Guru dan Penggali Emas

guru luar biasa

oleh: Ali Fauzi

Pertama-tama adalah kemauan untuk berbagi. Selanjutnya adalah panggilan hati untuk menemukan emas dan mutiara terpendam.
Seorang guru berperan sebagai penggali emas dalam lumpur. Begitulah apa yang sesungguhnya dilakukan dan dipersembahkan oleh seorang guru, pelatih, atau seorang pemandu. Sangat penting memahami peran ini, untuk kemudian kita ambil alih peran itu untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita.

Barangkali terlalu berlebihan kalau diistilahkan sebagai penggali emas. Toh, pada kenyataannya kesejahteraan menjadi guru tidak bisa mendekati ukuran-ukuran emas. Sungguh, guru yang memiliki panggilan hati akan mencapai kebahagiaan pada saat mampu menemukan emas dalam lumpur dan kemudian membuatnya berkilau.
Ingatlah kisah seorang pemandu bernama Tenzing Norgay dari Nepal. Dia adalah pemandu Sir Edmund Hillary, orang pertama di dunia yang berhasil mencapai puncak gunung tertinggi dunia Puncak Gunung Everest. Edmund Hillary memiliki impian berhasil mencapai puncak tertinggi dunia. Akan tetapi, bagi Tenzing Norgay, pemandunya, impian terbesarnya adalah berhasil membantu dan mengantarkan (sekali lagi, berhasil membantu dan mengantarkan) Edmund Hillary meraih impiannya.

Semangat ini pulalah yang tampak kuat dalam buku Guru Luar Biasa ini. Seorang guru yang luar biasa yang mampu betul-betul berperan sebagai penggali emas dalam lumpur dan kemudian membuatnya berkilau dan berharga. Buku ini mengisahkan seorang guru bernama Ciptono, yang membangun semangatnya dari garasi rumahnya hingga akhirnya meraih sembilan rekor MURI.

Dengan semangat yang tinggi, kesederhanaan, dan keikhlasan, Ciptono yang berprofesi sebagai guru Sekolah Luar Biasa (SLB) benar-benar mampu menyediakan kesempatan yang sama kepada peserta didik untuk belajar dan berprestasi. Semangat mendidik, melatih, dan semangat motivator telah mengantarkan anak didiknya meraih prestasi gemilang hingga mencapai rekor MURI.

Kalau saja setiap guru mampu berperan sebagai pendidik, motivator, pelatih, dan juga kreator pendidikan, maka setiap peserta didik akan terpacu untuk mandiri dan kreatif. Sekali lagi, menjadi penggali emas dalam lumpur oleh seorang guru tujuan akhirnya adalah bukan memiliki emas tersebut. Cukup hanya membuatnya bercahaya, berharga, dan dihargai. Seorang guru yang mulia kepuasannya terletak pada ketepatan seorang murid dalam meniti jalan kehidupan, pada tersingkapnya cahaya dari kegelapan, pada kebahagiaan dan prestasi muridnya, dan pada sosok muridnya yang selalu memegang teguh kebenaran.

Siapapun mampu menjadi guru. Baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Cukupkan bekal menabur benih kebaikan kepada siapapun dengan panggilan hati dan harapan yang tinggi kepada siapa saja, dimana saja.

“Mengajar membutuhkan seni. Tanpa seni dalam mendidik anak-anak, suasana belajar akan membosankan. Maka, setiap guru haruslah memiliki jiwa seni, inovatif, kreatif, dan berupaya mengikuti perkembangan zaman. Satu hal lagi, guru yang baik haruslah merasa memiliki panggilan jiwa untuk mencerdaskan generasi bangsa,” Kata Ciptono dalam buu ini.

Guru adalah mereka yang menjadikan dirinya jembatan, para murid diundang untuk menyeberanginya. Setelah semua menyeberang, dengan senang hati mereka mengundurkan diri, dan mendorong para murid untuk menciptakan jembatannya sendiri. (Nikos Kazantzakis)

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.