‘Mengamputasi’ kebiasaan; Proses Penting Dalam Pendidikan Karakter

mengubah kebiasaan || pixabay.com

Oleh: Ali Fauzi

Aku memulainya dari sebuah “bisikan”.

Tangannya sedang asyik memegang penggaris. Dia berlarian mengintai temannya seolah sedang baku tembak. Dor… dor.. itulah keasyikan bermain tanpa batas bagi anak. Aku mengenalnya sebagai sosok yang tenang, sedikit berbicara, dan senang bermain. Di antara semua keceriaannya, satu yang menarik perhatianku, yaitu kebiasaannya menggigit dasi.

Saat belajar, saat menunggu giliran, atau saat mengerjakan tugas yang agak sulit, tangannya memegang dasi dan langsung masuk mulutnya. Berputar-putar dan digigit sampai basah kuyup. Sungguh, tidak ada yang salah dengan kebiasaan tersebut. Tidak mengganggu belajar ataupun mengganggunya saat berteman dan bermain.

Hanya, sesekali temannya akan meneriakkan, “jijik, jijik, jorok,” dan tangannya langsung mencabut dasi dari mulutnya.

Penelusuran pertamaku terhadap kondisi tersebut adalah jendela psikologi. Banyak sekali alasan kenapa seorang anak memiliki kecenderungan melakukan sesuatu secara berulang-ulang, termasuk kebiasaan menggigit pakaian. Aku juga teringat buku Charles Duhigg, The Power of Habit. Menurutnya, ada lingkaran kebiasaan yang membentuk perilaku manusia; cue (tanda), routine (rutinitas), dan reward (ganjaran).

Setiap anak memiliki kebiasaan yang berbeda dan keunikannya sendiri-sendiri. Setiap aku melihat kebiasaan anak yang perlu mendapat perhatian, aku selalu mencari celah untuk bisa membenahinya. Katrena, kebiasaan merupakan awal mula sebuah karakter terbentuk.

Dan aku, kali ini, memulainya dengan hal yang sangat sederhana, yaitu “bisikan”.

“Jika dasimu selalu kering selama satu hari ini, maka bapak akan memberikan tambahan bintang kepadamu sebanyak tiga bintang”, bisikku kepadanya saat dia sedang sendiri yang kemudian dibalasnya dengan anggukan.

Di kelas, aku menyediakan penghargaan secara kelompok dan individu. Penghargaan berupa bintang prestasi. Saat ini, aku menjanjikannya secara diam-diam untuk bintang individu.

Sejak itu, aku terus memantaunya. Jika biasanya aku hanya melihatnya sesekali, kali ini aku melipatgandakan perhatianku kepadanya. Ketika dia tiba-tiba memasukkan dasinya ke mulut, aku pun menunggu beberapa detik sebelum mengucap namanya. Ketika dasi bertahan beberapa detik dalam mulut, aku memanggilnya dan hanya memberikan senyuman saat dia sudah menoleh ke arahku. Untuk pertama, dia belum paham. Aku pun langsung memegang dasiku sendiri dan mengusapnya. Sejenak dia langsung melepaskan gigitannya. Senyuman hangat menutup sapaanku kepadanya.

Aku merahasiakan kode ini. Aku ingin membantunya tanpa orang lain tahu. Aku ingin mengajaknya bergerak dan berubah tanpa orang lain sadari. Jika beberapa saat tidak bisa memantaunya, aku mendekatinya dan hanya menyapanya sambil memegang dasinya. Tanpa sepatah katapun kecuali namanya.

Hari pertama, sebelum pulang, aku memujinya diam-diam dan aku memberikannya hanya satu bintang. Hari pertama, dia telah berhasil mencegah kebiasaan itu berkali-kali. Aku juga tidak pernah lupa mengevaluasi. Saat jauh dari teman, seolah-olah aku menemaninya berjalan, padahal aku bertanya dengan suara lirih “bisa kan dasimu tetap kering?”.

Dalam proses mendidik, tidak boleh sama sekali lupa untuk memberikan dukungan. Minimal kata-kata “kamu pasti bisa” atau sekadar penghargaan bintang. Dukungan yang baik sangat memengaruhi proses dan hasil.

Alhamdulillah, satu hingga dua minggu proses yang intens akhirnya menghasilkan perubahan yang baik dan keberhasilan. Kami berhasil memutus kebiasaan yang kurang perlu.

Mengamputasi kebiasaan tentu membutuhkan cara. Setiap kondisi memiliki cara yang berbeda. Terkadang, butuh pengganti aktivitas sebelum menghapus kebiasaan lama. Sering juga butuh pengorbanan dan air mata. Ingat, asalkan untuk sesuatu yang pernah disepakati bersama, maka tangisan anak sebenarnya adalah sesuatu yang positif. Dengan catatan tidak ada kekerasan, penuh support, dan hanya konsekuensi saja yang tegas.

Ingatlah prosesnya,

Tunjukkan

Sadarkan

Sepakati tujuan perubahannya

Support maksimal

Lakukan secara kontinyu

Evaluasi

Rayakan keberhasilannya

 

Salam.

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.