Peraturan Sekolah Yang “Membunuh” Anak

Taare_Zameen_Par_Movie_Photos

 

Oleh: Ali Fauzi

Ketika sekolah ingin menegakkan disiplin yang ketat, maka peraturan sekolah menjadi pilar utama. Faktanya, adanya peraturan seringkali justru menjadi bumerang bagi sekolah itu sendiri. Bukannya hasil positif yang didapat, melainkan justru sebaliknya.

Peraturan dibuat untuk membangun budaya sekolah yang positif. Mulai menjaga, memelihara, menumbuhkan, hingga mengembangkan karakter dan kemampuan anak didik. Sayangnya, masih banyak dijumpai sekolah-sekolah yang secara tidak sadar “membunuh” kreatifitas dan kemampuan anak dengan adanya peraturan tersebut. (baca: panduan membuat peraturan kelas)

Saya sepenuhnya percaya bahwa setiap anak harus memiliki “pilihan” atas apa yang akan mereka lakukan. Namun pada saat yang bersamaan, anak juga membutuhkan “batasan” atas pilihan-pilihan yang mereka miliki. Faktanya, menurut Dr. Richard Curwin, pilihan tanpa batasan dan batasan tanpa adanya pilihan, keduanya tidak bisa mengajarkan kepada anak tentang tanggungjawab apa yang mereka lakukan.

Inilah contoh ekstrem keduanya:

Batasan tanpa pilihan, “Lakukan apa yang saya katakan!”

Pilihan tanpa batasan, “Lakukan apapun yang kamu inginkan!”

Jelas, mengombinasikan keduanya akan melahirkan keuntungan yang sangat besar bagi pembentukan karakter anak terutama dalam hal tanggung jawab.

Di dalam kelas, membuat peraturan merupakan bagian penting dari upaya membangun manajemen kelas yang positif. Pilar-pilar manajemen kelas yaitu, peraturan, prosedur, display kelas, serta membangun hubungan yang positif di antara penghuni kelas. Manajemen kelas akan bermuara pada munculnya budaya kelas dan karakter yang baik.

Tidak ada peraturan atau undang-undang yang dibuat dengan tujuan negatif. Hal paling mendasar dari lahirnya sebuah peraturan adalah “keamanan”. Ya, aman secara fisik, aman secara emosional, dan aman ketika belajar.

Terus, peraturan sekolah yang bagaimanakah yang bisa “membunuh” kreativitas dan bakat anak?

  1. Peraturan yang tidak seimbang

Ya, tidak seimbang antara reward dan punishment. Ini yang paling sering terjadi. Kepala sekolah atau guru sering sekali mengingatkan kepada para siswanya bahwa jika ada yang melanggar peraturan sekolah maka akan ada hukumannya. Jika melanggar harus berhadapan dengan guru BK (Bimbingan Konseling). Jika melanggar, akan dipanggil orangtuanya. Jika melanggar akan kena skors dan dikeluarkan dari sekolah. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Apa akibatnya?

Siswa akan bermental play to not lose. Bermain untuk tidak kalah. Ketika terlalu banyak peraturan yang memiliki konsekuensi atau hukuman, sementara reward atau penghargaan yang disediakan sangat sedikit, maka kreativitas anak akan terbunuh.

Dalam satu kondisi, dimana ada anak yang melanggar peraturan dan kemudian menerima konsekuensinya (dihukum), sementara di sisi yang lain ada anak yang tidak pernah melanggar peraturan sama sekali namun tidak mendapatkan penghargaan sama sekali. Maka, bagi yang mendapat hukuman akan merasakan jera, sementara bagi anak yang sudah berusaha patuh dan tidak mendapatkan apa-apa akan menganggap dirinya sia-sia.

Baik konsekuensi maupun hukuman, sebenarnya lebih berfokus pada kelemahan anak. Bagaimana cara mengatasi kelemahan tersebut. Namun, upaya ini harus segera diimbangi dengan penguatan potensi atas kekuatan yang dimiliki melalui penghargaan.

Jika tidak, setiap anak hanya akan berusaha menghindari hukuman. Setelah berhasil menghindarinya, mereka tidak tahu harus berbuat apa.

Inilah mental play to not lose. Anak akan sekadar ingin naik kelas dan lulus daripada menjadi siswa aktif yang berprestasi dan bermanfaat bagi siswa lainnya. Banyak mahasiswa memilih sekadar lulus daripada menjadi profesional terpandang. Mereka kuliah sekadarnya, sekadar agar tidak diberhentikan dan sekadar lulus aja. Sehingga saat menjadi PNS pun sekadar menjadi pegawai dan merasa aman.

Inilah akibat jangka panjang dari mental play to not lose. Kita seharusnya mulai khawatir jika ini terjadi. Seharusnya apa yang kita lakukan sebagai pendidik dan orangtua menjadikan anak untuk bermental play to win (bermain untuk menang) dan bukan play to lose (bermain untuk kalah)Bahkan, play to not lose (bermain untuk tidak kalah) pun sebisa mungkin kita hindari.

  1. Peraturan yang tidak pernah ditegakkan.

Menegakkan peraturan merupakan bagian terpenting setelah peraturan itu dibuat. Jika tidak konsisten, ada akibat buruk yang muncul dalam persepsi seorang anak atau siswa.

Peraturan yang sering dilanggar akan menghilangkan kepercayaan terhadap peraturan itu sendiri. Jika ada anak yang melanggar peraturan kemudian lolos dan tidak mendapatkan konsekuensi atau hukuman, maka anak yang lain akan belajar dari hal tersebut.

Bagi anak yang mengetahui pelanggaran tersebut, akan muncul keraguan dan tanda tanya, kenapa tidak mendapatkan hukuman?. Ini bisa memunculkan peluang bagi dirinya untuk, suau saat, juga ikut melanggar. Bagi yang melanggar, muncul anggapan bahwa peraturan ini boleh dilanggar dan tidak akan terjadi apa-apa. Banyaknya warga yang menerobos lampu lalu lintas merupakan bagian kecil contoh atas hal tersebut.

Apa akibatnya? Ketika usia sekolah, seorang anak sedang membangun diri dan perkembangan dirinya. Sekolah yang memiliki peraturan namun tidak pernah ditegakkan, akan berdampak negatif bagi anak. Dia bisa saja menjadikan kondisi ini sebagai referensi sikapnya terhadap kondisi apapun nantinya.

Bayangkan jika ini banyak terjadi dan dalam waktu yang lama, maka kesadaran hukum dan kepercayaan terhadap hukum akan semakin hilang.

Ketika kita harus memilih antara memperkuat kelemahan atau memupuk kekuatan/kelebihan, pertimbangan manfaat jangka panjanglah yang harus menjadi pilihan utama. []

 

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.