Kompetisi Sebagai Ideologi Dalam Pendidikan

kompetisi dalam pendidikan || tribunnews.com

Oleh: Ali Fauzi

Mengapa orang percaya bahwa kompetisi itu sehat?

Jawabannya adalah karena kompetisi bukan sekadar persaingan atau ketidaknyamanan yang harus dihadapi oleh individu maupun kelompok. Kompetisi bisa berarti upaya meninggikan derajat kebaikan untuk diri dan sesama.

Lebih dari itu, kompetisi sudah menjadi ideologi yang merasuk dan mendistorsi pikiran kita. Ketika salah menyikapinya, baik pikiran maupun tindakan, maka semakin sengit kita berkompetisi, makin sedikit yang kita dapatkan.

Yuk, kita lihat daftar kompetisi dalam deretan fakta!

  • PISA (Peringkat pendidikan dunia)
  • Olimpiade internasional
  • Peringkat kampus terbaik (tingkat dunia dan nasional)
  • O2SN (dari tingkat daerah hingga nasional)
  • Lomba guru berprestasi (dari tingkat daerah hingga nasional)
  • Daftar sekolah tinggi terbaik berdasarkan kriteria.
  • Peringkat hasil UN dan UNBK (tingkat nasional dan regional)
  • Daftar sekolah terbaik atau unggulan
  • Guru teladan
  • Lulusan terbaik tingkat sekolah
  • Pengelompokan kelas berdasarkan kemampuan
  • Peringkat kelas
  • Dan seterusnya
  • Dan seterusnya.

Dalam Islam, orang mengenal kalimat fastabiqul khoirot. Berlomba-lombalah dalam kebaikan. Kalimat yang digunakan adalah kebaikan, bukan kepandaian.

Mari menyikapi kompetisi dengan tepat!

Salam.

Author: Ali Fauzi

Orangtua, Guru, Penulis, Pembaca, dan Pembelajar.
Share

Artikel terkait

2 Comments

  1. Artikel yang sangat memotivasi untuk terus maju danmelakukan kebaikan demi kebaikan, walaupun terkadang terdapat beberapa orang yang melakukan kompetisi dengan cara curang demi keuntungan sendiri ataupun kelompok

Leave a Reply to Ali Fauzi Cancel reply

Your email address will not be published.