Inilah Perubahan Termurah Yang Akan Membantu Jutaan Murid

mulailah dari kelas || dekoruma.com

Oleh: Ali Fauzi

Mulailah dari kelas, jangan yang lain!

Memperbaiki pendidikan—proses dan hasil—bisa menggunakan cara dengan istilah apa saja. Reformasi, reorientasi, evolusi, dan sebagainya. Bahkan ketika Sir Ken Robinson melihat kondisi yang ada saat ini, dia menyebut hanya kata “revolusi”-lah yang pantas untuk perbaikan pendidikan.

Milyaran rupiah, mungkin bisa jadi trilyunan, telah dihabiskan untuk melakukan perbaikan di bidang pendidikan. Kurikulum baru, sistem baru, metode baru, buku baru, dan seterusnya. Padahal, hampir semua pembahasan baru menyentuh satu bagian saja, yakni sekolah. Dan pendidikan lebih luas dari sekadar sekolah.

Untuk melakukannya, mari kita mulai dengan hal-hal kecil. Kita persempit lagi dengan persoalan yang lebih kecil. Biasanya, semua masalah besar merupakan suatu massa padat dari jalinan masalah-masalah kecil. Mengatasi masalah-masalah kecil, sesungguhnya telah merencanakan kemajuan atas penyelesaian masalah-masalah besar.

Simaklah Sir Isaac Newton, misalnya. Dia menulis, “menjelaskan seluruh alam semesta adalah tugas yang terlalu sulit untuk manusia manapun atau bahkan zaman kapan pun. Jauh lebih baik melakukan sedikit hal dengan pasti dan membiarkan sisanya untuk orang lain yang datang setelahnya daripada menjelaskan segalanya dengan dugaan tanpa memastikan apa pun”.

Memang, ada pihak-pihak tertentu yang bertugas menyelesaikan hal-hal yang besar. Juga, ada individu brilian yang memungkinkan dirinya berpikir besar dan merealisasikannya. Namun, memulai dari hal-hal kecil tetap menjadi fondasi penting dalam perubahan.

Perubahan kecil ini pulalah yang mengilhami tiga ekonom melakukan penelitian di China terkait daya penglihatan siswa. Berdasarkan penelitian, 1 dari 4 anak ternyata punya penglihatan di bawah standar. Sementara 60% anak dengan masalah belajar memiliki kesulitan dalam melihat. Jika anda tidak dapat melihat dengan baik, anda tidak akan membaca dengan baik dan itu membuat sekolah semakin sulit.

Tiga ekonom—Paul Glewwe, Albert Park, dan Meng Zhao—menemukan masalah ini di China. Mereka memutuskan untuk melakukan penelitian partisipatif di Gansu, sebuah provinsi miskin dan terpencil. Dari kira-kira 2.500 siswa kelas 4, 5, dan 6 yang membutuhkan kacamata, hanya 59 siswa yang memakainya. Jadi para ekonom itu melakukan sebuah eksperimen. Mereka menawarkan kacamata gratis kepada setengah siswa dan setengah yang lain seperti sedia kala.

Bagaimana jadinya siswa berkacamata baru tersebut? Setelah memakai kacamata selama setahun, nilai ujian mereka menunjukkan mereka telah belajar 25% sampai 50% lebih baik dari rekan-rekan mereka yang tidak diperbaiki. Berkat sepasang kacamata.

Penelitian di atas hanya ingin menunjukkan jika kita terlalu fokus pada hal-hal besar, bisa jadi hal-hal kecil yang mendasar menjadi terlupakan.

Sebagai guru, kita mulai hal kecil ini dari “kelas”. Ya, kelas tempat kita mengajar. Ukuran kelas boleh berbeda-beda, ada yang satu kelas 10 siswa meskipun juga ada yang satu kelas berisi 40 siswa. Jika forum pengajian, baik di musholla ataupun di lapangan besar, bisa disebut “kelas”, maka kita mulai juga dari sana.

Mulailah dengan menunjukkan kesantunan dalam berbicara, berperilaku, dan berbagi. Tunjukkan semua kebaikan melalui cerminan diri di kelas. Ajarkan karakter-karakter baik sejak mereka masuk kelas. Tanamkan kepedulian sejak dari tempat duduk mereka di kelas. Teguhkan kejujuran mulai dari kata pertama yang terucap di kelas kita. Tularkan rasa ingin tahu yang besar sejak mereka mengangkat tangan untuk bertanya.

Mungkin, inilah perubahan termurah yang akan memengaruhi jutaan murid. Yaitu, memulai dari kelas. Ya, ketika semua guru percaya bahwa perubahan pendidikan di sekolah semua bermula dari “kelas”.

Salam. Terimakasih.

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait