‘SANG GURU CINTA’ SEJATI

Judul : The Guru of Love
Penulis : Samrat Upadhyay
Penerjemah : Mahanani Putri
Tebal : 486 hlm.
Cetakan : I, Mei 2005
Penerbit : C Publishing, Yogyakarta

Sejak diterbitkan pertama kali tahun 2003, novel yang bersetting di Nepal ini mendapat sambutan luar biasa, melebihi yang diperkirakan pengarangnya. Penulisnya, Samrat Upadhyay, ingin mengolah tema-tema universal dalam setting lokal. Tema seperti kesulitan mencari uang, ketidaksetiaan, dan kejahatan atau kekejaman mertua. Novel “The Guru of Love” ini adalah kisah cinta keluarga yang tidak biasa dengan detail apik penuh warna dan angel yang unik.
Dunia mengenal Nepal sebagai negara ibukota kerajaan Himalaya. Sebuah negara yang dikenal eksotis sekaligus spiritual. Namun, pada tahun 2001, semuanya berubah setelah putra mahkota Pangeran Dipendra membunuh orang tuanya, Raja Birendra dan Ratu Aishwarya, dan delapan anggota kerajaan lainnya, sebelum akhirnya menembak dirinya sendiri. Pangeran Dipendra seringkali membicarakan dan berdebat dengan ibunya tentang pilihan untuk pasangan hidupnya kelak. Dan Sang ibu tidak menyetujui pilihan sang pangeran.
Permasalahan seputar bagaimana pernikahan diatur di Kathmandu, juga Nepal secara keseluruhan, pada zaman kontemporer inilah yang juga mendasari latar kekuatan novel “The Guru of Love” ini. Sebuah novel yang Membuka selubung kekuatan yang saling mempengaruhi antara cinta dan ketidaksetiaan, diri dan keluarga, privasi dan politik, dan bahkan antara erotis dan spiritual.
Bersetting di Kathmandu tahun 1990 pada saat pergolakan dan transisi Nepal menuju negara demokrasi. Dikisahkan, Ramchandra, lelaki miskin setengah baya yang juga guru matematika, memiliki berbagai persoalan hidup yang menimpa diri, keluarga, dan daerah bangsanya, Kathmandu, Nepal. Sebuah kota kecil yang penuh dengan konflik modernisasi, pemerintahan yang statis, dan ledakan penduduk. Dimana Ramchandra harus belajar mengakomodasi antara tradisi lokalnya dengan hasratnya yang sangat modern.
Di luar waktunya mengajar, Ramchandra harus membuka les tambahan di rumah kontrakannya untuk menambah pendapatan keluarga. Istri Ramchandra, Goma, adalah keturunan dari keluarga kaya raya. Sebuah perkawinan yang dari sudut pandang budaya setempat tidak seimbang. Karena di Nepal, seperti tetangganya India, kasta dan kekayaan sangat menentukan kedudukan seseorang dalam masyarakat. Warna dan konflik inilah yang membuat novel yang ditulis oleh pria kelahiran Nepal yang kini bermukim di Cleveland, Amerika Serikat ini memiliki daya tarik Asia yang eksotis.
Melihat kondisi anaknya yang miskin, orang tua Goma tak pernah melewatkan kesempatan untuk menghina dan mengejek Ramchandra sebagai menantunya, dan mengungkap kegagalannya sebagai pemberi nafkah keluarga yang baik. Pertentangan antara mertua dan menantu pun tak terhindarkan. Konflik ini barangkali mengingatkan kita akan kata-kata dalam novel Il Postino yang menyebutkan bahwa mertua adalah “lembaga yang paling menyebalkan di dunia”. Perkawinan Ramchandra dan Goma dikaruniai dua anak yang cerdas, Sanu dan Rakesh.
Suatu hari, seorang wanita muda miskin yang juga seorang ibu single, Malati, datang mengetuk pintu rumah Ramchandra untuk meminta memberikannya pelajaran tambahan dengan harapan agar dapat lulus ujian akhir. Permintaan Malati dikabulkan. Dan Ramchandra pun terpikat. Tidak hanya karena kecantikannya, tetapi juga oleh rasa ingin membantu dan juga sifatnya yang mudah tergoda. Cinta pun bersemi. Sebuah affair antara Ramchandra dan Malati menguak. Hubungan gelap terjalin dengan rapi dan tertatih-tatih berjalan secara perlahan.
Boleh jadi, cinta segitiga; Ramchandra, Goma, dan Malati yang menjadi tema novel ini adalah tema yang sudah biasa. Namun, Upadhyay yang juga merupakan penulis Arresting God in Kathmandu (2001) ini, mampu menggambarkan karakter psikologis yang luar biasa sebagus dalam menggambarkan realitas kehidupan sosial politik Nepal yang kompleks saat itu.
