Integrasi Ilmu dan Agama

Judul : Integrasi Ilmu Dan Agama; Interpretasi Dan Aksi
Penulis (ed.) : Zainal Abidin Bagir, Jarot Wahyudi, Afnan Anshori
Tebal : 270 hlm.
Cet. : I, Oktober 2005
Penerbit : Mizan, Bandung


Hubungan ilmu (sains) dan agama adalah hubungan yang rumit tapi penting. Pertautan keduanya dalam sejarah mengalami benturan-benturan yang sulit. Peristiwa saling menghakimi satu sama lain pun terjadi secara kontinu. Hingga kini, upaya memadukan sains dan agama terus menerus dilakukan oleh berbagai agama dan berkembang di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Sejarah telah mencatat, Gereja Katolik pada tahun 1992 dibawah kepemimpinan Paus Johannes Paulus II telah mengakui kebenaran teori Galileo setelah ratusan tahun yang lalu dipersalahakan oleh dewan inkuisisi Gereja. Sebuah pertanda terhapusnya permusuhan sains dan agama. Kini, semakin disadari bahwa semangat sains juga terus mendampingi sukma agama dalam membebaskan manusia.
Andai saja peristiwa pembakaran Giordano Bruno di tiang pancang di pasar bunga Roma pada tahun 1600, atau dikeluarkannya undang-undang anti Copernicus pada tahun 1616, serta diadili dan divonisnya Galileo pada 1633, tidak pernah terjadi dalam sejarah, barangkali sains dan agama tidak pernah dipertentangkan dengan keras sebagaimana yang pernah terjadi.
Konflik sains dan agama semakin mengemuka pada abad ke-19 melalui dua buku berpengaruh, yakni History of the Conflict Between Religion and Science karya J.W. Draper dan a History of the Warfare of Science With Theology in Christendom karya A.D. White. Dan dalam potret yang lebih populer, “perang sains melawan agama” dipertajam oleh beberapa media massa, karena kontroversi antara materialisme ilmiah dan literalisme biblikal jauh lebih diminati khalayak dari pada posisi yang lebih moderat.
Sejarah adalah sekumpulan ingatan yang tak bisa berulang. Dan justru sederetan peristiwa itulah yang dewasa ini melahirkan relasi apik dan dialog kreatif antara sains dan agama. Upaya yang dimatangkan oleh waktu dan kebutuhan akan merujukkan kembali sains dan agama, telah melahirkan nama-nama seperti Ian G. Barbour dengan pandangan empat relasi: konflik, independensi, dialog, dan integrasi; John F Haught dengan conflict, contrast, contact, dan confirmation. Dalam Islam, kita kenal Sayyed Al-Attas dengan dewesternisasi ilmu, Al-Faruqi dengan Islamisasi ilmu, Ziauddin Sardar dengan penciptaan ‘sains Islam’ kontemporer, Nasr dengan sains sacra, dan seterusnya.
Buku Integrasi Ilmu Dan Agama; Interpretasi Dan Aksi ini merupakan bagian kecil dari upaya membangun hubungan yang sinergi antara sains dan agama di Indonesia. Beberapa ahli di bidang sains dan agama dalam buku ini menuliskan bahwa hubungan yang harmonis antara ilmu dan agama harus dibangun tidak hanya pada tataran interpretasi (teoritis) saja, melainkan juga harus ada tindakan praktis yang mendukungnya, minimal dalam dunia pendidikan.
Perubahan tiga perguruan tinggi Islam di Indonesia dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN Jakarta, Malang, dan Yogyakarta) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) telah mengokohkan, sekaligus menjadi simbol integrasi antara sains dan Islam. Meski, dalam prakteknya, penyatuan ilmu dan agama di UIN seringkali masih pada tataran institutional tanpa implementasi di bidang konseptual dan operasional yang kuat.
Keragu-raguan adanya integrasi ilmu (sains) dan agama inilah yang juga sangat terasa dalam buku ini. Bambang Sugiharto, misalnya, mengamati bahwa hubungan yang terjadi bukanlah integrasi, melainkan interaksi. Karena proses-proses seperti teologisasi ilmu atau empirisasi teologi seringkali menjadi teori dan istilah yang konyol. Bahkan lebih jauh, L.Wilarjo lebih menerima Integrasi ilmu dan agama sebagai sesuatu yang ideal yang tidak akan pernah benar-benar tercapai. Ia kita pasang sebagai utopia, sebagai cita-cita yang kita gambarkan setinggi langit sebagaimana dianjurkan oleh bung Karno, untuk tetap menghidupkan semangat kita berbincang tentang ilmu dan agama.
Bangunan pemikiran yang sangat optimis terhadap integrasi ilmu (sains) dan agama ditunjukkan oleh tulisan rektor tiga Universitas Islam Negeri. Dimana, masing-masing mengembangkan seperangkat konseptual dan operasional dalam metode pendidikan di Universitas. Sebuah langkah yang berat namun perlu. Sebuah usaha yang patut mendapat respon positif.
Dalam catatan sejarah, peradaban dan pemikiran Islam menunjukkan sebuah perjalanan yang sangat luas. Mulai perjalanan aqidah Islamiyahnya hingga perkembangan ilmu pengetahuannya. Sains Islam yang terbentang dalam sejarah merupakan sebuah gambaran luas dan kompleks yang sangat mengakar sejak awal periode Abbasiyah di Baghdad selepas tahun 750 M dan bertahan hingga 600 tahun kemudian. Selama itu, ia tersebar di sejumlah luas wilayah geografi yang terbentang dari Andalusia sampai ke Asia Tengah. Selanjutnya, semangat keilmuan itu bangkit kembali pada masa Utsmani, Mughal, dan Syafawi.
Karena itu, perubahan IAIN menjadi UIN dapat menjadi simpul dalam jala-jala kebangkitan peradaban Islam di masa depan, yang menerima kembali sains islami sebagai si anak hilang untuk dikembangkan ke arah islami yang lebih konstruktif, produktif, dan harmonis bersaing dengan universitas-universitas umum untuk menjadi center of excellence. Akhirnya, mampu menjadi harapan bersama akan datangnya kebangkitan ketiga ilmu pengetahuan dalam dunia Islam.
Bangkitnya kembali semangat spiritual dan agama di kalangan ilmuwan saat ini adalah wujud kegelisahan dan kerinduan manusia akan kehidupannya saat ini. Ketika krisis kemanusiaan yang diakibatkan oleh kemajuan sains dan teknologi semakin dalam, sementara manusia merindukan ketenangan dan kedamaian, maka dialog sains dan agama menjadi wacana penting dan dibutuhkan untuk mendampingi kehidupan manusia saat ini dan mendatang.[]

