Kajian Psikologi; Efek “Ikan Besar—Kolam Kecil”

anak minder || cognitivepsychology.blogspot.com

Oleh : Ali Fauzi

Perempuan itu beberapa kali mengusap dahi. Tangannya bergerak tak teratur saat bicara. Suaranya terputus-putus emosional. “Ada apa dengan anak saya ya pak? Dia tidak pernah mendapat nilai serendah ini kecuali sekarang. Di kelas sebelumnya, dia selalu masuk tiga besar”.

“Tidak ada masalah, ibu. Hanya…” jawab saya.

Ini adalah tahun pertama anaknya memasuki kelas unggulan. Sebuah konsep kelas di mana para anggota kelasnya diambil dari para peraih nilai tertinggi secara akademis di kelas sebelumnya. Dan anak tersebut, juga orangtuanya, terguncang hebat secara psikologis.

Anak tersebut mengalami apa yang disbeut “deprivasi relatif” (relative deprivation), istilah yang dibuat oleh ahli sosiologi Samuel Stouffer ketika masa perang dunia II. Kita sering membentuk kesan bukan dalam skala luas, melainkan hanya skala lokal. Padahal, kekurangan kita sangat relatif.

Dalam pendidikan, gejala deprivasi relatif diterapkan dengan istilah “efek ikan besar—kolam kecil”. Murid yang merasa sudah menguasai satu pelajaran di sekolah bagus bisa merasa tertinggal dalam komunitas sekolah yang ‘sangat bagus’. Murid yang berada di puncak klasemen pada sekolah bagus bisa berada di dasar klasemen pada sekolah yang ‘sangat bagus’.

Pada contoh kasus di atas, tidak ada yang salah dengan kemampuan anaknya. Kemampuan yang dimiliki anak tersebut tidak menurun. Yang terjadi adalah kesan pribadi pada komunitas baru yang sebenarnya lebih kecil. Anak tersebut memiliki kesan yang salah dan hanya perlu dibantu secara psikologis. Sayangnya, inilah fakta penting yang sering terabaikan.

Lebih luas, kita masih mudah melihat label-label sekolah. Ada sekolah unggulan, sekolah favorit, sekolah bagus, dan lain sebagainya. Sekolah-sekolah tersebut hanya benar-benar bagus bagi mereka yang berada di puncak sekolah tersebut dan bagi mereka yang mampu mengalahkan guncangan psikologis dirinya.

Teori ikan besar-kolam kecil dipelopori oleh psikolog Herbert Marsh. Efek kondisi ini sangat luas. Dalam pendidikan, ada efek bagi murid, orangtua, dan guru itu sendiri. Bahkan di dunia kerja juga ada efek dari teori ikan besar-kolam kecil ini. Misalnya, ketika perusahaan membutuhkan tenaga kerja baru, mana yang akan anda pilih, menerima lulusan dari universitas elite atau menerima lulusan terbaik di angkatannya dari universitas mana saja?

Silakan membaca lebih jauh tentang hal tersebut. Kita kembali ke persoalan di kelas yang saya alami.

Orangtua seringkali hanya mengambil gengsi dari kolam besar. Sebuah gengsi yang bangga bila diceritakan kepada orang lain. Sebuah gengsi yang sering membuat kita lupa akan kondisi anak secara psikologis. Positifnya, mereka menaruh harap bahwa kelak anaknya akan memiliki karakter dan tradisi belajar yang baik di kolam besar (sekolah atau kelas unggulan) tersebut.

Ketika saya mendapatkan murid dengan guncangan psikologis di kolam besar, maka tugas pertama saya adalah menyelamatkan sisi psikologis anak. Mengajaknya berbicara dan meyakinkan dirinya setiap hari. Meyakinkan bahwa tidak ada yang bermasalah dengan dirinya. Saya terus meyakinkan bahwa setiap tempat selalu ada yang di bawah dan di atas, bukan diri dan kemampuannya yang menurun.

Tidak hanya itu, saya menambahkan keyakinan tentang kelebihan dirinya di bidang lain. Dia harus yakin bahwa dirinya memiliki kelebihan juga di bidang yang lain dibanding teman-temannya. Saat itu, murid saya tersebut sangat bagus dan unggul dalam pelajaran agama.

Giliran berikut adalah orangtuanya. Seringkali orangtua terpeleset pada asumsi dirinya untuk menilai anak. Maka, saya melakukan hal serupa apa yang saya lakukan ke anaknya, meyakinkan bahwa itu hanya kesan yang salah. Selanjutnya, kita dampingi sisi psikologisnya secara kontinyu.

Efek kolam besar sudah dikaji sangat mendalam. Baik kondisi ikan besar di kolam kecil ataupun ikan kecil di kolam besar, keduanya memiliki efek yang tidak boleh diabaikan. Misalnya, kolam besar (sekolah-sekolah sangat bagus) menerima murid sangat cerdas dan kemudian menghilangkan semangat mereka. Itu hanya salah satu dan jangan lupakan efek positif yang lain.

Jika anda adalah orangtua atau guru, mana yang akan lebih anda pilih, menjadi ikan besar di kolam kecil atau ikan kecil di kolam besar?

 

Author: Ali Fauzi

SEJUTAGURU merupakan tempat untuk berbagi ide, pemikiran, informasi dan kebijaksanaan hidup. Lebih khusus lagi di bidang pendidikan: guru, pendidik, sekolah, dan proses belajar. Pengelola blog ini adalah seorang guru, orangtua, dan selalu siap menerima dan berbagi ilmu.

Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.