Affair antara Ramchandra dan Malati akhirnya sampai ke telinga Goma, istri Ramchandra. Percekcokan Ramchandra dan Goma semakin menambah sengsara kehidupan keluarganya. Upadhyay dengan brilliant mampu mengolah dan menghidupkan seluruh karakter tokoh dan kehidupan dalam novel ini dengan luar biasa.
Yang membuat novel ini istimewa dan lain dari biasanya adalah pada cara-cara yang tidak biasa yang menjadi solusi bagi permasalahan orang-orang dewasa dan permasalahan keluarga. Penderitaan panjang Goma melahirkan sesuatu yang unik dan istimewa untuk membantu menyembuhkan solusi affair suaminya. Secara mengejutkan, Goma hanya memiliki satu cara untuk menyelesaikannya, dia menyuruh agar suaminya membawa Malati dan anaknya tinggal di rumah mereka. Sebuah penyelesaian yang tidak biasa.
Sebuah keputusan yang di satu sisi menjadi hukuman bagi Ramchandra, namun di sisi lain menunjukkan kebesaran hati Goma dalam menghadapi masalah dirinya sendiri, meskipun suaminya telah menyalahi kepercayaannya. Bagaimana mungkin, seorang istri harus berbagi atap dengan kekasih suaminya?.
Inilah sebuah kisah cinta yang luar biasa dan mengagumkan. Cinta yang tidak biasa. Cinta yang memaafkan. Cinta dengan segala kebesaran jiwa. Namun, siapakah sebenarnya yang menjadi “Sang Guru Cinta”?
Apakah Ramchandra yang di kemudian hari mampu keluar dari masalah dan mampu memberikan kembali cinta sejatinya bagi istrinya? Atau justru Goma, istri Ramchandra yang dengan toleransinya dalam situasi yang sulit, penerimaannya terhadap suami yang tidak setia, kasih sayangnya terhadap Malati, yang kesemuanya misterius, tak dapat dijelaskan dan tidak dapat dipahami, namun keputusan yang diambilnya sangatlah arif dan bijaksana. Sehingga Goma layak dinyatakan sebagai “sang guru sejati tentang cinta”?.
Sepanjang novel, sangat terasa warna budaya khas Nepal; makanan, pakaian, permainan, dan upacara keagamaan. Bahkan, beberapa kata dan istilah dibiarkan tetap dalam bahasa aslinya, sehingga kita dapat merasakan warna lokal novel ini. Kontradiksi antara moral, tradisi, dan kemodernan saling bertaut rapi dan kuat. Chaos moral yang tergambar dalam novel ini sesungguhnya merupakan cerminan kekacauan yang terjadi di Nepal, salah satu negara miskin di dunia.
Perjalanan selama sebelas tahun sejak tahun 1990 hingga pembunuhan massal di jalan-jalan, pemberontakan kaum Mao, dan puncaknya, penghabisan keluarga kerajaan oleh putra mahkota di tahun 2001, semuanya menjadi setting dalam novel ini. Yang secara bersamaan konflik antar tokoh dalam novel ini juga bergejolak.
Samrat Upadhyay—penulis pertama Nepal yang menulis dalam bahasa Inggris dan mempublikasikan karyanya di Barat—pernah dijuluki sebagai “Chekhov Buddhist”. Memang, Upadhyay bukanlah Anton Chekhov, dia adalah seorang Buddhist, dimana ajaran-ajaran agama sangat mempengaruhi dirinya. Dan nuansa spiritual begitu terasa dalam karya-karyanya.
Orang-orang Barat cenderung menganggap Nepal hanya sebagai jalan menuju pegunungan Himalaya, tempat menghisap obat-obatan terlarang dan sebagainya. Upadhyay dalam novelnya ini ingin merubah anggapan tersebut. Nepal dalam novel Upadhyay bukanlah Shangri-La. Nepal—dan juga India—ingin berbagi sebuah kebudayaan yang masih menjaga kedalaman tradisi dan nilai-nilai spiritual yang kesemuanya dapat diungkapkan dengan agung dan apik oleh Samrat Upadhyay.
“The Guru of Love” akhirnya menjadi sebuah pesan yang berupaya menyampaikan salam cinta kepada dunia. Sebuah usaha promosi pemahaman dan kerja sama antar daerah dan bangsa di dunia, khususnya di wilayah Asia Tenggara. Di tengah gaduhnya dunia dengan berbagai bencana, kekacauan, kekerasan, dan lain sebagainya, Upadhyay ingin menyampaikan bahwa cinta dapat menjadi kekuatan penyatu antar berbagai perbedaan. Sebagaimana yang tersirat dalam epilog penutup novelnya.
Novel yang disebut-sebut sebagai New York Times Notable Book of The Year 2003 ini, mengungkapkan sebuah pengalaman terbuka yang tidak hanya menimpa keluarga Ramchandra, melainkan menimpa negara secara keseluruhan. Sebagaimana kata-kata dalam novel, “Masalah pribadiku adalah masalah negara ini”, “sejarahku ini adalah sejarah negara ini yang terabaikan”.[]

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.