‘RING’ DAN PESAN KEMATIAN UNTUK DUNIA

Pernah dimuat di harian Media Indonesia, 9 Januari 2006

Judul : RING
Penulis : Koji Suzuki
Penerjemah : Utti Setiawati
Tebal : 433 hlm.
Cet. : I, November 2005
Penerbit : Qanita, Bandung

Koji Suzuki sering disebut sebagai Stephen King dari Jepang. Novel-novel horornya memikat tidak hanya bagi masyarakat Jepang. Karya masterpiece-nya yang berjudul “Ring”, telah memukau banyak orang dan menghasilkan tren supernatural baru di seluruh dunia.

Sejarah dunia mencatat dan mengenal Jepang sebagai sebuah negara dengan tradisi lokal tinggi dan teknologi yang maju. Kondisi masyarakatnya yang konsumerisme telah menjadi ancaman bagi keberlangsungan tradisi-tradisi lokal. Persinggungan keduanya terus terjadi. Kondisi inilah yang ditangkap dengan baik oleh Koji Suzuki. Novel yang telah difilmkan di Jepang dengan judul Ringu dan di Hollywood dengan judul Ring ini menggambarkan teror di Jepang pada era postmodern. Sebuah teror yang lahir dari perpaduan tradisi lokal dan dunia modern di Jepang. Sungguh, ancaman ini adalah teror psikologis yang mengkhawatirkan.

Situasi pertentangan antara nilai-nilai lama dan nilai-nilai baru yang terjadi di Jepang dan dunia secara keseluruhan inilah yang telah memberi kekuatan makna tersendiri bagi novel ‘Ring’. Novel ini menarik bukan hanya karena ceritanya yang menegangkan, menakutkan, dan mencekam. Novel yang bersetting di Tokyo ini sangat kompleks, memuat tema-tema seperti misanthropy, hermaphrodisme, gender, kasih sayang, penyakit, media, moralitas, juga nilai-nilai utilitarianisme. Sebuah perpaduan genius yang memikat.

Kisah menarik ini diawali ketika suatu malam di Tokyo, empat remaja tewas dengan tidak wajar di tempat terpisah. Kazuyuki Asakawa, seorang jurnalis surat kabar di Tokyo, adalah orang pertama yang menyadari dan mengetahui peristiwa tersebut dan kemudian tertantang untuk mengungkap misteri di balik kematian yang tidak wajar dan sulit dipahami tersebut.

Ya, semua bermula dari kisah supir taksi mengenai tewasnya Shuichi Iwata yang kemudian mengingatkan Asakawa kepada keponakan istrinya, Tomoko Oishi, yang juga tewas pada malam yang sama dan dengan penyebab yang sama: serangan jantung mendadak. Keyakinan Asakawa pun menguat setelah ia mendapatkan berita dua orang remaja lainnya yang juga tewas pada malam yang sama. Bahwa peristiwa tersebut tidak sekedar kebetulan, melainkan ada misteri yang terselubung. Oleh virus atau apapun.

Penulis novel ini, Koji Suzuki, sengaja membangun karakter cerita dengan sederhana, kuat dan cepat. Setelah melakukan penelusuran, Asakawa pergi ke sebuah resort di Hakone. Sebuah tempat dimana empat remaja tersebut menginap bersama seminggu sebelumnya dan menonton sebuah video yang mengandung kutukan kematian bagi penontonnya, termasuk Asakawa. “Siapapun yang menonton gambar-gambar ini ditakdirkan untuk mati pada jam yang sama satu minggu dari sekarang”.

Kutukan itu sebenarnya memiliki penangkal. Celakanya, bagian yang mengatakan tentang penangkal itu, justru rusak terhapus. Maka, Asakawa harus berlomba dengan waktu memecahkan misteri penangkal atau ia sendiri harus mati seperti keempat remaja sebelumnya. Satu-satunya orang yang dapat membantu, yang ada dalam pikiran Asakawa adalah Ryuji Takayama, teman sekolahnya dulu yang juga seorang profesor filsafat.

