Selembar Tisu Seharga 280.000.000

sumber gambar: world.edu

Oleh: Ali Fauzi

Seorang teman bertanya, “Apa pentingnya kita mempertahankan guru-guru lama?” Tiba-tiba saya teringat kisah ini.

Seorang pria lanjut usia sedang duduk di sebuah kafe di Spanyol, sambil mencorat-coret selembar tisu bekas. Dia adalah orang yang cuek dan suka menggambar apa saja yang membuatnya terkesima. Seorang wanita yang duduk tidak jauh darinya sedang memandanginya dengan kagum.

Pria tersebut mengambil cangkir kopinya. Itu adalah seruputan terakhir. Dia pun meremas tisu tersebut dan hendak membuangnya saat akan meninggalkan kafe tersebut.

“Tunggu,” teriak wanita yang telah memandanginya sejak tadi.

“Boleh kan, saya meminta tisu yang barusan anda gambari? Saya akan bayar.”

“Tentu,” Jawab pria lanjut usia tersebut. “dua ratus delapan puluh juta.”

 Wanita tersebut kaget. “Apa? Anda hanya perlu sekitar dua menit untuk menggambar itu.”

“Tidak nyonya,” jawab pria tersebut. “Saya perlu lebih dari 60 tahun menggambar ini.” Dia memasukkan tisu tersebut dalam kantungnya, dan pergi meninggalkan kafe.

Pria lanjut usia tersebut adalah Pablo Picasso.

(Disarikan dari buku The Subtle Art of Not Giving A F*ck, Mark Manson)

__

“Apa pentingnya kita mempertahankan guru-guru lama?”

Saat itu, saya hanya menjawab, “Satu guru senior yang memaknai pengalaman mengajarnya dengan baik, bisa setara dengan tiga guru baru.”

“Penjelasannya?”, teman saya menimpali.

“Dalam mengajar; ada proses mengenali karakter siswa, mengelola kelas, mengatur irama belajar, membuat murid tertawa, mengatur waktu berdasarkan target kurikulum, menyelesaikan konflik antar guru dan antar siswa, menghadapi keinginan orangtua murid, dan ada proses transfer pengetahuan. Yang bisa ditandingi oleh guru baru hanyalah proses transfer pengetahuan. Selebihnya adalah buah dari pengalaman.”

“Kecuali guru lama yang benar-benar tidak mau belajar dari pengalaman, tidak mau mengikuti perubahan, dan tidak bersedia berubah. Meskipun begitu, rasa hormat harus kita berikan kepadanya karena telah mengikhlaskan waktunya untuk mendidik anak-anak kita.”

Dalam kisah Picasso di atas, wanita di sampingnya bisa sangat terpukau hanya dalam waktu dua menit, tentu saja karena ada proses panjang yang tidak diketahui wanita tersebut. Proses panjang 60 tahun lebih, tentu akan melahirkan keahlian. Ya, keahlian yang membuat orang lain mudah mudah mengaguminya.

Jika seseorang lebih baik daripada anda mengenai sesuatu hal, sepertinya itu karena dia telah mengalami kegagalan lebih banyak daripada anda. Jika seseorang lebih buruk daripada anda, sepertinya itu karena dia belum mengalami semua pengalaman belajar yang menyakitkan seperti yang anda rasakan.

Author: Ali Fauzi

Orangtua, Guru, Penulis, Pembaca, dan Pembelajar.
Share

Artikel terkait

3 Comments

  1. Pengalaman bukanlah hal yang mudah didapat. Tidak bisa dibeli. Tidak bisa diajarkan. Pengalaman harus dialami sendiri oleh seseorang.

    Meniadakan guru lama (tua) yang berpengalaman memiliki resiko sendiri karena banyak pengetahuan, tips, trik, dan kebijaksanaan yang tidak diajarkan dalam pendidikan. Semua itu hanya bisa diraih dan dikembangkan seiring dengan berjalannya waktu.

    Jadi, rasanya dalam sistem pendidikan, harus diatur keseimbangan antara yang “baru” dan “lama” agar tercipta harmoni yang berujung pada perkembangan maksimum siswanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.