberikan pelajaran tentang bagaimana sebuah individu dan masyarakat ketika berjuang di tengah-tengah kekerasan yang terus terjadi sampai sekarang. Membaca buku ini juga akan memberi pengetahuan tentang alasan mengapa sebuah budaya bisa luntur dan hilang.
Novel The Kite Runner ini adalah novel pertama Hosseini, bahkan novel pertama orang Afghan yang ditulis dalam bahasa Inggris. Namun, dalam debutnya yang pertama, novel ini telah merebut hati banyak pembaca di Barat dan di Timur sendiri. Sebuah novel yang disebut-sebut telah sekaligus menjadi sejarah sosial-politik negara Afghanistan yang paling mudah dipahami.

Apa yang telah dilakukan oleh Hosseini dalam novelnya ini merupakan usaha yang sangat jarang dilakukan oleh para penulis novel zaman sekarang. Ia telah menyelipkan sebuah pendidikan politik antar bangsa di balik serentetan peristiwa lokal. Tentu saja dengan bangunan setiap tokoh yang emosional dan menyentuh dalam setiap halaman novel ini.

Semangat yang membara dalam novel ini adalah munculnya optimisme yang sangat kuat akan datangnya masa depan yang lebih baik dan damai di negeri Afghanistan. Melalui penuturan yang sangat personal, penulis novel ini telah menemukan suara hatinya sebagai orang Afghanistan yang telah mengalami masa lalu yang kelam di negerinya. Sebuah pengalaman yang telah menggerakkan hati dan pikiran diri dan orang lain.[]

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.