Kisah ini mengalir begitu dingin dan mencekam. Penulis novel ini menghadirkan plot yang menakutkan dan mengejutkan, yang kesemuanya dibangun berdasarkan kehidupan sehari-hari. Cerita pun bergerak secara mengejutkan. Istri dan anak Asakawa ternyata juga telah menonton video tersebut. Asakawa menjadi takut dan berusaha lebih keras. Akhirnya, sedikit demi sedikit terkuaklah tabir gelap yang melingkupi kutukan itu. Si pembuat kutukan adalah Sadako, seorang gadis jelita yang meninggal dua puluh lima tahun lalu. Ia merekam video maut tersebut melalui lensa matanya dengan kekuatan supranatural yang dimilikinya, mencoba menyampaikan pesan kepada dunia luar (penonton) perihal kematiannya. Petualangan pun dimulai.

Yang membuat novel ini istimewa adalah kompleksitas makna yang dikandungnya. Misal, perubahan jenis kelamin tokoh protagonist Kazuyuki Asakawa yang laki-laki dalam novel menjadi tokoh protagonist berjenis kelamin perempuan dalam filmnya, baik yang di Jepang, (Ringu, 1998), maupun yang di Hollywood (Ring, 2002). Pertimbangan utama memilih tokoh perempuan adalah bahwa tradisi merawat anak perempuan di Jepang bersifat maternalistik atau tugas seorang ibu. Sebenarnya, pemilihan Suzuki dengan karakter laki-laki dalam novel ini adalah ingin memberi wacana baru atas tugas seorang ayah bagi masyarakat Jepang. Tema hermaphrodisme muncul dalam tokoh Sadako. Dan sepanjang novel, persoalan-persoalan moralitas, utilitarianisme bertaburan memperkuat karakter penceritaan novel ini.

Semakin menyentuh dan menarik. Novel ini juga menyajikan tema drama yang tampak kuat meski hanya muncul beberapa saat. Tepatnya, cinta seorang ayah terhadap istri dan anaknya. Sebagaimana diakui oleh Koji Suzuki, dasar tema novel ini sebenarnya tentang cinta Suzuki kepada anaknya. Disamping itu, tampaknya pengarang tidak ingin memberi celah bagi pembaca untuk mengernyitkan dahi. Dengan sangat detail dan apik, Koji Suzuki secara brillian telah menciptakan ketegangan yang mampu membuat betah pembacanya dari halaman ke halaman buku ini. Sebuah kisah horror yang tanpa melibatkan darah.

Bangunan kombinasi antara dimensi mistis dan ilmu pengetahuan modern yang tertuang dalam novel ini sungguh mengagumkan. Psikologi paranormal, studi atas dunia supernatural dan okultisme, seringkali dianggap bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Namun dalam buku ini, psikologi paranormal justru menjadi salah satu kunci untuk menyingkap struktur alam semesta. Hal inilah yang tampak bagi sebagian kalangan disebut sebagai pseudo-science.

Bungkusan lokal atas nilai-nilai universal dalam novel ini menjadikannya sebagai sebuah buku lintas dunia, meski sedikit terbatas ruang lingkupnya. Bagi penyuka kisah-kisah horror dan thriller psikologi, karya-karya Koji Suzuki sangat layak disimak. Bagi pecinta cerita detektif, buku ini sangatlah tidak mengecewakan.
Novel yang dalam versi Jepangnya telah terjual lebih dari tiga juta kopi ini pada akhirnya menjadi sebuah pesan kematian bagi dunia. Sebuah pesan yang akan menggugah kesadaran manusia terhadap diri dan peradabannya. Teror yang mengemuka dalam kisah novel ini hanya bagian dari “sebuah ujian bagi spesies manusia. Di setiap abad, Setan akan muncul kembali dengan samaran yang berbeda. Kau bisa membasminya, dan terus membasminya, tapi dia akan terus datang lagi, lagi, dan lagi”(hlm.433).

Peradaban manusia boleh maju setinggi langit. Namun, anak peradaban itu sendirilah yang akan melahirkan pembunuhnya. Ancaman akan hilangnya perdamaian, kenyamanan, dan ketenteraman manusia bisa menjadi semacam teror kematian untuk dunia. Selamatkanlah diri, keluarga, dan peradabanmu!. Inilah pesan utama buku ini.[]

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

2 Comments

  1. novel terjemahan ini diterbitkan oleh qanita (anak penerbit Mizan) mungkin di toko buku masih ada. kalau tidak, bisa langsung tanya ke penerbitnya. terimakasih atas perhatiannya

Leave a Reply

Your email address will not be published.