Jangan Lagi Gunakan Kalimat “jangan menyontek”. Inilah Pengganti Yang Tepat

mencontek || aplvblog.com

Oleh: Ali Fauzi

Setiap kata atau kalimat memiliki dampak psikologis dan sosial. Inilah salah satu alasan munculnya diksi.
Cobalah mengubah pesan, baik tertulis maupun lisan, dari “jangan menyontek” menjadi “jangan jadi penyontek”.

Terlihat sepele. Mari kita bedah apel dan durian ini! Tidak mungkin rasanya sama.

Kalimat “Jangan menyontek”, hanya berfokus pada tindakan. Jika salah, maka yang salah adalah tindakannya. Beban psikologis hanya ditanggung oleh kata kerja “menyontek”.

Bandingkan dengan kata “Jangan jadi penyontek”. Ini bersifat pribadi dan karakter. Ada harga diri yang diusik dan disentil. Beban kesalahan ada pada pribadi pelakunya. Jika seseorang melakukannya, ada karakter yang menempel otomatis dalam dirinya.

Pasti ada efek yang berbeda saat makan apel dan durian. Ada efek juga saat kita menggunakan kalimat yang berbeda pada waktu yang berbeda pula.

Kata-kata di atas, untuk pembentukan karakter akan sangat mempan dan ampuh. InsyaAllah. Jangan coba-coba—atau barangkali kata yang tepat—hati-hatilah memakai kalimat ini ketika menegur, menghakimi, apalagi menilai anak didik.

Biarkan murid memilih untuk menempelkan label penyontek atau tidak dalam dirinya.

Gantilah kata “menyontek” dengan karakter lain.

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.