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

3 Comments

  1. Problem hubungan agama dengan ilmu

    Sebelum kita berbicara secara panjang lebar seputar hubungan antara agama dengan ilmu dengan segala problematika yang bersifat kompleks yang ada didalamnya maka untuk mempermudah mengurai benang kusut yang terjadi seputar problematika hubungan antara agama dengan ilmu maka kita harus mengenal terlebih dahulu dua definisi pengertian ‘ilmu’ yang jauh berbeda satu sama lain,yaitu definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan dan versi sudut pandang manusia yang lahir melalui kacamata sudut pandang materialist.
    Pertama adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang materialistik yang kita kenal sebagai ‘saintisme’ yang membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’,(sehingga bila mengikuti definisi saintisme maka otomatis segala suatu yang bersifat abstrak – gaib yang berada diluar wilayah pengalaman dunia indera menjadi tidak bisa dimasukan sebagai wilayah ilmu).faham ini berpandangan atau beranggapan bahwa ilmu adalah ‘ciptaan’ manusia sehingga batas dan wilayah jelajahnya harus dibingkai atau ditentukan oleh manusia.
    Kedua adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan yang mengkonsepsikan ‘ilmu’ sebagai suatu yang harus bisa mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit sehingga dua dimensi yang berbeda itu bisa difahami secara menyatu padu sebagai sebuah kesatuan system.pandangan Ilahiah ini menyatakan bahwa ilmu adalah suatu yang berasal dari Tuhan sehingga batas dan wilayah jelajahnya ditentukan oleh Tuhan dan tidak bisa dibatasi oleh manusia,artinya bila kita melihatnya dengan kacamata sudut pandang Tuhan dalam persoalan cara melihat dan memahami ‘ilmu’ manusia harus mengikuti pandangan Tuhan.
    Bila kita merunut asal muasal perbedaan yang tajam antara konsep ilmu versi saintisme dengan konsep ilmu versi Tuhan sebenarnya mudah : kekeliruan konsep ‘ilmu’ versi saintisme sebenarnya berawal dari pemahaman yang salah atau yang ‘bermata satu’ terhadap realitas,menurut sudut pandang materialist ‘realitas’ adalah segala suatu yang bisa ditangkap oleh pengalaman dunia indera,sedang konsep ‘realitas’ versi Tuhan : ‘realitas’ adalah segala suatu yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi ‘ada’,dimana seluruh realitas yang tercipta itu terdiri dari dua dimensi : yang abstrak dan yang konkrit,analoginya sama dengan realitas manusia yang terdiri dari jiwa dan raga atau realitas komputer yang terdiri dari software dan hard ware.
    Berangkat dari pemahaman terhadap realitas yang bersifat materialistik seperti itulah kaum materialist membuat definisi konsep ilmu sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’ dan metodologi ilmu dibatasi sebatas sesuatu yang bisa dibuktikan secara empirik ( kemudian pengertian kata ‘ilmu’ diparalelkan dengan sains seolah ‘ilmu’ = ‘sains’).
    Ini adalah konsep yang bertentangan dengan konsep dan metodologi ilmu versi Tuhan,karena realitas terdiri dari dua dimensi antara yang konkrit dan yang abstrak maka dalam pandangan Tuhan (yang menjadi konsep agama) konsep ‘ilmu’ tidak bisa dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia indera dan metodologinya pun tidak bisa dibatasi oleh keharusan untuk selalu terbukti langsung secara empirik oleh mata telanjang,sebab dibalik realitas konkrit ada realitas abstrak yang metodologi untuk memahaminya pasti berbeda dengan metodologi untuk memahami ilmu material (sains),dan kedua : manusia bukan saja diberi indera untuk menangkap realitas yang bersifat konkrit tapi juga diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ dan pengertian untuk menangkap dan memahami realitas atau hal hal yang bersifat abstrak.

