Surat-Surat Untuk sang “Rajawali” Galileo


Judul : Putri Sang Galileo; Kisah Sejati Tentang Pergulatan Agama, Sains,
dan Cinta
Penulis : Dava Sobel
Pengantar : Nirwan Arsuka
Tebal : 403 Hlm.
Cet. : I, Februari 2004
Penerbit : Mizan, Bandung

Dibuka dengan surat Suster Maria Celeste yang bertanggalkan 10 Mei 1623, buku ini menunjukkan begitu dalam kesedihan yang harus dialami Galileo sejak dari dalam diri keluarganya. “Ayahku tersayang, kami sangat sedih atas meninggalnya adik perempuanmu, bibi kami tercinta”, “sementara kukatakan kepadamu bahwa kami berbagi rasa dalam kesedihanmu, ayah akan memperoleh hiburan yang lebih besar lagi dengan merenungi penderitaan manusia umumnya, karena kita semua di bumi ini hanya bagaikan orang asing dan musafir yang segera akan kembali ke kampung halaman sejati kita di surga”. Kekuatan hati Galileo tidak melemah. Dan justru semakin membuat dia lebih berkonsentrasi terhadap dunia kosmos. Hanya satu yang tersisa, jalinan kasih korespondensi dengan anak tersayangnya. Surat menyurat itu tak pernah berhenti. Bahkan, ketika Celeste terlambat membalasnya, Galileo sedikit marah dan menegurnya. Setitik harapan dari sebuah surat yang selalu diakhiri dengan kata-kata “putri yang paling menyayangimu”.
Galileo, setiap orang mengetahuinya, dipersalahkan pertama-tama secara pribadi pada tahun 1616, dan kemudian secara publik pada tahun 1633, dimana pada kesempatan terakhir ini dia mengakui kesalahannya dan berjanji tidak akan pernah mempertahankan pendapatnya lagi bahwa bumi berotasi atau berevolusi. Memang, inkuisisi berhasil mengakhiri sains di Italia, namun gagal mencegah para ilmuwan untuk mengadopsi teori heliosentris. Dan justru gereja melakukan kesalahan yang harus disesalkan di kemudian hari. Terbukti banyak pembelaan atas Galileo serta pembenaran atas teori-teorinya. Pada tahun 1992, setelah sekitar 350-an tahun dari pengadilan Galileo, Gereja Katolik menebus kesalahan itu di bawah kepemimpinan Paus Johanes Paulus II.
Buku yang ditulis Dava Sobel ini merupakan bagian dari pekikan kecil untuk sang “Rajawali” bernama Galileo. Sebuah buku yang berangkat dari kisah tulus kasih hubungan antara anak dan ayahnya. Ditulis berdasarkan 124 pucuk surat suster Maria Celeste kepada ayahnya, Galileo. Sebuah pengalaman mengharukan apabila ditilik bahwa sang ayah yang bermasalah dengan gereja justru mendapat dukungan dari seorang anak yang memilih hidupnya sebagai biarawati. Bisa dipastikan bahwa apabila surat-surat balasan Galileo bisa diselamatkan, maka begitu agungnya kemudian sejarah sains dan ilmu pengetahuan. Tapi sayang, surat-surat balasan Galileo telah disisir berulang-ulang oleh para pemuka agama dan para peneliti yang berkepentingan.
Maka, buku ini sebenarnya lebih merupakan sebuah monolog daripada dialog. Namun, dalam baris-baris kalimat buku ini tampak sebuah dialog dengan kekayaan data yang luar biasa. Dan kepiawaian Sobel benar-benar membuktikan dirinya sebagai pencerita sejarah sains yang patut dihormati dan diakui. Sobel mampu menerangi hari-hari nan jauh itu, dengan kaluasan bacaannya, hingga tampak benar-benar hidup. Sebuah karya yang istimewa.
“Aku yakin filosof yang baik terbang sendirian, seperti Rajawali”, ungkap galileo dalam The Assayer, “dan bukan dalam gerombolan seperti burung Jalak. Ini disebabkan Rajawali adalah burung langka, mereka jarang tampak dan kurang terdengar, sementara burung-burung yang terbang seperti burung Jalak memenuhi langit dengan pekikan dan jeritan mereka, dan dimanapun mereka bertengger, mereka mengotori bumi di bawahnya.”
Galileo akhirnya benar-benar terbang sendirian di jagat alam semesta. Dia harus mengalami kepedihan tanpa pembelaan di hadapan otoritas inkuisisi Gereja. Juga, sendiri terombang ambing dalam jalan setapak berbahaya antara kepercayaan yang dia anut sebagai seorang Katolik dan rahasia langit yang dia singkap lewat teleskopnya. Juga, sendiri dalam dunianya, kedua putrinya terpisah darinya dalam biara, dan bekas kekasihnya—ibu anak-anaknya—telah tiada. Kesendiriannya itulah yang kemudian menggoreskan namanya dengan tinta emas dalam sejarah sains dan filsafat. Meski, di sisi lain namanya tertulis hitam dalam sejarah gereja.
