UN dan Tiket Cadangan

ujian nasional || sumber gambar: merdeka.com

Oleh: Ali Fauzi

Perlombaan Di Lintasan UN pun Dimulai.

Menjelang UN, seluruh tenaga dikumpulkan. Buku pengayaan dan pendalaman materi ditumpuk. Rautan tajam disiapkan untuk menghadapi try out berjilid-jilid. Kisi-kisi dipajang besar-besar. Trik-trik mengerjakan soal siap ditembakkan. Jadwal dipadatkan untuk latihan soal. Pelajaran tertentu diberhentikan demi yang lain. Semua upaya, dari rasional sampai irasional, siap dilakoni demi menghadapi hajat besar ini.

Apakah tahun ini kondisinya masih sama? Sebagian iya, sebagian tidak.

Ketika menteri pendidikan menguatkan kembali dengan tegas sistem zonasi dalam PPDB 2019, maka hasil Ujian Nasional sudah berkurang tuahnya. Jika dahulu NEM tinggi adalah golden ticket bagi pemiliknya, maka saat ini nilai UN hanyalah tiket cadangan.

Dampak positif dari ini semua sangat banyak. Ketika sebuah sekolah lebih banyak membahas kelulusan dan nilai yang didapat, maka orientasi pendidikan berubah menjadi perlombaan. Mereka lebih banyak membahas nilai ketimbang ilmu pengetahuan, lebih mengejar program remedial ketimbang memperbaiki proses, lebih mengedepankan trik dalam menjawab soal daripada membangun nalar untuk menyelesaikannya.

Positifnya lagi, kecurangan pasti mulai menipis. Mungkin tidak akan hilang, akan tetapi, berkurangnya nilai vital hasil UN akan menurunkan minat orang untuk melakukan kecurangan.

Apakah kecurangan benar-benar tidak ada? Masih banyak. Bagi mereka yang menginginkan promosi jabatan, maka menampilkan prestasi anak didik berarti menampilkan prestasi dirinya. Jika prestasi itu hasil proses yang jujur dan bagus, maka perlu kita apresiasi. Sayangnya, kondisi tertentu membuat sebagian orang menggunakan jalan pintas.

Di beberapa tempat, jabatan dinas pendidikan masih menjadi jabatan politik yang diperebutkan. Mulai dari kepala sekolah, pengawas, sampai kepala dinas dan seterusnya. Karena dianggap jabatan politik, maka seringkali hanya menjadi pijakan. Ya, pijakan untuk naik ke tangga yang lebih tinggi. Efeknya, pemahaman terhadap standar kelulusan menjadi tereduksi. Standar kelulusan bergeser menyempit menjadi standar deretan angka-angka. Bagi sekolah swasta, sebagian kecil kepala sekolah juga masih menggunakan hasil UN untuk mempermanis dirinya di hadapan pemilik yayasan.

Beruntungnya, saat ini sudah banyak sekali kita saksikan perubahan yang lebih baik.

Apa efek dari berkurangnya vitalitas UN?

Ketika infrastruktur belum merata, penyebaran guru belum memadai, dan akses penunjang pendidikan belum maksimal, sementara nilai kompetisi berkurang, maka waspadalah terhadap, mohon maaf, guru-guru yang sering “tertidur”.

Kelompok “guru tertidur” ini tidak banyak. Akan tetapi sangat sulit disembuhkan dan tersebar dimana-mana. Kelompok ini adalah mereka yang mengajar hanya karena tugas, merasa cukup dengan cara mengajarnya selama ini, kurang peduli dengan anak didik saat di dalam dan di luar sekolah, nyaman dengan rendahnya tekanan sementara pendapatannya sangat besar (sertifikasi atau inpassing, hehe maaf), dan seterusnya.

Tidak ada guru yang tidak ingin mencerdaskan anak didiknya. Perasaan “tertidur” seorang guru hanya kadang-kadang saja menghampiri guru. kita hanya perlu menyadari dan mewaspadai hal tersebut. Karena efeknya sangat besar bagi dunia pendidikan kita.

Ketika kita sulit menghubungkan antara hasil Ujian Nasional dan kualitas pendidikan, maka kita mencoba membandingkan fungsi ujian sekolah di negara-negara lain. Kritikan juga datang dari berbagai sisi, terlebih lagi ketika dulu pernah menjadi ukuran kelulusan. Para peneliti pendidikan kemudian dengan mudah menyebut istilah rote knowledge, shallow knowledge, latihan soal dan pengulangan, ketidak adailan dalam mengevaluasi siswa, belajar tanpa makna, dan seterusnya.

Sampai saat ini, faktanya masih sering kita jumpai bahwa proses-proses satu tahun menjelang UN adalah proses-proses yang jauh dari tujuan pendidikan.

Ya, ada yang menghilangkan semua kegiatan di luar kelas dan diganti dengan pembahasan soal, ada yang menambah jam belajar hingga menginap, ada yang menambahkan dengan seminar motivasi bagi anak, sampai kepada usaha-usaha vertikal kepada Tuhan. Apapun cara yang kita terapkan kepada anak didik kita, kita tidak boleh melupakan satu hal.

Yaitu, sampaikan kepada anak didik kita bahwa untuk mencapai tujuan dan target tertentu, terkadang kita harus total dan mengalahkan yang lain. Kita harus berusaha lahir batin untuk impian dan cita-cita kita.

Wallahu a’lam

Bagaimana dengan bisnis buku-buku pendalaman UN? Silakan anda teropong sendiri!

 

Author: Ali Fauzi

Orangtua, Guru, Penulis, Pembaca, dan Pembelajar.

Share

Artikel terkait

1 Comment

  1. Terimakasih buat tulisannya yg mencerahkan. Ujian-ujian online sekarang sudah mulai diperbanyak (UTBK). Guna menghadapi hal ini, siswa mesti banyak latihan soal secara online supaya terbiasa dan tidak terkejut saat UTBK.

    Sekarang sudah ada situs tryout online treoku.com

    Di treoku.com guru dapat menulis soal-soal tryout online buat para siswa. Tiap paket soal tryout yg dibuat boleh dijual atau disediakan secara gratis. Semoga situs ini dapat bermanfaat bagi pelajar dan para guru.

Leave a Reply

Your email address will not be published.