Menaklukkan Si Pendiam

Ilustrasi: Seorang profesor menaklukkan anak pendiam yang jenius dalam film Good Will Hunting (1997)

Oleh: Ali Fauzi

Saat ini, dunia tidak bisa berhenti berbicara. Saat kita diam, maka orang lain yang berbicara. Pesan pendek, status di media sosial, timeline, twit, video youtube, dan percakapan lain terus bergerak tanpa henti. Sampai-sampai, penulis terkenal Amerika, Susan Cain, menulis buku bagus berjudul Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking.

Setiap tempat pasti ada pribadi yang aktif berbicara, ada juga yang memilih pasif. Dengan bisingnya media sosial, kategori anak pendiam lebih sulit didefinisikan.

Pada siswa yang memilih lebih banyak diam, maka perlu trik untuk mengajaknya berbicara. Pada anak remaja, sangat beragam. Ada yang biasanya ditandai dengan jawaban-jawaban pendek saat kita tanya atau cuek dengan lingkungan sekitar. Pada anak usia Sekolah Dasar, lebih mudah memahaminya. Biasanya, dia pasif dan irit dalam bicara. Dan masih banyak tanda yang lain.

Sebenarnya, tidak sulit membongkar benteng diamnya. Berikan saja setumpuk kepercayaan dan kenyamanan bicara, maka benteng itu akan membuka perlahan-lahan.

Anak pendiam seperti bebek di danau. Terlihat diam, namun kakinya terus bergerak. Di balik diamnya, ada jiwa yang bergerak menimbang-nimbang kemungkinan. Salah satu yang dia hitung adalah resiko jika dirinya berbicara. Jika lawannya cukup mampu menjaga rahasia, tidak mempermalukan dirinya, merespon tanpa berlebihan, tidak menghakimi, dan memberikan timbal balik yang diinginkan, maka dia akan memberikan apa yang dia punya.

Cara memulainya juga sangat beragam. Jurus utamanya adalah kalimat…

“Jika kamu ingin menaklukkan orang pendiam, patahkan terlebih dahulu kebiasaannya”.

Ingat!, Jika kita membuka kunci dengan banyak bertanya, maka hal itu seperti masuk ke hutan untuk berburu dan memulainya dengan menembak ke udara. Terlalu berisik dan intimidatif bagi mereka. Kuncinya adalah masuk ke dalam hutan dan tidak banyak suara, maka binatangya pun mulai bermunculan.

Begitu juga kalau anda ke pantai. Jika anda berjalan bolak-balik  atau berlarian di pantai, anda takkan melihat kepiting pasir. Datanglah ke pantai, duduk diam-diam di pantai, maka kepiting pasir akan bermunculan.

Ingat, anak pendiam ingin melakukan sesuatu atau mengucapkan kalimat tertentu harus sesuai kehendaknya. Waktu dan tempatnya juga sesuai kehendaknya. Kita sebagai guru atau orangtua, duduklah sabar dan nyaman di pantai. Ya, kita harus sabar dan hadir.

Pokoknya hadir, selalu tersedia, dapat dihubungi, dan tidak banyak bicara.

Fakta uniknya, meski mulut bisa ditutup dan ditahan, telinga tak pernah tertutup.

 

 

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

2 Comments

  1. Pengalaman saya untuk anak yg pendiam , masuk ke dunianya. Bertanya dan berbicara untuk hal yg diminatinya. Atau saya buat tulisan untuk dia sy minta dia baca. Ketika secara lisan dia tak mampu merangkai kata. Setidaknya secara tertulis melalui medsos dia memberi respon. Baru setelah itu membangun kepercayaan dirinya

Leave a Reply

Your email address will not be published.