Guru Bagus vs Guru Hebat

Oleh: Ali Fauzi

Suatu hari, dua orang guru ingin membuat seorang anak bisa naik sepeda.

Guru pertama

Guru ini mengajarkan terlebih dahulu komponen-komponen sepeda. Dia menjelaskan ada ban dalam dan ban luar, ada gir, ada rantai, rangka besi, stir, dan seterusnya. Guru tersebut juga menjelaskan bahan-bahan pembuat rangka. Pasti ada perbedaan antara rangka besi dan rangka aluminium.

Selanjutnya, materi tentang fisik. Saat naik sepeda, kondisi fisik harus prima. Tumpuan kaki saat mengayuh sepeda harus seimbang. Pandangan mata juga harus fokus. Tidak hanya itu, guru tersebut juga mengajarkan bahwa pengaturan nafas adalah bagian terpenting dalam bersepeda.

Begitu semua materi sudah selesai, maka akan ada ujian. Jika kamu mendapatkan nilai A, maka kamu bisa naik sepeda.

Guru kedua.

Dia langsung membawa sepeda dan mengajak anak tersebut ke lapangan. Dia minta anak tersebut naik dan langsung mengayuh sepeda. Pertama-tama guru tersebut memberikan bantuan pegangan.

Proses belajarnya, anak tersebut jatuh, bangun, jatuh lagi, berdarah sedikit, bangun lagi, dan begitu terus sampai beberapa hari. Hanya ada dorongan kecil, teriakan-teriakan penyemangat, dan latihan terus menerus.

Hasilnya, bisa naik sepeda.

__

Tapi, bagaimana dengan pelajaran yang tidak bisa dipraktikkan secara langsung? Misalnya, belajar tata surya. Memang ada, tapi tidak banyak.

Mengajar seperti gaya guru pertama tidak masalah. Guru tersebut tetap berjasa dalam memberikan pengetahuan. Dia hanya memperlebar jarak antara ilmu dengan pengamalannya. Yang harus dicolek adalah guru yang selalu mempraktikkan cara guru pertama terhadap semua materi. Ya, colek saja bahwa ada cara yang lebih efektif.

Jangan didiamkan! Kopi saja kalau didiamkan, pasti akan dingin dan hilang cita rasanya.  

“Those who know, do. Those that understand, teach.” Aristotle

Author: Ali Fauzi

Orangtua, Guru, Penulis, Pembaca, dan Pembelajar.
Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.