Guru Dan Gaji

Fotografer : jali the zebra di flickr.com

Seorang konsultan di sebuah manajemen berkelas internasional memutuskan untuk mundur dan beralih profesi menjadi guru. Dalam pengakuannya di minggu pertama, dia berkata,

“Dalam satu minggu, gaji saya berubah dari

‘Yang benar saja? Saya dibayar sebanyak ini?’

menjadi

‘Wah! Bagaimana mungkin seorang guru memenuhi kebutuhannya?’

 

Dua orang teman, sambil ngopi menunggu orderan ojek online, berbagi kisah.

A : Lihat nih, sambil menunjukkan sebuah gambar dengan dua frame bertuliskan

“Dibayar mahal untuk merusak akhlak anak-anak.”,

dan

“dibayar murah dituntut untuk memperbaiki karakter dan akhlak anak-anak”

B : Bener banget. Kita ‘berkeringat’ membangun fondasi akhlak yang baik, mereka kaburkan dengan ukuran yang berbeda. Tapi, santai saja kawan. Hidup itu yang penting cukup.

A : Sebagai guru sekolah swasta ternama, bapak bisa saja mengatakan cukup. Saya, hanya guru honorer. Untuk bayar listrik dan transport setiap hari saja masih kurang. Belum cicilan motor, jajan anak, dan lain-lain. Bahkan, saudara saya yang di kampung, lebih memprihatinkan lagi.

B : Tapi masih cukup kan?

A : Alhamdulillah…

B : Itulah hebatnya seorang guru. Orang-orang menyebutnya sebagai berkah. Kadang-kadang dianggap keajaiban. Bayangkan, gaji hanya 400ribu, mampu menghidupi dua anak, bayar cicilan, uang saku sekolah anak, dan lain-lain, dan hebatnya lagi biasanya masih bisa menyimpan.

A : Itu kan pinter-pinternya kita aja yang atur. Kalau tidak, mau makan apa keluarga kita? Belum lagi, kadang-kadang gak dibayar dua bulan karena BOS belum turun.

B : Sudut pandang seorang gurulah yang hebat. Ketika memutuskan menjadi guru, maka cara melihat uang dan harta telah berubah. Lebih spesifik lagi, caranya menjadi bahagia telah meningkat. Jika masih banyak orang yang menggantungkan kebahagiaan pada harta, maka guru tidak. Ya, tidak bergantung pada besarnya harta saja, melainkan lbih kepada nilainya. Selain memang begitu seharusnya, yang “buat gantungan” juga nggak ada. Hehe…. bercanda dul…

A : Maksudnya? Kita harus bahagia-bahagia aja dengan gaji segitu?

B : Iya. Guru harus bahagia. Lihatlah guru, alih-alih memakai sepatu mahal, handphone mahal, dan apalagi berlian yang mahal. Guru cukup melihat fungsi, kenyamanan, dan kepantasan terhadap barang. Bahkan, sepatu karet pun sudah cukup asalkan nyaman untuk berjalan, berdiri lama, dan pantas dilihat. HP juga standar. Guru telah meningkat dalam memaknai bahagia. Tidak lagi tergantung pada bagusnya materi.

A : Tetanggaku, guru juga. Tapi di provinsi *$*. Kayaknya gajinya gede. Jalan-jalan terus setiap minggu, punya mobil. Sama kayak temennya temenku. Dia di sekolah swasta yang mapan. Eh…. PNS kayaknya juga besar gajinya. Apalagi kalau sudah sertifikasi.

B : Memang, ada beberapa daerah yang memberikan gaji besar buat guru. Juga sekolah swasta tertentu. Mereka bisa melihat bahwa ujung tombak pendidikan adalah guru.  Maka, membahagiakan dan menyejahterakan guru merupakan bagian penting memperbaiki kualitas pendidikan. Tapi belum semua.

A : Itu dia. Seolah-olah kita dipandang serba cukup. Padahal, saya setiap hari berfikir untuk mencari tambahan agar dapur tetap mengepul. Di tempat saya mengajar, ada yang pulang sekolah langsung “narik” ojek online, termasuk saya. Ada yang langsung jualan di pasar. Ada yang calo tanah. Ada yang les ke rumah-rumah. Masih banyak lah yang lain. Sekarang bandingkan dengan seorang penjaga toko yang hanya lulusan SMA saja, gaji saya kalah jauh.

B : Tapi tetap ikhlas, kan, jadi guru?

A : Begini ini, bang. Bahas gaji, guru dianggap tidak ikhlas. Kalau bahas gaji berarti pamrih, padahal guru harus tanpa pamrih. Seolah-olah, hanya profesi guru yang paling tidak boleh membahas gaji. Profesi lain, apapun bentuknya, dianggap pantas membahas gaji sampai rela turun ke jalan.

B : Bukan begitu, kawan. Saya hanya tanya, bapak tetap ikhlas jadi guru,