Hanya ada satu pemeriksaan pengadilan atas diri galileo, meskipun tampaknya ada seribu—penindasan ilmu oleh agama, pembelaan individu oleh penguasa, perseteruan antara kemapanan dan perubahan, tantangan penemuan baru yang radikal terhadap kepercayaan kuno, pertempuran melawan tangan besi demi kebebasan pemikiran dan suara. Tidak satupun proses dalam sejarah gereja atau hukum adat memantul dalam sejarah yang lebih bermakna, lebih besar akibatnya, lebih banyak prasangkanya, serta lebih banyak penyesalannya, daripada kasus Galileo.
Dalam dunia sains tak bisa dilupakan nama seorang anak musisi dari abad ke XVI ini, namanya, Galileo (1564-1643). Yang lahir pada hari kematian Michelangelo, dan meninggal pada tahun kelahiran Newton. Dia adalah pendiri sains modern terbesar disamping Newton. Kegigihannya yang terbesar adalah pada keyakinannya akan teori heliosentris. Ide modern tentang alam semesta tanpa batas juga dipercaya dan dikembangkan sebelumnya oleh Copernicus, ilmuwan penting atas munculnya teori heliosentris dengan bukunya On The Revolutions of the Celestial Spheres. Yang tentu pendapat ini berseberangan dengan kepercayaan gereja saat itu dengan geosentris-nya. Galileo layaknya Giordano Bruno yang dengan terang-terangan mengakui heliosentris. Bedanya, Bruno harus mati dibakar di tiang pancang di pasar bunga Roma, karena mengakuinya secara terbuka dan berani. Sementara Galileo harus mati sebagai tahanan rumah, akibat pengakuan dalam bukunya Dialogue Concerning the Two Chief World Systems.
Secara teknis, undang-undang anti-Copernicus pada tahun 1616 dikeluarkan oleh dewan inkuisisi, bukan oleh gereja. Begitu juga pada 1633, Galileo diadili dan divonis oleh otoritas suci inkuisisi, bukan oleh gereja. Namun, sejarah Galileo selalu lebih besar merupakan sejarah pertentangan antara ilmu dan gereja atau pertentangan sains dan agama. Seolah keduanya harus berhadap-hadapan tanpa kompromi. Sebuah pertentangan yang lebih merupakan akibat dari pemaknaan literal terhadap kitab suci. Padahal, sebagaimana ditunjukkan dalam buku ini bahwa Galileo sebenarnya penganut Katolik yang taat. Dimana dia menyatakan tentang hubungan antara penemuan kebenaran di alam semesta untuk menyingkap kebenaran di dalam kitab suci. “kitab suci dan alam sama-sama merupakan emanasi kalam ilahi: yang pertama diturunkan oleh roh kudus, yang kedua dijalankan oleh pelaksana yang patuh terhadap perintah-perintah Tuhan” karenanya, tiada kebenaran yang ditemukan di alam bisa bertentangan dengan kebenaran sejati kitab suci.
Galileo meyakini bahwa alam semesta ini mengikuti perintah Tuhan, yang menyingkapkan pola tersembunyi bagi para penemu yang gigih, sementara Urbanus menolak untuk membatasi kemahakuasaan Tuhannya oleh konsistensi logis. Setiap akibat di alam semesta adalah pekerjaan tangan Tuhan, yang berhak menyatakan keluarbiasaannya sendiri, dan semua itu melampaui batas-batas imajinasi manusia—bahkan dari pikiran seperti pikiran cemerlangnya galileo.
Dan sebuah kenyataan bahwa Copernicus telah menghayati ayat-ayat itu lebih daripada Aristoteles atau Ptolemeus. Dua tokoh yang menjadi rujukan penting terhadap teori geosentris. Disamping (terutama) penafsiran atas teks-teks kitab suci.
Kini, nama Galileo terpahat rapi dalam sejarah sains. Albert Einstein menyebutnya sebagai bapak fisika modern, bahkan sains modern. Dan pekikan keras suara “Rajawali” itu kini tidak sendirian. Simpatisan bertambah banyak, namun (semoga) tidak sampai akan menjadi segerombolan burung Jalak yang hanya akan mengotori bumi di bawahnya tempat dia bertengger. []

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.