Reward; 10 Alasan untuk Waspada Menggunakannya


Oleh: Ali Fauzi

Ketika mulai belajar, hal pertama yang harus dilakukan terhadap siswa/anak adalah memunculkan kemauan untuk belajar. Ibarat kita hendak menuang air ke dalam gelas, maka gelasnya harus terbuka dahulu. Dalam kondisi tertutup, maka hanya ada satu kemungkinan yaitu air akan tumpah dan tidak akan masuk ke dalam gelas. Dalam kondisi terbuka, maka kemungkinan air untuk masuk pasti ada.
Pada saat anak sudah memiliki kemauan, maka tugas berikutnya adalah memotivasi. Dalam memberikan motivasi inilah, kita akan mengenal istilah reward dan punishment. Setiap kali anak/siswa memiliki kemampuan baru dan mampu memecahkan suatu tantangan atau masalah, maka merayakan keberhasilan tersebut adalah hal penting bagi anak. Beberapa efek perayaan keberhasilan tersebut adalah anak akan merasa dihargai, akan merasa percaya diri untuk mencari kemampuan lebih, dan anak akan mempercayai dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu. (Untuk kiat menumbuhkan kepercayaan diri anak lihat dan klik di sini)

Reward yang menjadi pembahasan di sini lebih kepada reward yang bersifat fisik, seperti hadiah fisik (sticker, pulpen, sepeda, komputer), trophi, atau uang. Sungguh, reward sangat dibutuhkan dan memberikannya adalah hal yang sah dan wajar. Akan tetapi, proporsi memberikan reward harus kita perhatikan dengan baik.

Agar tidak terjebak pada kesalahan dalam memberikan reward, ada 10 alasan kenapa harus waspada menggunakan reward dalam proses tumbuh kembang anak.

1. Reward cenderung mengubah perilaku jangka pendek.

2. Reward harus istimewa. Apabila tidak, anak akan cenderung mengabaikan dan enggan berprestasi karena rewardnya biasa banget.

3. Reward yang kurang tepat jusru kan menjadi fokus utama anak dalam belajar sesuatu dan fokus utama yang sangat penting dalam belajar akan sering hilang.

4. Reward menuntut siswa untuk mengulang apa yang ia lakukan. Ini bisa menjadi tekanan psikologis. Anak yang pernah mendapatkan reward harus melakukan hal yang sama setiap tahun untuk mendapatkannya kembali. Pada poin ini akan tampak negatif terutama ketika tidak ada rangsangan kreatif untuk berkembang.

5. Reward cenderung mengajarkan tentang kompetisi daripada kerjasama.

6. Pada kenyataan jangka panjang, reward tidak begitu dibutuhkan untuk memotivasi anak.

7. Reward dapat menghilangkan nilai penting dalam belajar. Kondisi ini akan mnciptakan cara berfikir anak yanpendek. Dalam arti, anak yang motivasinya dibangun berdasarkan nilai ekstrinsik (dari luar) akan cenderung berfikir “yang penting menang dan dapat reward”.

8. Reward dapat merusak motivasi psikologis baik bagi si penerima maupun bagi yang kalah. Seringkali, pemberian reward mudah sekali ditebak hasilnya. Dan anak-anak dapat membaca hal tersebut. Waspada dan hati-hati terhadap hal ini sangat penting.

9. Reward akan menciptkan ketergantungan. Ketika reward dihentikan, maka perilaku anak akan berhenti.

10. Reward sering menciptakan saingan dan merenggangkan hubungan antar pribadi.

Reward dibutuhkan bagi anak. Kepuasan dan perayaan intrinsik terhadap anak akan lebih berarti bagi mereka. Anak yang kita berikan pengakuan, baik pengakuan individu maupun pengakuan bersama, akan lebih bangga dan bahagia dalam jangka waktu yang panjang.

Apapun yang berlebihan akan menjadi tidak baik. Mari kita selektif dalam menentukan sikap untuk mendampingi anak-anak kita tumbuh dewasa!. Agar tidak ada yang kurang dan tidak berlebih.

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.