Sekolah Sulit Berkembang? Bisa Jadi Faktor Inilah Penyebabnya…

sekolah keren || radarkudus.jawapos.com

Oleh: Ali Fauzi

Target sebuah lembaga pendidikan ada dua. Target yang bisa diukur dan target yang tak bisa diukur.

Sayangnya, sebagian besar tenaga kita terserap hanya pada aspek yang bisa diukur. Target yang seolah tidak bisa diukur, sering terabaikan. Padahal, aspek yang sulit diukur justru merupakan hal yang jauh lebih penting dan dibutuhkan.

Sebuah penelitian pernah mencatat keinginan ribuan wali murid. Dari beberapa pilihan berikut: nilai akademis bagus, kemandirian, dan akhlak yang baik, hasilnya hampir tidak satupun yang meletakkan nilai akademis tinggi sebagai pilihan pertama.

Inilah bukti bahwa lembaga pendidikan yang mampu mengelola aspek-aspek tak terukur menjadi terukur justru merupakan lembaga pendidikan yang hebat dan banyak dicari.

Target yang bisa diukur sangat mudah kita lihat dalam target-target akademis. Atribut pendukungnya juga sering kita jumpai. Ada setumpuk administrasi, hadirnya KKM, remedial, dan pengayaan. Prosesnya juga jelas, ada ulangan, ujian tengah semester, ujian akhir semester, dan ujian akhir sekolah.

Sekarang, mari kita lihat aspek-aspek pendidikan yang “sulit” diukur. Pembelajaran yang menyenangkan, rasa ingin tahu saat belajar, kesabaran dan kegigihan, akhlak yang baik, kemandirian, tanggung jawab, kepercayaan diri dalam mengungkapkan pendapat, dan sederetan karakter yang lain.

Sebenarnya bukan tak bisa diukur. Kesulitan mengukur aspek-aspek tersebut bisa datang karena ketidak tahuan, bisa juga karena tidak terbiasa, atau bahkan keengganan melakukan usaha pengukuran.

Dalam psikologi, selalu ada instrumen pembuktian sebagai pembangun dan penguat teori. Hal-hal yang lebih rumit sekalipun, dalam psikologi, bisa diukur dalam kadar tertentu. Angela Duckworth, misalnya, telah berhasil menciptakan cara untuk mengukur ketabahan dan kegigihan seseorang. Martin Seligman berhasil membuat serangkaian proses untuk mengetahui tingkat kebahagiaan seseorang. Masih banyak tema-tema lain dari para psikolog ternama.

Untuk lembaga pendidikan tingkat dasar hingga menengah tidak perlu serumit itu. Namun, harus tetap ada upaya untuk membuat aspek-aspek tak terukur menjadi bisa dipahami prosesnya, dipraktikkan, dievaluasi, dan dilaporkan secara baik.

Contoh. Kepedulian dan rasa hormat. Ciptakan kegiatan rutin beserta alat evaluasinya tentang kepedulian. Misalnya di kelas, jangan pernah membiarkan seseorang yang memotong omonngan orang lain atau memotong antrean. Contoh lagi, buatlah jadwal rutin kelas untuk membersihkan dan merapikan lingkungan sekolah, mengajak anak secara bersama-sama untuk saling mengingatkan tentang kasih sayang kepada adik kelas dan rasa hormat kepada kakak kelas, dan seterusnya.

Banyak sekolah atau lembaga pendidikan yang sudah memiliki kegiatan-kegiatan yang baik. Namun sayangnya hanya beberapa saja yang mampu secara rutin mengevaluasi dan membahas ketercapaian karakter tertentu sampai kepada upaya membahas cara yang lebih baik.

Membuat kegiatan baru itu mudah, tapi membuat kegiatan pembelajaran yang selalu beraroma pendidikan karakter itu membutuhkan kemauan besar dari pribadi dan semua pihak di lingkungan sekolah.

Cara mendeteksinya cukup mudah. Kita mulai dari kelas. Bahkan, seringnya muncul dari cara kita mengajar di kelas, cara kita memberikan respon atas problem tertentu, dan cara kita menyelesaikannya.

Kuncinya:

Tentukan target karakternya

Rencanakan bentuk-bentuk kegiatanya (di kelas dan di luar kelas)

Rencanakan kontinuitas di tahap atau jenjang berikutnya

Rencanakan tujuan akhir atau output

Tentukan metode pengawasan atau kontrol

Lakukan evaluasi berkala

Buka peluang untuk pengembangannya

 

Terimakasih.

Author: Ali Fauzi

Orangtua, Guru, Penulis, Pembaca, dan Pembelajar.

Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.