(Seharusnya) Belajar = Melatih Berfikir, Bukan Belajar = Menghafal Materi

The-Learning-Process-1

 

oleh: Ali Fauzi

Mulai hari ini, bertanyalah pada diri sendiri pada saat mengajar.

“Apakah anak-anak sudah mengetahui fungsi materi yang saya ajarkan ini bagi kehiduan mereka?”

“Apakah saya sudah memberinya pengalaman belajar dan pengalaman hidup?”

“Apakah mereka bertambah ilmu atau bertambah hafalannya?”

“Apakah mereka sudah belajar memecahkan masalah dari materi ini?”
“Apa yang mereka pelajari atau apa mereka hanya menghafal?”

Ketika mengajar bidang studi tertentu, misalnya, apabila seorang guru hanya berfikir bahwa tugas utamanya adalah menyampaikan materi dan harus habis dalam waktu tertentu, maka yang akan muncul dalam pembelajaran adalah tuntutan kepada anak utk menghafal. Bagi anak yang tahan, maka hafalan bisa dikuasai. Namun, bagi anak yang memiliki kecenderungan mencoba atau menyukai kegiatan praktik, maka hafalan menjadi sangat sulit.

Proses belajar, akhirnya, berubah menjadi proses menghafal. Tidak ada yang salah, menghafal memang melatih berfikir, akan tetapi hanya bagian kecil saja. Sungguh, setiap anak dengan usia tertentu, jenjang tertentu, dan masa tertentu harus mulai dilatih mengolah informasi dan memecahkan masalah sesuai tingkatannya. Kita juga menyajikannya dengan metode pembelajaran yang menarik.

Cobalah memberi persoalan kepada anak, dan lihatlah keajaiban-keajaiban yang terjadi!

Kita harus ingat, kalaupun memang ada materi yang harus dihafal, maka mari melatih anak untuk menghafal degan proses yang mudah diterima oleh akal fikiran dan “unik”. Dampak positif yang terjadi jika proses menghafalnya logis, maka dalam waktu yang panjang akan terus diingat oleh anak. Cara menghafal juga harus “unik”. Misalnya, banyak dari kita yang meghafal warna pelangi menjadi mejikuhibiniu dan lain sebagainya. Karena unik, maka akan muncul dan diingat dalam waktu yang lama.

Di saat belajar materi luas persegi panjang, misalnya, jika kita hanya mengajarkan cara cepat menghitungnya menggunakan rumus, maka lengkapilah prosesnya (wajib ya) dengan praktik langsung menghitung luas ruang kelas. Kemudian ajaklah anak menentukan jumlah keramik yang dibutuhkan. Ketika anak merasakan langsung, maka mereka akan tahu fungsi materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, berilah tantangan yang tidak bersifat hafalan.

Kesan. Jika anak sudah menangkap kesan (baik dari guru maupun dari orang tua) bahwa tujuan belajar adalah untuk mendapatkan nilai bagus, maka kesan itu berubah menjasi pesan. Akibatnya, muncul ketakutan dalam belajar, stress ketika ulangan, dan takut mendapatkan nilai yang tidak bagus. Kesan tersebut bisa muncul karena yang sering diperbincangkan terhadap mereka adalah persoalan nilai yang kurang.

Ulangan, baik ulangan harian ataupun ulangan semester, menjadi peristiwa penting bagi anak. Ada yang menunggu ulangan tersebut, tak sedikit yang merasa takut.

Manfaat tes bisa menjadi sangat sedikit bagi anak. Terlebih lagi, jika fungsi ukur yang dilakukan hanya pada ukuran waktu saja. Misalnya, prioritas utama dalam waktu tertentu adalah menyelesaikan materi. Akibatnya, penguasaan materi secara total terpinggirkan oleh target kejar-mengejar materi. Belum lagi, misalnya, jika sebuah tes dipermudah agar anak semakin banyak yang mendapat nilai 100.

Apabila tidak diubah, maka akan muncul kebingungan yang wajar. Kebingungan itu adalah saat menghubungkan materi-materi di kelas dengan persoalan atau pertanyaan-pertanyaan di luar kelas. Kenapa kebingungan ini menjadi wajar? Karena kita sudah terbiasa mengukur kemampuan berdasarkan besarnya angka saat tes saja.

 

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.