Pendidikan Karakter; Membatalkan Pembelajaran

Pendidikan karakter

Oleh: Ali Fauzi

Bel masuk setelah istirahat telah berbunyi. Gelombang anak bergerak menuju kelas. Ada yang berlari, jalan santai, dan bahkan jalan mundur sambil bercanda dengan teman ketika mereka bergerak masuk ke kelas masing-masing.

Saat itu aku membawa timbangan meja dan lima kantong plastik yang isinya berbeda-beda. Ada kacang hijau, beras, tepung, gula, dan kerupuk. Semua dengan ukuran berat yang berbeda. Ya, kami akan belajar tentang satuan berat.

Untuk mengenal berat benda, anak-anak harus langsung merasakan berat benda dengan tangan dan otot mereka sendiri. Kalau anak-anak belajar berat benda hanya dari papan tulis dan buku, bisa jadi mereka hanya akan mengenal nama saja. Bahkan seringkali mereka tidak tahu manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari.

Belum juga mengucap salam, seorang anak mendekatiku dan menarik bajuku untuk menunduk. Aku pun jongkok di hadapannya. Wajah layu itu segera membisikkan sesuatu, lantas menarikku untuk mengikutinya. Di situlah tampak penyebab layunya wajah anak tersebut.

Setelah semua duduk rapi untuk belajar,

“Ada yang bisa bantu bapak menjawab, kenapa di sini ada air tumpah?”

“Itu pak, botol minum Siti jatuh dan pecah”, jawab salah satu dari mereka.

“Pecah…? kenapa bisa pecah?”, tanyaku.

Mereka diam dan hanya menjawab “tidak tahu”, dan jawaban lainnya adalah “jatuh”. Kata-kata itu bersautan. Aku pun langsung menimpali, “ada yang tahu, apa atau siapa penyebab jatuhnya botol minum Siti?”. Aku terus menunggu sambil mengamati mereka. Lima menit berlalu, sampai sepuluh menit.

Saat itu juga, keputusan harus aku ambil. Aku memutuskan untuk tidak menyampaikan materi tentang satuan berat. Anak-anak harus belajar tentang hal yang lebih penting, yaitu karakter jujur.

Kami membahasnya perlahan-lahan. Tanpa tuduhan dan tanpa ancaman. Anak-anak harus mengerti akibat baik dan buruk jika keadaan seperti kejadian di atas tidak ada yang mengakui. Ya, akibat bagi Siti sebagai pemilik dan akibat bagi orang lain. Anak-anak juga harus betul-betul menyadari bahwa setiap tindakan dan ucapan kita memiliki akibat bagi orang lain dan diri sendiri.

Anak-anak harus belajar bertanggung jawab terhadap Tuhan, diri sendiri, dan orang lain.

Aku sengaja menghindari tuduhan. Ingat, tuduhan yang serampangan dan tidak memiliki bukti yang kuat justru akan mencetak anak untuk berbohong lagi dan lagi. Tidak hanya itu, aku juga membangun suasana nyaman dan selalu meyakinkan anak-anak bahwa mengakui kesalahan itu sangat mulia dan tidak perlu malu.

Aku terus mengalirkan dialog tentang pentingnya karakter jujur. Tanya jawab dan saling berpendapat terus aku lakukan. Satu hal yang tidak boleh aku lupakan adalah tetap harus memberikan porsi yabg lebih besar kepada anak untuk mengeluarkan isi hati dan pikirannya.

Ketika waktu tersisa lima menit, aku menutup dengan kalimat berikut,

“Jika ada di antara kalian yang menjatuhkan botol minum Siti dan kalian malu mengakuinya, kalian boleh ngomong secara pribadi ke bapak. Dan bapak akan merahasiakannya. Jika ngomong pun malu, silakan tulis di selembar kertas dan berikan ke bapak.”

Aku pun mendekati Siti dan mengajaknya berbicara memberikan solusi tentang botol minumnya. Siti bisa menerima dan tersenyum kembali.

Menanamkan karakter pada anak harus sesegera mungkin dan menjadi prioritas utama. Jangan menunda dan mengatakan, “ah, namanya juga anak-anak”. Lubang kecil yang kita biarkan akan membesar dan kita akan merasa kesulitasn untuk menambalnya jika terlambat memulai.

 

Terimakasih

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.