“Tuan Rumah” Sebagai Pengganti Piket Kelas

piket kelas bank of america

 

Oleh: Ali Fauzi

“Pak, aku nggak mau lagi jadi Tuan Rumah. Capek”

“Pak, nggak enak jadi Tuan Rumah.”

Mula-mula, inilah kesan anak-anak kelas kami ketika menjadi Tuan Rumah. Di kelas, kami mencoba tidak lagi menerapkan jadwal piket. Sebagai gantinya, kami menyebutnya “Tuan Rumah”. Sebenarnya, tidak banyak berbeda dengan jadwal piket, hanya saja ada beberapa kelebihan dalam model Tuan Rumah ini.

     Tugas

Tugas Tuan Rumah sama dengan petugas piket. Dia harus menyiapkan teman-temannya dalam berbaris, belajar, membuat kondisi kelas menjadi nyaman, mengingatkan teman untuk menjaga kebersihan, bertanggungjawab atas semua proses pembelajaran yang terkait dengan siswa (misalnya, menyambut guru, menghapus papan tulis, membagikan kertas LKS atau surat, dan seterusnya).

     Waktu

Perbedaan utama terletak pada waktu. Jika jadwal piket berdasarkan harian, maka Tuan Rumah harus mampu memimpin, bekerja, dan melayani selama satu minggu penuh. Jadi, jadwal disusun berdasarkan mingguan. Dalam satu minggu, terdapat tiga atau empat orang yang akan menjadi Tuan Rumah.

Waktu yang panjang juga bermakna sangat positif. Mereka akan kita ajarkan mengenai persiapan, pembagian tugas, sampai penanganan masalah jika ada konflik antar teman.

Dengan bantuan wali kelas, setiap hari Tuan Rumah bisa berbagi pengalaman dan evaluasi. Lima menit, untuk evaluasi, yang kita sediakan sebelum pulang sekolah, akan sangat berarti.  Sehingga hari berikutnya tim Tuan Rumah bisa bekerja lebih baik dan lebih baik lagi. Keuntungan ini juga diperoleh bagi anak lain ketika nanti mendapatkan giliran sebagai Tuan Rumah.

Apabila model Tuan Rumah ini bisa diterapkan dengan baik, maka waktu satu minggu akan menjadi sangat berharga bagi pengalaman anak dalam memimpin dan melayani.

Mereka akan bertugas memimpinkarena mereka harus mengingatkan teman-temannya untuk disiplin, tanggung jawab, dan saling menghormati. Di samping memimpin, Tuan Rumah juga akan belajar melayanitemannya. Apabila ada pembagian LKS, surat, ataupun tugas-tugas lain, maka Tuan Rumah harus siap melayani temannya.

Bagian terpenting dari proses pembelajaran dan pelimpahan tanggung jawab ini adalah evaluasi diri. Evaluasi ini diperlukan untuk menjaga sikap dan kepercayaan diri masing-masing anak.

Ketika memimpin dan melayani, setiap anak harus sadar bahwa mereka memiliki hak untuk dihormati, dihargai, dan didengarkan. Mereka juga harus menyadari bahwa jika nanti mereka dipimpin oleh temannya sendiri, maka mereka juga memiliki kewajiban menghormati, menghargai, dan mendengarkan.

Dengan kondisi seperti ini, setiap anak akan belajar menggunakan hak dan kewajibannya secara seimbang. Tidak boleh ada penggunaan wewenang yang berlebihan atau saling mengacuhkan. Dan evaluasi sebelum pulanglah yang menjadi pengingat anak-anak setiap hari.

Keluhan yang muncul dari anak sebagai Tuan Rumah sangatlah wajar. Setiap anak masih memiliki keinginan untuk bermain. Sehingga ketika mereka menjadi Tuan Rumah, mereka harus membatasi diri dalam bermain dan membagi waktu. Dalam kondisi inilah, motivasi dan peran guru sangatlah besar.

Kita harus terus menanamkan bahwa memimpin dan bertanggungjawab atas tugas merupakan sebuah kebahagiaan dan kebanggaan yang pantas diperjuangkan. Sampaikan kebanggaan tentang prestasi setiap anak di hadapan anak-anak lain. Di samping itu, sampaikan juga kepada orangtua siswa agar setiap orangtua siswa bisa bangga dan turut menjaga nilai-nilai tersebut.

Kini, kelas kami memiliki lebih dari separo kelas menunggu-nunggu untuk menjadi tuan rumah.

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.