Jangan Mendisiplinkan Anak!

disiplin

 

Oleh: Ali Fauzi

Setiap guru dan setiap orangtua pasti menginginkan anak atau anak didiknya menjadi anak yang disiplin. Tetapi, ada aturan penting yang harus diingat, “Jangan mendisiplinkan anak, tetapi didiklah anak untuk menjadi disiplin.”

Mendisiplinkan anak dan mendidik anak untuk menjadi disiplin itu dua hal berbeda. Kita, sebagai guru atau orangtua, hanya perlu introspeksi ke bagian mana kita bersikap.
Mendisiplinkan anak sering berbentuk perintah daripada instruksi. Kita meminta melakukan sesuatu kepada anak tanpa kita jelaskan dengan baik kenapa dia harus melakukannya. Tidak ada seorangpun yang melakukan suatu tindakan tanpa alasan. Misalnya, ketika seorang guru sedang mengajar dan ada beberapa anak yang asik berbincang-bincang dengan temannya. Maka, bisa jadi, penyebabnya adalah materi atau cara guru menyampaikan materi tersebut kurang menarik bagi anak. Sehingga dia mencari sesuatu yang lebih menarik.

Apabila kita mengingatkan anak tersebut dengan kata-kata “Hai, kamu, diam! Dari tadi ngobrol terus”, maka kita sedang mendisiplinkan anak. Dari sikap seperti ini, anak hanya mengetahui satu hal, bahwa sekarang saya harus diam dan guru saya tidak suka.

Dalam praktiknya, anak tidak paham sepenuhnya alasan dia dihukum, sehingga rasa takutnya diidentikkan dengan orang yang menghukum. Kalau ini terjadi, anak tersebut secara umum akan merasa takut dan tertekan. Akhirnya, dia hanya menghindari perilaku yang membuat dia dihukum, tetapi juga menghindari guru/orangtua yang menghukumnya.

Kecenderungan utama dari mendisiplinkan anak adalah kita menghukum anak tanpa memberi tahu penyebabnya. Kalau hal seperti ini terjadi, maka anak akan selalu merasa bingung dalam bersikap. Sikap mana yang boleh dan mana yang tidak diperbolehkan. Inilah awal dari mandeknya kreativitas anak.

Berbeda dengan mendidik dan mengajari anak untuk disiplin. Kita menjelaskan kepada anak tentang alasan melakukan sesuatu. Ketika anak ribut saat guru sedang mengajar, kita bisa memilih kata-kata berikut, “saat ini sedang belajar agama. Teman-teman lain ingin paham materi kali ini. Kalau kamu terus ribut, teman kamu bisa terganggu”.

Dengan menjelaskan alasan atas suatu tindakan, seorang anak/siswa akan memahami kenapa dia harus mengubah sikapnya. Dengan cara seperti ini, anak kita dorong untuk bertanggungjawab terhadap dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Dengan sikap ini pula, anak akan belajar bagaimana menghormati sebuah aturan tanpa dipaksa oleh siapapun.

Mendidik anak untuk disiplin berarti melibatkan anak dalam memecahkan masalah. Juga, mendidik anak untuk menjadi bagian penting dalam menegakkan peraturan. Sehingga, dalam menegakkan peraturan, seorang anak akan merasa butuh untuk menegakkannya dan bukannya terpaksa.

Ingat, setiap anak ingin belajar bersikap dalam melakukan sesuatu. Apabila kita hanya mendisiplinkan anak, maka dia tidak akan belajar banyak atau bahkan tidak belajar sama sekali. Sebaliknya, kalau kita mendidiknya agar menjadi disiplin, maka dia akan belajar banyak hal. Kesadaran dari dalam dirinya akan muncul untuk menjadi anak yang disiplin dan menjadi anak yang lebih baik.

Suatu saat, berhadapan dengan siapapun dan dimana pun, anak akan memahami sebuah aturan dengan cara yang sama yang kita ajarkan. Tentu, kita ingin anak kita disiplin kapanpun dan dimanapun. Bukan disiplin karena takut kepada seseorang, akan tetapi bersikap disiplin karena merupakan kebutuhan dan kesadaran.

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.