RPP: Belajar Dari Starbucks

belajar dari starbucks || sumber gambar: food.detik.com

Oleh : Ali Fauzi

RPP itu penting, tapi fakta dominannya, ada fungsi lain yang mengalahkannya ketimbang sebagai panduan mengajar.

Pagi itu, seorang murid memberiku hadiah sebotol kopi. Ada logo Starbucks di bagian luarnya. “Ini asli?”, tanyaku. Sepanjang hidupku, aku terbiasa ngopi sachetan. Paling banter, kopi tubruk. “Iya, pak, asli.” 

Saat itu, ingatanku langsung menuju sebuah buku yang merangkum kisah perjalanan sukses Starbucks.

Travis Leach adalah senior supervisor di Starbucks. Ketika Travis Leach baru bergabung dengan Starbucks, dia harus mengikuti ribuan jam di ruang kelas untuk pelatihan dan pengembangan diri. Sebagaimana ditulis oleh Charles Duhigg pada tahun 2012 dalam buku The Power of Habit, Starbuck berhasil mengajarkan kepada ribuan orang sebuah keterampilan hidup yang gagal diajarkan di sekolah, keluarga, dan masayarakat.     

Starbucks merupakan perusahaan kedai kopi . Starbucks meyediakan anggaran jutaan dolar untuk mengembangkan kurikulum guna melatih pegawainya. Para eksekutifnya, menulis kurikulum untuk setiap pengembangan perusahaan. Kurikulum-kurikulum itu merupakan sebagian alasan mengapa starbucks telah bertumbuh dari satu perusahaan biasa-biasa saja  di Seattle menjadi raksasa dengan 28.000 lebih cabang di 77 negara dan lebih dari 350.000 orang pegawai.

Ini adalah salah satu materi pelatihannya. Para pegawai diberikan selembar kosong sebagai RPP. Ya, rencana aksi saat bekerja. Salah satunya adalah saat menghadapi pelanggan yang kecewa dan marah-marah. Isi pertanyaannya adalah…

“Bila pelanggan tidak senang, rencana saya adalah….”

Para supervisor kemudian melatih membuatnya dengan panduan metode LATTE. Listen (dengarkan) sang pelanggan, Acknowledge (akui) keluhan mereka, Take action (bertindak) menyelesaikan masalah, Thank (berterimakasih) kepada mereka, dan kemudian Explain (jelaskan) mengapa masalah itu terjadi.

Setelah selesai, mereka akan melakukan micro teaching atau bermain peran dalam penerapannya.

“Kami bukan menjalankan bisnis kopi yang melayani orang,” Howard Behar, mantan presiden Starbucks, mengatakan, “Kami menjalankan bisnis orang yang menghidangkan kopi. Keseluruhan model bisnis kami didasarkan pada layanan pelanggan yang fantastik. Tanpa itu, hancurlah kami.”

Itulah sepenggal kecil kisah Starbucks, yang salah satu pendirinya, Howard Schultz, sekarang ini berencana mencalonkan diri sebagai presiden Amerika Serikat.

Kita kembali ke dunia sekolah dan RPP. Apa fungsi RPP sesungguhnya? Mari memahami dari sudut pandang lain di luar fungsi utama yang kita kenal selama ini!

Ingat, peserta didik mampu membaca perasaan dan kesiapan kita di kelas. RPP penting setidaknya untuk menjawab keingintahuan murid terhadap gurunya. Peserta didik, terutama anak-anak yang tidak semangat belajar, bertanya di dalam pikirannya, “Apa yang anda rencanakan terhadap kami?”, “Apa anda sudah memikirkan untuk melibatkanku dalam pembelajaran ini?”, “Apakah pembelajaran ini penting bagiku?”, “Apakah aku perlu mengetahui tentang hal ini?”, “Apa yang anda harapkan dari kami?”.

RPP, lesson plan, plan to lesson, desain pembelajaran, atau apapun namanya merupakan hal yang sangat penting. Silakan dibuat dengan berbagai variasi, mulai dari yang mirip dengan silabus maupun yang melengkapinya dengan berbagai inovasi. 

Jika di Starbucks, mereka sampai merencanakan terhadap kemungkinan terburuk di lapangan, maka RPP, dengan berbagai variasi bentuk dan namanya, haruslah kita buat setidaknya untuk bisa membantu kita agar lebih efektif dalam mendidik dan mengajar anak didik kita.

“Bagaimana kalau kita cukup merencanaknnya di otak saja?”, tanya rekan sesama guru kepadaku.

Aku tertawa dan berbagi Starbuck dengannya. “Tahu gak, berapa harga kopi ini?”, kita tertawa setelah melirik kopi sachet di meja kami.

Terimakasih

Author: Ali Fauzi

Orangtua, Guru, Penulis, Pembaca, dan Pembelajar.
Share

Artikel terkait

2 Comments