Manajemen Sekolah; Orangtua dan Sekolah, “Be a Partner!”

kinvolved.wordpress.com

“Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah keterpautan jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad”

Kahlil Gibran

Oleh: Ali Fauzi

Butuh satu kampung untuk mendidik anak.

Pepatah ini menunjukkan bahwa setiap anak akan belajar tentang banyak hal dari siapapun. Jika dalam satu hari seorang anak berjumpa dengan 50 orang, maka dia akan belajar sekitar 50 karakter atau nilai. Apa yang paling sering dilihat akan menjadi pembentuk sikap dan karakternya.

Anak yang sering melihat orangtuanya membaca, anak pun akan membangun dirinya seperti orangtuanya, ikut membaca. Orangtua yang sering menunjukkan berbantah dengan pasangannya, pada saat yang bersamaan anak sedang belajar cara menjawab jika disalahkan. Orangtua yang sering mengajak anak bersilaturahim ke tetangga dan berbagi, maka muncul keyakinan bahwa perbuatan tersebut harus aku lakukan juga. Dan seterusnya dan seterusnya.

Begitulah cara belajar anak. Setiap anak akan mencari referensi sikap atas hidupnya. Jika orangtua dan guru sering menunjukkan dan berlatih bersama tentang problem solving, maka anak akan mengambil memori itu untuk menyelesaikan masalahnya. Jika anak tidak mendapatkan contoh dari orangtua dan guru, maka sikap teman atau orang dewasa lain yang akan menjadi referensi sikapnya.

Atas dasar inilah, pendidikan karakter harus dibangun senada dan seirama baik di sekolah, di rumah, atau di lingkungan masyarakat. Jika tidak, akan muncul anak yang lebih menaati gurunya ketimbang orangtuanya atau sebaliknya. Jika antara sekolah dan orangtua selalu berbeda, anak secara alami akan memilih yang paling membuatnya aman. Padahal seharusnya, anak harus bisa memilih yang terbaik di antara contoh-contoh yang ada.

Di bawah ini adalah beberapa hal yang sering terjadi dalam diri kita.

Sebagai orangtua,banyak yang merasa bahwa tujuan utama ketika memiliki anak adalah menyiapkan uang lalu menyekolahkannya di tempat yang baik. Betul, tujuan ini harus dimiliki oleh semua orangtua. Kenyataannya, padatnya jam kerja dan tuntutan ekonomi memunculkan anggapan bahwa jika tujuan tersebut terpenuhi, maka yang lain santai saja.

Akan tetapi, mari mengingat kembali alasan kenapa kita menjadi orangtua. Kita menikah dan kemudian memiliki anak adalah sebuah anugerah. Dengan lahirnya anak, tugas kita untuk memberinya makan dan menghidupinya merupakan bagian kecil saja dari tugas orangtua. Sebenarnya, bukankah dalam kitab suci dinyatakan bahwa setiap jiwa yang lahir ke dunia sudah dijamin rezekinya oleh Allah?

Tugas orangtua lebih dari sekedar menyekolahkan. Tugas utama kenapa kita menjadi orangtua adalah karena anak-anak kita ingin belajar dari kita tentang cara hidup yang benar dalam mengarungi kehidupan ini. Kita menjadi orangtua karena kita harus memberikan kasih sayang kepada mereka dan mengajar mereka dengan cinta yang tegas. Agar air mata yang keluar adalah air mata kehormatan. Lihat ulasan lengkapnya di tulisan yang berjudul Kenapa Kita Menjadi Orangua?

Orangtua adalah guru pertama anak-anak dalam pendidikan moral. Kita juga harus terus mengingat bahwa keluarga merupakan sumber pendidikan moral paling utama bagi anak-anak. Orangtua jugalah yang memberikan pengaruh paling lama terhadap perkembangan moral anak-anak.

Di sekolah, setiap tahun guru yang megajar di kelas berganti. Model pendidikan terus menyesuaikan diri. Karakter teman di sekolah sangat beragam. Sementara anak  dalam masa perkembangan, harus menghadapi itu semua dengan karakternya sendiri. Tugas kitalah mendampinginya memilih dan menunjukkan mana yang terbaik bagi anak-anak kita. Dari sini, setidaknya setiap anak masih tetap memiliki orangtua yang selama bertahun-tahun akan mendampinginya tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Peran inilah yang harus benar-benar dipegang oleh setiap orangtua.

Hubungan orangtua dan anak, nantinya akan sangat dinamis. Akan muncul berbagai macam perbedaan baik emosi, karakter, dan kasih sayang. Orangtua harus terbuka dan menyadari bahwa mereka sedang mendidik anak yang hidup di zaman yang berbeda dengan dirinya. Dari hubungan ini pulalah anak akan merasakan kasih sayang dan cinta dari orangtuanya. Akhirnya, kita sebagai orangtua harus memberikan pelajaran moral terbaik agar dapat dipegang oleh anak-anak kita dalam mengarungi kehidupan yang lebih besar.

Meskipun peran dan fungsi keluarga dalam pendidikan semakin berkurang, maka marilah kita memilih untuk tetap mengambil peran dalam mendidik dan menyayangi anak.

Pihak sekolah.

Ketika sekolah menerima kenyataan bahwa banyak orangtua yang menyerahkan pendidikan moralnya kepada sekolah, maka sekolah harus memulainya dari dasar. Dan memang terbukti, banyak sekolah yang berhasil melakukannya. Kita lantas bertanya, apakah persoalan moral menjadi tanggung jawab sekolah seutuhnya?

Mari kita simak beberapa kenyataan yang ada.

Sekolah dengan slogan sekolah karakter, sekolah akhlak, atau sejenisnya telah banyak kita jumpai. Ketika sekolah-sekolah tersebut berhasil menanamkan nilai-nilai moral yang baik, maka lama kelamaan nilai-nilai tersebut akan hilang ketika tidak mendapat dukungan dari lingkungan keluarga. Misalnya, aturan sekolah yang mewajibkan siswanya berkata-kata yang sopan akan sulit menjadi karakter dan dilakukan oleh anak jika setiap hari anak di rumah mendengar kata-kata kasar. Jika demikian, Sekolah pun akan mendapat tugas berat dengan sedikit dukungan.

Dengan alasan inilah, sekolah dan orangtua harus menjalin hubungan yang baik. Setiap orangtua harus mengetahui program pendidikan karakter di sekolah. Sehingga, setiap harinya, anak berangkat ke sekolah dengan kesiapan fisik yang prima, kesiapan mental yang bagus untuk terus menerima pendidikan karakter di sekolahnya.

Sebuah penelitian pernah menunjukkan bahwa baik orangtua yang “permisif” (yang enggan membuat aturan dan lebih bersikap mengancam terhadap penyimpangan yang terjadi) maupun orangtua yang “authoritarian” (orangtua yang terlalu banyak mengontrol anak tetapi tanpa memberikan alasan yang jelas terhadap aturan yang berlaku dan cenderung bersifat kaku) menunjukkan hasil yang sama, yaitu keduanya tidak memberikan dampak yang baik bagi anak-anak di segala usia dalam meningkatkan sikap pengendalian diri dan memunculkan anak-anak yang memiliki tanggung jawab secara sosial.

Orangtua dan sekolah harus menjadi satu komunitas. Orangtua mengetahui program pendidikan karakter di sekolah, kemudian mendukungnya di rumah. Sementara pihak sekolah terus menjalin komunikasi tentang pembentukan nilai itu dan mendiskusikannya setiap fase perkembangan anak. Dari kondisi ini, orangtua bisa berperan aktif memberikan masukan, saran, kritik, dan ide-ide kreatif untuk sekolah.

Sekolah harus aktif memulai dan menjadikan orangtua sebagai partner dalam pendidikan moral. Salah satu tugas utamanya adalah mengajukan nilai-nilai karakter dan menyepakati apa yang sekolah ajarkan kepada anak-anak dan kemudian membuat komitmen antara sekolah dan orangtua agar memiliki kesepahaman yang sejalan dalam mendidik anak.

Akhirnya, kualitas pengasuhan yang baik dari orangtua dan penguatan nilai-nilai baik dari sekolah akan membangun pribadi anak yang unggul dalam menghadapi masalah, mengambil resiko, dan bersosialisai dimanapun mereka berada.

Semoga anak-anak kita menjadi generasi yang unggul.[]

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.