5 Hal Ini Akan Membunuh Motivasi Siswa

pembunuh motivasi kqed.org
pembunuh motivasi kqed.org

Oleh: Ali Fauzi

Keinginan belajar siswa, terutama anak SD, lebih banyak ditentukan oleh faktor eksternal. Ada anak yang sudah senang belajar sejak dari rumah. Namun masih sangat banyak yang perlu dimotivasi agar mau belajar.

Kenapa setiap anak perlu dimotivasi?

Kebanyakan, siswa berangkat ke sekolah hanya ingin belajar. Kadang-kadang mereka tidak mengerti dan tidak tahu cara belajar yang baik. Mereka hanya siap menerima dan mendapatkan ilmu. Lantas kenapa ada siswa yang rajin dan ada siswa yang kurang rajin? Bahkan, ada siswa yang enggan berangkat ke sekolah?

Kita harus ingat bahwa setiap anak senang dengan belajar. Mari kita mengingat seorang anak kecil di usia 3, 4, atau lima tahun yang selalu ingin bertanya kepada orang dewasa tentang banyak hal. Jika orang dewasa menjawabnya dengan cara yang tidak baik atau bahkan meresponnya dengan kemarahan saat anak bertanya, maka hilanglah keasyikan bertanya pada diri anak.

Di sekolah juga sama, ada beberapa hal yang bisa membunuh motivasi anak. Padahal, Kita harus menjaga motivasi setiap anak yang ingin belajar agar mereka bisa berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Inilah 5 hal yang dapat membunuh motivasi siswa di sekolah:

 

  1. Sulitnya memahami materi

Setiap anak mampu memahami materi baru. Perbedaan terletak pada kecepatan dalam memahami. Perbedaan ini lebih kepada faktor cara belajar siswa. Ada siswa yang cepat paham ketika pelajaran dilengkapi dengan praktik. Ada juga siswa yang sangat cepat paham ketika hanya mendengarkan penjelasan guru.

Meskipun demikian, ada beberapa penyebab mengapa anak mengalami kesulitan dalam memahami materi belajar.

a. Materi tidak disampaikan dengan bahasa anak sehingga tampak sangat rumit bagi anak.

b. Ada tahapan yang terlewati.

Anak kelas 5 SD, misalnya, ketika akan mempelajari materi bilangan pecahan maka dia akan sangat kesulitan jika dia belum hafal perkalian dan belum bisa pembagian. Maka, tahapan setiap kelas harus terpetakan dengan baik.

c. Langkah-langkah dalam belajar tidak sistematis. Memulai belajar dari cara yang termudah kemudian ke tingkat yang sedang hingga ke tingkat yang rumit bisa memudahkan siswa dalam belajar.

d. Tujuan belajar terlalu banyak dalam satu pertemuan. Bukankah lebih baik anak memahami dan menguasai tiga materi daripada anak melewati sepuluh materi tapi tidak satupun yang dia pahami. Di sinilah kepintaran seorang guru dibutuhkan dalam mengelola target kurikulum. (baca: Belajar=Melatih Berfikir, Bukan Belajar=Menghafal Materi)

 

  1. Tes yang terlalu banyak

Jika setiap hari ada tes dan tes tersebut masuk dalam penilaian, maka bisa saja membuat anak stres. Memang, ada anak yang memiliki kesungguhan belajar dan selalu menyiapkan diri untuk tes, namun jika porsi yang diberikan berlebihan maka bisa saja kegairahan belajar terbunuh oleh nilai yang kurang bagus dalam tes.

Yang lebih memprihatinkan adalah ketika muncul anggapan pada diri siswa bahwa tujuan belajar adalah untuk menyelesaikan soal-soal ulangan saja. Dengan demikian, anak tidak mengerti apa manfaat dan kegunaan belajar dalam kehidupan sehari-hari. (baca juga: Tujuan Belajar Yang Sesungguhnya)

 

  1. Tidak ada kesempatan memperbaiki

Kesalahan dalam belajar adalah sesuatu yang baik. Dengan kesalahan yang dilakukan, anak akan belajar tentang usaha yang lebih baik, belajar tentang cara yang lebih tepat, dan belajar untuk memperbaiki.

Jika kesempatan untuk memperbaiki hasil tes tidak disediakan, maka anak akan menganggap bahwa dirinya harus selalu benar. Padahal, orang dewasa sekalipun tidak mampu melakukan hal tersebut. (baca: Cara Yang Sangat Bagus Dalam Membantu Prestasi Siswa)

Remedial adalah hak siswa. Mari kita yakinkan setiap anak bahwa ada tes yang bisa mereka perbaiki jika hasilnya kurang bagus, namun juga ada tes yang mereka tidak memiliki kesempatan untuk memperbaikinya.

 

  1. Cara mengajar yang membosankan

Ini faktor penting. Anak yang ingin belajar membutuhkan cara belajar yang baik. Ketika mereka belajar tentang cara belajar (learn how to learn) dan mendapatkan pengalaman yang terus membosankan dalam belajar, maka menurut mereka belajar itu membosankan.

Ada beberapa faktor yang menjadikan proses belajar menjadi membosankan bagi anak.

a. Terlalu banyak “ceramah”

Ceramah berbeda dengan mendongeng atau bercerita. Metode “ceramah” yang dimaksudkan disini adalah menyampaikan materi belajar melulu menggunakan lisan. Tanpa praktik, tanpa diskusi, tanpa tanya jawab, dan tanpa mencoba.

b. Materi tidak update

Boleh saja materinya memang tidak update, akan tetapi menghubungkan dengan kondisi kekinian adalah hal mutlak yang harus kita lakukan sebagai seorang guru. Ingat contextual teaching and learning.

c. Mengajar dengan cara yang monoton. (baca : Cara Mencipatakan Satu Bulan Pertama Yang Wow Di Sekolah)

 

  1. Kurangnya perhatian

Kadang-kadang ada anak yang berpikiran seperti ini,

Mereka, para guru, menginginkan kita berperilaku seperti orang dewasa, namun memperlakukan kita seperti anak kecil.

Jika kita tidak memberikan perhatian sama sekali kepada anak, maka anak merasa kehadirannya tidak penting dan tidak dibutuhkan. Perhatian yang sedikit pun bisa membuat anak kesulitan melepaskan masalah yang mereka hadapi.

Maka, mendampingi anak secara emosional akan memberikan dampak yang sangat positif bagi perkembangan emosional dan mental anak-anak.

 

 

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.