Orangtua Yang Diidolakan Anak


Oleh: Ali Fauzi

Setiap anak butuh belajar tentang informasi baru (pelajaran di sekolah), belajar tentang mengelola emosi, belajar tentang Tuhannya, dan belajar tentang hidup dengan orang lain. Itu karena mereka sedang mengenal dunia. Dengan beberapa kebutuhan inilah, orangtua dan guru harus memahami betul bahwa belajar, bermain, berteman, dan beribadah itu sama-sama pentingnya. Maka, berilah porsi yang seimbang kepada masing-masing tersebut.

Orangtua sering lupa bahwa anak sudah belajar tentang informasi dan materi baru di sekolah. Maka, sebaiknya di rumah, orangtua memberikan porsi lebih besar tentang pelajaran hidup dan mengelola emosi kepada anak. Bukan melulu menyuruh mereka belajar dan belajar yang terkadang berakhir dengan kekesalan.

Sebisa mungkin kita tidak menjadi orangtua yang dibandingkan dengan guru. Sehingga anak-anak sering lebih mendengarkan guru ketimbang orangtuanya. Agar hal tersebut tidak terjadi, maka peran orangtua harus meningkat kualitasnya. Fokusnya terletak pada pembelajaran tentang emosi, membagi waktu, kasih sayang, dan pelajaran tentang hidup.

Anak harus memiliki rujukan kuat tentang persoalan hidup kepada orangtuanya. Maka, orangtua akan menjadi idola.

Sedikit di antaranya, Ajari anak tentang hidup dengan cara:

1. Mengajaknya berbicara.

Mengajak berbicara akan membuka jutaan kemungkinan.

Berikan contoh akan kepedulian terhadap sesama dengan mengajaknya berbicara. Dengan itu, kita bisa menunjukkan cara mendengar dan berbicara yang baik. Ya, saya gunakan kata “menunjukkan” karena kita harus menjadi teladan bagi anak. Nilai tambahnya adalah kita bisa menambahkan pengetahuan tanpa memaksa.

Dengan mengajak berbicara, kita juga bisa menunjukkan beberapa kebutuhan anak terhadap dirinya sendiri. Misalnya, bahwa anak butuh membereskan kamar sendiri agar tidak kesulitan mencari barang miliknya sendiri, dan seterusnya.

Dengan berbicara kepada anak, kita juga bisa tahu bagaimana cara anak bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri. Kita juga akan tahu bagaimana anak menyadari emosi dan perasaannya, memotivasi diri sendiri, mengungkapkannya kepada orang lain, dan kemudian bersikap kepada sesama yang baik. Setelah itu, kita lengkapi dengan pandangan positif lain yang belum mereka ketahui.

Prinsip dasarnya adalah setiap anak berhak didengarkan.

2. Membagi waktu

Setelah anak mengetahui tanggungjawab dan kebutuhannya sendiri, maka ajaklah anak untuk membagi waktu yang dimiliki. Sekali lagi, mengajak dan bukan mengatur.

Di sekolah, jam kegiatan anak sudah pasti. Di rumah, anak-anak bisa menjumpai temannya untuk bermain, bisa asik dengan komputer dan internet, menonton televisi, dan melakukan aktivitas lain.

Pada awalnya, mereka hanya tahu bahwa aku bebas melakukan apa saja. Ini akan terus terjadi sampai kita memberitahu tentang cara membagi waktu dan manfaatnya. Ada anak yang lalai dan terus bermain sepanjang hari hanya karena mereka tidak mendapatkan pengetahuan yang cukup dan tidak tahu cara dan pentingnya membagi waktu.

3. Controlling

Biarkan anak melakukan tanggungjawab dengan caranya sendiri. Baru setelah beberapa hari, apabila ada hal yang perlu diingatkan, maka ajaklah kembali berbicara. Di sinilah tugas kita sebagai pengingat.

“Bapak/ibu lihat di kamarmu, kaos kaki ada di rak buku. Baju berserakan di kasur. Ada apa?”. Kalau itu persoalan membagi waktu, maka tanyakan, “kesulitan apa yang kamu hadapi dalam membagi waktu?” lalu rangkul, pahami, dan kemudian berilah solusi dengan mengajaknya bertindak.

Dengan cara ini, anak belajar memecahkan masalah. Kelak, apabila dia menghadapi masalah yang mirip, maka dia akan mengingat cara yang sama yang pernah kita berikan. Di samping itu, anak juga akan belajar tentang pentingnya bertanggungjawab terhadap tugas-tugasnya sendiri.

4. Kasih sayang

Apapun yang kita lakukan, bahkan ketika marah, ingat bahwa semua karena kita sayang kepada anak-anak kita. Munculkan selalu perasaan bangga dan bahagia dengan memujinya apabila dia berhasil dalam meraih sesuatu. Bahkan ketika kita marah, munculkan pertanyaan ini: Apa ya, sikapku yang salah sehingga dia bersikap seperti ini?

Anak-anak yang semakin nakal atau orangtua yang semakin tidak sabar?

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.