  2. Mengapa bisa terjadi sesuatu yang dianggap sebagian manusia sebagai ‘benturan antara agama dengan ilmu’ (?) bila dilihat dengan kacamata Ilahi sebenarnya bukan terjadi benturan antara agama dengan ilmu sebab baik agama maupun ilmu keduanya berasal dari Tuhan yang mustahil berbenturan.benturan itu terjadi karena kesalah fahaman manusia termasuk karena kesalahan manusia dalam membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagaimana yang dibuat oleh saintisme itu,
    Bila kita runut fitnah benturan antara agama dengan ilmu itu terjadi karena berbagai sebab,pertama : manusia membatasi definisi pengertian ‘ilmu’ diseputar wilayah dunia indera,sebaliknya agama tidak membatasi wilayah ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera (karena ilmu harus mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang lahiriah-konkrit) sehingga otomatis ilmu yang di persempit wilayah jelajahnya (sehingga tak boleh menjelajah dunia abstrak) itu kelak akan menimbulkan banyak benturan dengan agama.jadi yang berbenturan itu bukan agama vs ilmu tapi agama versus definisi pengertian ‘ilmu’ yang telah dipersempit wilayah jelajahnya.
    Dan kedua : fitnah benturan ‘agama vs ilmu’ terjadi karena ada banyak ‘benalu’ didunia sains yang mengatasnamakan sains padahal ia cuma teori belaka yang bersifat spekulatif kemudian teori itu dibenturkan dengan agama sehingga orang awam melihatnya seperti ‘benturan agama dengan ilmu’ (padahal itu hanya fitnah).untuk dihadapkan dengan agama sains harus bersih dari teori khayali artinya sains tak boleh diwakili oleh teori yang tidak berdasar kepada fakta seperti teori Darwin,sebab bila saintis membuat teori yang tak sesuai dengan kenyataan otomatis pasti akan berbenturan dengan agama sebab konsep agama berlandaskan kepada realitas yang sesungguhnya (yang telah Tuhan ciptakan sebagaimana adanya).
    Dalam konsep Tuhan ilmu adalah suatu yang memiliki dua kaki yang satu berpijak didunia abstrak dan yang satu berpijak didunia konkrit,dan konsep ilmu seperti itu akan bisa menafsirkan agama.sebaliknya konsep ilmu versi kaum materialistik hanya memiliki satu kaki yang hanya berpijak didunia konkrit yang bisa dialami oleh pengalaman dunia indera sehingga dengan konsep seperti itu otomatis ilmu akan menjadi seperti sulit atau tidak bisa menafsirkan agama.
    Jadi bila ada fihak yang memprovokasi seolah ada ‘benturan antara agama versus ilmu’ maka kita harus analisis terlebih dahulu secara ilmiah jangan menelannya secara membabi buta,apalagi dengan bersikap a priori terhadap agama.kasus Darwin sama sekali bukan benturan antara agama vs ilmu tapi antara teori ‘ilmiah’ yang tidak berdasar fakta vs deskripsi kitab suci,begitu pula kasus Galileo itu bukan benturan agama vs ilmu tapi antara temuan ilmuwan vs penafsiran pendeta terhadap kitab sucinya yang belum tentu tepat,(tak ada ayat kitab suci yang secara astronomis menyatakan bumi sebagai pusat galaksi tata surya dan harus difahami saat itu pendeta melihatnya dari kacamata sudut pandang ‘filosofis’).
    ‘ilmu’ dalam saintisme ibarat kambing yang dikekang oleh tali pada sebuah pohon ia tak bisa jauh melangkah karena dibatasi wilayah jelajahnya harus sebatas wilayah pengalaman dunia indera sehingga ‘yang benar’ secara ilmiah menurut saintisme adalah segala sesuatu yang harus terbukti secara empirik (tertangkap mata secara langsung), dengan prinsip inilah kacamata saintisme menghakimi agama sebagai sesuatu yang ‘tidak berdasar ilmu’.
    Bandingkan ; dalam agama wilayah jelajah ilmu itu luas tidak dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi sebab itu ‘ilmu’ dalam agama bisa merekonstruksikan realitas secara keseluruhan baik yang berasal dari realitas yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara langsung) maupun realitas konkrit (yang bisa tertangkap oleh mata secara langsung),jadi ilmu dalam agama tidak seperti kambing yang dikekang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.