Pentingnya Pengalaman Berprestasi

oleh: Ali Fauzi

Apa jadinya kalau Thomas Alva Edison tidak memiliki ibu yang hebat? Ketika gurunya mengatakan bahwa Edison adalah anak bodoh, maka satu-satunya orang yang melihat kelebihan Edison adalah ibunya. Sekarang, tidak hanya Edison yang bangga terhadap dirinya sendiri. Seluruh dunia sampai sekarang mengenal, mengagumi, dan membanggakan Edison.
Setiap orang tua, baik orang tua di rumah atau di sekolah, selalu menginginkan anaknya berprestasi. Tidak harus besar. Prestasi-prestasi kecil, apapun bentuknya, akan menempel sepanjang hidup. Prestasi inilah yang kemudian menggerakkan anak untuk berprestasi lebih baik.

Setiap anak mampu berprestasi. Pandangan yang beranggapan bahwa prestasi anak adalah prestasi nilai sekolah, tampaknya harus bergeser. Memang tidak mudah. Sudah bertahun-tahun menempel di alam bawah sadar bahwa prestasi demikianlah yang layak menyebut seorang anak dengan sebutan anak pintar. Efek yang tidak terasa adalah pada saat anak kita kurang berprestasi di bidang nilai di sekolah, maka dukungan kita terhadap prestasi lain agak mengurang.

Beruntungnya, paradigma lama ini hampir berganti. Banyak orang tua sekarang yang benar-benar tahu bahwa kelebihan setiap anak itu berbeda. Kalau dulu muncul pandangan bahwa setiap anak yang dilahirkan adalah sama. Sama otaknya, sama fisiknya, sama kemampuannya, dan juga sama potensinya. Maka sekarang, pandangan itu menjadi setiap anak yang dilahirkan ke dunia adalah unik. Mereka memiliki keunikan sendiri-sendiri.

Tugas orang tua dan guru adalah menemukan potensi anak untuk meraih prestasi terbaik sesuai kesenangan dan keahliannya. Oleh karena itu, penyelenggara pendidikan di sekolah juga bertugas memberikan sebanyak mungkin pengalaman berprestasi kepada siswa. Mulailah dari hal-hal kecil. Misalnya, penghargaan atas ketekunan melaksanakan tugas piket atau penghargaan atas keramahan sikap.

Hal yang juga penting dilakukan adalah mengadakan kegiatan perlombaan dalam segala bidang. Mulai dari tingkat individu, kelas, antar kelas, sampai antar sekolah. Satu prestasi kecil yang diakui akan meningkatkan kepercayaan diri anak, menambah motivasi anak berprestasi lebih, dan yang paling penting anak merasa apa yang dilakukannya dihargai.

Prestasi yang diraih anak di usia sekolah akan membekas dan akan dikenangnya sepanjang hidup. Coba kita ingat, peristiwa apa yang paling mudah diingat?

Hal ini menjadi pendukung kuat untuk menghilangkan labelisasi siswa. Seperti ada siswa yang pintar, cerdas, ada juga siswa yang kurang pintar.

Berdasarkan hal inilah, memberikan pengalaman prestasi kepada anak adalah aset motivasi yang baik untuk jangka panjang.

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.