Untuk Orangtua; Beranikah Ambil Rapor Anak Tanpa Bertanya Ranking?

ranking kelas | honolulumagazine.com

oleh: Ali Fauzi

Kalau merasa sulit menahan untuk tidak bertanya peringkat, maka itu adalah kewajaran. Barangkali, kita tumbuh pada zaman dimana satu-satunya ukuran kesuksesan adalah peringkat di sekolah. Saat ini, tidak salah jika kita mulai mengubah mindset itu. Toh, zaman juga sudah jauh berubah.

Robert T Kiyosaki pernah mengungkapkan bahwa siswa yang hebat di kelas atau “siswa unggulan akan berhasil jika bermain aman di zona yang nyaman. Namun, begitu mereka memasuki dunia yang bertempo cepat dan sangat kompetitif, kemampuan mereka tidak terlalu berarti”.

Mari memberanikan diri untuk tidak bertanya peringkat dalam arti tertentu, yakni peringkat dan hasil belajar sebagai perolehan nilai semata. Mari mulai berani mengubahnya!

Mari mengganti pertanyaan dari persoalan peringkat menjadi pertanyaan tentang capaian karakter anak! Misalnya,

Apakah anakku sudah mulai bisa bergaul dengan semua temannya di sekolah?

Apakah anakku sudah berani mengambil risiko?

Bagaimana sikap anakku terhadap hal-hal baru?

Apakah anakku memiliki rasa ingin tahu yang besar?

Apakah anakku bisa memimpin teman-temannya?

Apakah anakku sudah bisa bertanggungjawab terhadap barang-barang miliknya sendiri?

Apakah anakku sudah bisa antre?

Bagaimana sikapnya di sekolah ketika marah?

Apakah anakku bisa menghargai temannya yang berbeda?

Dalam berteman, anakku tergolong aktif atau pasif?

Apa minat terbesar yang dimiliki anakku?

Apakah anakku mampu berkata jujur?

Ketika bermain, mampukah anakku beradaptasi dengan baik?

Bagaimana tanggung jawab anakku terhadap dirinya sendiri dan sikapnya?

Apakah anak saya bisa disiplin?

Dan seterusnya.

Sungguh, tidak banyak manfaatnya, jika bertanya ranking dengan tujuan membanggakan dan memamerkannya kepada orang lain. Terlebih lagi, jika nilai dan peringkat kita jadikan sebagai ukuran untuk memberikan hukuman atau makian kepada anak.

Sekali lagi, ada yang lebih bermanfaat dari itu semua.

Tidak salah jika ada orangtua yang menjadikan ukuran nilai dan peringkat sebagai kesuksesan anaknya di sekolah. Setiap orangtua dan setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda dalam mendidik anak. Setiap orangtua juga selalu memilih cara terbaik untuk mendidik anaknya.

Hal ini akan menjadi persoalan, jika orangtua menganggap anaknya sama dengan dirinya waktu kecil yang harus dididik dengan cara yang sama pula. Mari mulai berani berpikir untuk mencari cara yang lebih baik dalam mendampingi anak-anak kita.

Kalau menjadikan nilai dan peringkat di sekolah sebagai satu-satunya ukuran kesuksesan, maka ada beberapa risiko yang harus kita terima. Kecuali, jika di sekolah tersebut sudah menerapkan penguatan proses pembelajaran yang aktif, kreatif, aplikatif, dan, menyenangkan.

Jika tidak, siswa unggulan di sekolah biasanya berpikir bahwa melakukan kesalahan itu buruk dan menunjukkan kebodohan. Maka, mereka menghindari risiko.

Dalam buku Lives Of Promise: What Becomes Of High School Valedictorians, Profesor Arnold menyampaikan hasil penelitiannya bahwa siswa yang unggul akademis saat sekolah “mungkin tidak mengubah dunia, mereka menjalankannya dan menjalankannya dengan baik”, “mereka paling baik bekerja dalam sistem, dan kemungkinan tidak mengubahnya”.

Tidak rugi untuk berubah lebih baik.

 

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

1 Comment

  1. Sebenarnya pesan orangtua “jangan bikin masalah di sekolah”, menjadi sebuah dinding keberanian siswa. Bahkan begitu besarnya dinding itu sehingga membuat siswa berfikir dua kali untuk melangkah. Apakah ini sebuah masalah atau itu akan jadi masalah?

    Padahal kesuksesan siswa dimasa depan justru ditentukan bagaimana cara siswa / anak menyelesaikan masalah (menghadapi saja tidaklah cukup).

    Jadi “tidak rugi untuk berubah lebih baik”, karena pendidikan paling dasar dari keluarga. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.