Kisah “Siswa SD” Berusia 39 Tahun

ilustrasi || sumber gambar : mendozapost.com

Oleh: Ali Fauzi

Seorang guru, suatu siang di waktu istirahat sekolah, sambil menikmati tahu goreng bercerita tentang rumitnya mendidik anak. Di ruang guru, mereka biasa ngobrol ngalor ngidul. Terlebih jika ada murid yang kemauannya melebihi kemampuannya.

Jika seorang anak memiliki kemauan melebihi kemampuannya, maka itu percikan sukses yang tidak boleh diabaikan. Tidak perlu latah membatasi dengan kata-kata yang membunuh. “kamu belum waktunya belajar itu”, “Jangan tanya yang macam-macam”, “pelajari ini saja, jangan lebih!”, “jangan sok tahu!”, dan sebagainya.

Sambil nyeruput teh hangat, guru tersebut bercerita tentang perilaku murid yang dia hadapi.

Dia bercerita tentang muridnya yang sangat detail tentang tugas, terutama tugas di rumah atau PR. Setiap tugas di rumah dikerjakan nyaris sempurna untuk ukuran anak SD. Mungkinkah faktor usia membuatnya khawatir berlebih dan takut gagal?

Di sisi lain, ketika tugas tersebut tampak rumit, murid tersebut tak segan-segan memprotes guru. Cara protesnya cukup baik. Sangat jarang menunjukkan protes berlebihan di hadapan murid-murid lain. Di hadapan umum, dia mampu menjadi contoh yang baik. Tempat protes favoritnya adalah media sosial bernama whatsapp.

“Di Whatsapp (di media sosial lain juga), dia sangat agresif dan galak. Kata-kata tidak sopan mengalir tanpa hambatan. Sopan santun sudah dilupakan”.

Sang guru tarik napas sejenak. Itulah alasan kenapa sang guru berbagi cerita. Ada perilaku yang membutuhkan perhatian. Pantang bagi guru untuk mengeluh dalam mendidik anak. Kalau seorang guru bercerita tentang kesulitan dalam mendidik, maka kemungkinannya hanya dua.

Pertama, berbagi pengalaman agar mendapatkan pengalaman lain yang lebih bagus dari rekannya. Kedua, melepaskan beban sebentar untuk mengangkatnya kembali dengan tenaga lebih besar. Niat-niat lain hanyalah tambahan. Bisa perlu bisa tidak.

Pernah suatu siang, murid tersebut tidak menyelesaikan tugas tepat waktu akibat bercanda dengan teman. Ketika saya peringatkan, dia membalas dengan pelototan. Saya pun menghampiri, memegang tangannya untuk mengajaknya berbicara. Dia tetap berontak dan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Bahkan, dia melawan dan mengajak guru tersebut berkelahi. Emosinya mudah sekali tersulut.

Sang guru tidak mungkin menunjukkan sikap membalas keburukan dengan keburukan. Tugas seorang guru adalah menunjukkan cara yang tepat dan bijak ketika menghadapi perilaku yang tidak baik. Dia juga sudah berpengalaman dilaporkan ke pihak berwajib. Dan dia tidak ingin mengulanginya lagi. Tentu bukan karena kapok, tapi ingin menghentikan pertunjukan cara menyelesaikan masalah dengan cara yang tidak pantas.

Sang guru hanya berpikir, sedemikian kuatkah pengaruh pergaulannya dengan orang-orang dewasa sehingga dia melupakan usia belajar seorang anak. Membuatnya lupa bahwa belajar itu bukan hanya belajar menegakkan harga diri, melainkan juga belajar mengendalikan emosi, belajar berbagi, peduli, dan belajar memahami orang lain.

Apakah hanya karena alasan usia dan seolah-olah tahu banyak hal, maka dia berhak melawan siapapun dengan alasan HAM, kebebasan, dan bahkan alasan uang. Karena sudah membayar untuk sekolah, maka dia berhak mendapatkan segalanya.

Sembari minum teh, guru lain menimpali “Dia lupa ungkapan bahwa guru adalah ahlinya di sekolah, orangtua adalah ahlinya di rumah”.

Tidak berhenti di situ saja, kawan. Sang guru buru-buru menambahkan. Dia sering mengintimidasi. Kadang langsung, kadang melalui kepala sekolah, bahkan tidak jarang langsung ke pemilik sekolah. Hingga suatu ketika, sekolah memutuskan untuk memanggil dan menghadapinya. Kita ajak bicara baik-baik untuk mendengarkan apa yang menjadi keinginannya.

“Apa yang menjadi keinginanmu sehingga engkau bersikap seperti itu?”, tanya kepala sekolah dengan lembut.

Dia mulai menunduk, dan sesaat kemudian mengangkat kepalanya sambil menarik nafas panjang. Kami semua siap mendengarkan.

“Masa kecil saya kurang bahagia. Saya sering menerima kekerasan baik fisik maupun mental. Saya ingin anak saya bahagia. Saya ingin anak saya aman dan terlindungi. Sebagai orangtua murid, saya juga ingin yang terbaik buat anak saya. Jika cara saya salah, mohon diingatkan.”

Ya, dia bukan siswa SD. Dia adalah orangtua murid yang peduli dengan pendidikan anaknya.

Namun, sayang, tampaknya dia lupa bahwa yang bersekolah adalah anaknya. Yang belajar adalah anaknya. Karena lupa, maka orangtua sering sibuk mengerjakan tugas anaknya. Sibuk menyiapkan segalanya agar anaknya tidak capek. Sibuk protes bahkan menghujat sekolah atau guru. Sangat emosional ketika anaknya bercerita tentang teguran guru kepada dirinya. Sehingga lebih percaya anak ketimbang guru. Sehinggal muncul intimidasi, kekerasan verbal, dan tak jarang berbuah pelaporan.

Wahai orangtua, janganlah berperan lagi menjadi siswa sekolah dalam tubuh dan emosi orang dewasa. Jika pun ingin peduli, tunjukkan sikap yang pantas ditiru oleh anak. Berikan kasih sayang yang menumbuhkan kebaikan. Setiap respon dan cara kita menyelesaikan masalah akan dilihat, direkam, dan kelak bisa saja ditiru oleh anak-anak kita.

Setiap anak selalu belajar dari apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dialaminya. Mulai sekarang, bertanyalah dalam diri,

“Jika aku bersikap demikian, apa yang akan dipelajari anakku? Bagaimana perasaan orang lain? Dan hal baik apa yang didapat oleh anak?”

 

Salam.

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.