Jika Kepala Sekolah Tidak (Hadir) Memimpin

kepemimpinan || ywln.org

Oleh: Ali Fauzi

Selalu menarik ketika ngobrol dengan rekan guru di luar sekolah kita. Pengalaman tak terduga bisa muncul dari guru PNS sekolah negeri, guru honorer, juga guru sekolah swasta.

Kali ini, petikan kecil dari obrolan adalah tentang kepemimpinan kepala sekolah.

Semua kepala sekolah selalu bertanggungjawab terhadap tugasnya. Itulah kesimpulan obrolan kami. Hanya saja, gaya dalam memimpin sangat beragam. Ada yang sangat detail dan disiplin di semua bagian. Ada yang sangat longgar dan memberikan kebebasan kepada guru-gurunya untuk “bereksplorasi”. Kadang-kadang saking longgarnya, kehadirannya pun menyesuaikan kebutuhan tanda tangan.  Ada juga, kepala sekolah yang lebih rajin rapat dinas ketimbang hadir di sekolah. Dan sebagainya.

Perbedaan gaya itulah yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap proses pendidikan dan belajar mengajar di sekolah.

Perbedaan cara memimpin disebabkan oleh banyak faktor. Ada faktor “TERLALU”. Ya, terlalu tua atau terlalu muda. Di mata guru muda, yang terlalu tua kadang kurang sigap mengikuti gaya berpikir guru muda. Kurang siap dalam perubahan teknologi administrasi. Tidak punya visi.  Yang terlalu muda sering tidak menyesuaikan dengan tradisi lama. Asal pukul dan eksekusi. Tidak paham tentang stabilitas dan pengalaman mengajar. Ada juga faktor keadilan, dll.

Jiwa raga kepala sekolah sangat dibutuhkan. Hadir secara fisik di sekolah juga hadir dalam menyelesaikan tantangan dan masalah kependidikan. Mulai dari masalah belajar siswa, sikap siswa, protes orangtua, sikap rekan-rekan guru, masalah kedinasan, kunjungan misterius wartawan, hingga masalah kantin sekolah.

Jika kepemimpinan kepala sekolah tidak hadir, maka apa yang harus kita lakukan? Bukan fisiknya, melainkan kepemimpinannya yang seperti tidak ada. Nyatanya, di beberapa sekolah masih ada fakta ini.

Pertama, ingatlah bahwa tujuan kita adalah MENDIDIK ANAK.

Fokuslah kepada siswa. Teruslah mengingat bahwa kehadiran kita ke sekolah bukan karena tugas atau karena kepala sekolah. Kita hadir karena ingin mendidik, mengajarkan pengetahuan di kelas, membuatnya senang belajar, mengobarkan api rasa ingin tahu, dan membentuk karakter baik anak-anak.

Tetaplah fokus untuk membuat perbedaan dalam hidup anak-anak kita. Untuk memancing keluar kemampuan terbaik anak-anak kita. Juga, untuk membuatnya selalu tersenyum dalam proses belajar.

Siswa membutuhkan guru untuk bisa berkembang dan belajar. Merekalah tujuan kita ke sekolah.

Kedua, stabilkan emosi diri.

Jika ada kepala sekolah yang acuh terhadap guru-gurunya, perkembangan murid, bahkan jarang hadir secara fisik, maka tetaplah tenang.

Kondisi ini menggoda kita untuk semaunya sendiri dalam mendidik dan mengajar anak didik kita. Kondisi ini juga sangat nyaman untuk bersikap acuh terhadap lingkungan sekitar kita. Misalnya, mengajar ala kadarnya, hadir di kelas sesuka hati, tidak peduli terhadap perilaku siswa, dan lebih asyik terhadap aktivitas pribadi.

Kondisi ini juga memancing kekecewaan, ingin protes, dan menggoda kita untuk membahasnya di “belakang”. Ingat, tetap jaga kestabilan emosi. Kalau mau membahas, pilihlah bahasa yang positif. Misalnya, dari pada berkata. “pemimpin baru ini tidak punya arah dan visi yang jelas”, pilihlah kata-kata, “pemimpin baru sedang belajar memahami keadaan dan sedikit mengalami kesulitan. Apa yang bisa kita bantu ya?”. Lihat, kalimat yang satu bersifat menyerang, sedangkan yang satu lagi bersifat membantu.

Tetaplah bersikap positif. Meski tidak mudah. Tahanlah lidah, emosi, dan amarah. Kepala sekolah tetaplah pemimpin. Tugas kita membantunya mewujudkan cita-cita pendidikan yang luhur. Membantunya menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi anak. Kemudian, bergabunglah dengan rekan guru yang masih sibuk dan senang mendidik anak.

Tunjukkan profesionalitas kerja. Buatlah model kepemimpinan yang kuat dan komunikasi yang sehat di kelas. Teruslah pengaruhi anak-anak untuk selalu senang belajar, senang berbuat baik, berkata yang santun, dan senang berteman dalam perbedaan.

Yakinlah bahwa senyuman anak-anak ketika belajar bersama kita akan memengaruhi anak lain untuk ikut belajar lebih baik.

Sekali lagi, fokuslah bahwa tujuan kita adalah untuk membuat setiap anak bisa berkembang dan belajar menjadi lebih baik.

Salam. www.sejutaguru,com

 

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

2 Comments

  1. Dua pernyataan ini sangat reflektif bagi guru kampung seperti saya.

    Pertama tujuan kita adalah MENDIDIK ANAK.
    Kedua Siswa membutuhkan guru untuk bisa berkembang dan belajar. Merekalah tujuan kita ke sekolah.

    Salut, terima kasih telah berbagi kisah inspirasinya pak. #banggajadiguru

Leave a Reply

Your email address will not be published.