Cerdas Emosi; Diary Anak Pengubah Orangtua

Pendidikan emosi anak || sumber gambar : tempo.co

Oleh: Ali Fauzi

Inilah pengalaman nyataku.

Gadis itu masih kelas 5. Dia tidak segan-segan bergabung dengan siapapun yang sedang asyik bermain. Langkahnya begitu ringan untuk berteman. Kata-katanya juga membuat temannya merasa nyaman. Bahkan, saat sendiri, tangannya sering ditarik-tarik utk bermain baersama.

Bagiku, dia adalah pribadi unik. Tubuhnya sangat ringan dalam dua sisi. Geraknya untuk bermain dan bergembira sangat lincah, namun sering juga aku melihat langkah cepatnya untuk menyendiri. Mungkin, bagi teman-temannya dia sedang belajar. Kalau aku yang melihat matanya, dia berada sangat jauh di kedalaman hatinya.

Bola mata itu mengarah pada buku yang terbuka, tapi pikiran dan hatinya melayang jauh entah kemana. Itu terlihat ketika bola mata tak bergerak  pada satu titik sampai hitungan menit.

Membangun emosi dengan anak didik selalu menjadi prioritasku. Sampai saat ini aku berkeyakinan bahwa anak akan belajar lebih masksimal dengan guru yang mereka merasa nyaman berada di dekatnya atau paling tidak pada yang mereka percayai. Itulah yang membuatku menerapkan strategi ini.

“Anak-anak, bapak meminta hari Rabu kalian membawa satu buku tulis kosong”.

Rasa penasaran anak hanya aku jawab dengan senyuman dan jawaban-jawaban ringan. Aku yakinkan mereka bahwa buku itu akan menjadi buku yang sangat penting.

Hari Rabu.

“Anak-anak. Bapak meminta kalian untuk duduk tenang. Ingatlah peristiwa yang paling membahagiakan dalam satu hari ini, satu minggu ini, atau satu bulan ini. Kapan saja. Ingatlah juga hal yang paling menyedihkan yang kamu alami. Apapun yang kalian ingat, silakan kalian tulis di buku kosong kalian. Buku yang hanya kalian sendiri dan Allah yang tahu. Itulah buku catatan rahasia kalian.”

Aku meyakinkan kembali bahwa, “kalian hanya perlu memulai dengan tanggal, kemudian menuliskan sesuatu yang membuat kalian bahagia, dilanjutkan dengan sesuatu yang membuat kalian sedih, dan ditutup dengan keinginan kalian yang belum terpenuhi”.

Ya, itulah latihan anak-anak dalam mengenali emosi dan perasaannya. Mereka berlatih dengan cara menulis buku catatan harian. Awalnya, seminggu dua kali dan aku membolehkannya jika ada yang ingin mengisinya setiap hari.

Setiap anak jika mendapatkan perlindungan atas apa yang dia rasakan, maka dia akan membuka diri seluas-luasnya. Buku catatan harian adalah tempat curhat tanpa ada yang menghakimi, tanpa ada tekanan, tidak ada penilaian, dan bebas.

Suatu ketika, beberapa orang sering lupa membawa buku catatan harian yang harus diisi dua kali dalam seminggu. Aku pun menyediakan satu loker berkunci untuk menyimpan buku itu di sekolah. Dan anak-anak percaya untuk menyimpannya di sekolah.

Dua bulan menjelang akhir tahun pembelajaran, aku menyisihkan waktu untuk membaca buku catatan harian anak-anak. Kejutan berkali-kali yang aku dapat. Tentang ekspresi diri, rasa suka, ungkapan emosi, dan harapan setiap anak yang berbeda-beda.

Sampailah aku pada anak yang selalu menulis tentang orangtuanya. Dia merasakan kepedihan saat melihat orangtuanya beradu mulut hampir setiap hari, saling menghina, dan saling caci. Dia menuliskan alasannya kenapa sering terlambat datang ke sekolah. Lagi-lagi, konflik orangtua penyebabnya. Bahkan, dia menulis bahwa ibu beserta dirinya pernah diturunkan paksa dari mobil di pinggir jalan akibat perang mulut.

Dia pun tak pernah lupa menutup catatan dengan harapan kepada kedua orangtuanya.

Aku menimbang satu kali, puluhan kali, dan bahkan ratusan kali untuk mengambil keputusan agar salah satu orangtuanya membaca. Aku hitung segala macam risiko, mengukur akibat dan manfaat, hingga mematangkan cara dalam menyampaikan ke orangtuanya.

Saat pembagian rapor, aku pun menyerahkan foto copyan buku catatan harian anaknya. Dengan mengukur cara yang matang dan tanpa menyinggung, maka sampailah buku itu di tangan orangtuanya.

Begitu tahun pelajaran baru dimulai dan anak tersebut berada di kelas berikutnya, aku secara diam-diam mengamatinya saat datang ke sekolah. Kini, dia tersenyum memasuki gerbang sekolah karena diantar oleh kedua orangtuanya yang sudah saling senyum dan berpandangan bahagia.

Aku berpaling dan menjauh. Hanya ingin menenangkan diri. Ya, setidaknya ingin merayakan kebahagiaan sendiri sambil menyusun kekuatan menahan bulatan bening di mataku yang hendak jatuh.

Target pertamaku dengan program buku catatan harian adalah agar anak-anak mampu mengenali emosi dan perasaannya, kemudian mampu mengungkapkannya sebelum dia sikapi. Itulah target awalnya, yakni pengelolaan dan pengendalian emosi.

Apa yang kita dapat, bisa jadi lebih atau kurang.

Terimakasih.

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.