Membicarakan “Impor Guru”, Tidak Penting

sumber gambar: regional.kompas.com

A: Banyak orang sudah lupa dengan kata tanya”mengapa”. Mereka lebih ingat kata tanya “Apa”.

B: Apa maksudmu, kawan?

A: Ketika ada berita tentang impor guru, lebih banyak yang merespon dengan kata tanya “Apa” ketimbang “mengapa”. Lebih sempit lagi, berita tersebut mereka posisikan sebagai penantang. Seolah-olah, mereka mendapat tantangan dengan pertanyaan: Apa sikapmu kalau impor guru benar terjadi? Apa responmu jika kebijakan ini ada? Dan seterusnya.

B: Saya kira penting, kita merespon dengan cara itu. Apakah kawan masih ingat dengan teori “test the water”?

A: “Test the water” hanya berlaku bagi mereka yang curiga dan kehilangan kepercayaan. Seperti teori konspirasi. Ketika ada pihak yang kalah dan mereka tidak bisa membuktikan secara ilmiah atau hukum, maka mereka berlindung di balik  kata konspirasi.

B: Tidak sesederhana itu, kawan.

A: Jangan terlalu jauh. Kita kembali ke persoalan impor guru.

B: Baiklah.

A: Beberapa orang sebaiknya memulai dengan pertanyaan mengapa saya harus memberikan respon terhadap isu ini? Ya, mulailah dengan “WHY”.

B: Saya kira, mereka sudah merespon dengan cara itu.

A: Betul. Akan tetapi, mereka merespon dengan penuh kecurigaan dan emosional. Buktinya, mereka menghubungkan isu yang belum menjadi kebijakan ini dengan upah atau gaji, tenaga kerja asing, kekhawatiran peran guru, sampai kebijakan anggaran lainnya.

B: Wajar, dong kalau kita punya kecurigaan dan kekhawatiran. Kalau kebijakan itu tidak kita ramaikan di media sosial, pemerintah bisa semaunya sendiri mengambil kebijakan yang menguntungkan mereka.

A: Baru saja saya mendengar langsung ketidak percayaan terhadap pemerintah.

B: Kita, kan harus peduli dengan pendidikan bangsa ini. Kita tidak boleh diam.

A: Saya setuju. Lihat fakta ini! banyak yang merasa dirinya peduli pendidikan jika mereka terus menerus membicarakan kebijakan pemerintah tentang pendidikan. Banyak yang merasa dirinya peduli jika mereka terus membahas anggaran pendidikan, kesejahteraan guru, aturan kepegawaian, dan kebijakan-kebijakan besar lainnya.

B: Memang salah? Itu penting, kawan. Sebagai guru, kita harus mengetahui informasi tersebut. Lihat saja hasil pendidikan di negara ini! Masih sering kita jumpai perilaku koruptif, mengumbar kebencian dan fitnah, kurangnya menghargai perbedaan, dan lemahnya daya saing SDM kita.

A: Aku setuju. Sekarang aku tanya, ketika yang kamu bicarakan adalah hasil pendidikan kita kurang bagus, mana yang lebih bermanfaat, kita sibuk membicarakan kebijakan-kebijakan besar atau kita mulai memperbaiki kelas kita, cara mengajar kita, dan diri kita terlebih dahulu?

B: Kita akan terganggu dan tidak maksimal dalam mendidik jika kebijakan pemerintah tidak tepat.

A: Apakah anda tidak pernah mendengar bahwa ada beberapa sekolah yang setiap hari memulai perbaikan pendidikan dari kelas kecil mereka? Mereka memulai memperbaiki sepeda dari sekrup-sekrup kecil yang ada. Mereka pastikan sekrupnya lurus dan rapat. Ketika mereka bisa memperbaiki 30 sekrup, mereka lakukan itu sebaik-baiknya.

B: Tentu saja mereka yang membahas isu-isu besar tidak pernah melupakan kelas mereka. Mereka guru-guru hebat, kok.

A: Aku percaya mereka itu guru hebat. Ukuran hebat juga harus adil. Hebat meliuk-liuk dalam kebijakan besar, hebat dalam memimpin organisasi guru, hebat dalam berkomentar, hebat dalam lomba guru, atau hebat untuk prestasinya sendiri. Apakah itu ukuran guru hebat? Ukuran hebat seharusnya bersandar pada peserta didik.

B: Apa maksudnya?

A: Ukurlah guru hebat dari peserta didiknya! Kita mulai dari diri sendiri. Seorang guru yang hebat bagi peserta didik, bisa mengalahkan peran sekolah. Bahkan, bisa mengalahkan kebijakan negara tentang pendidikan. Guru hebat Bukanlah guru yang hebat di mata guru lain atau kepala sekolah.

Ingat, lembaga pendidikan hebat pernah gagal menemukan Thomas Alva Edison dan Albert Einstein.

Membicarakan berita impor guru bisa saja sangat “tidak penting”. Energi bisa terkuras membicarakan hal ini. Kalau di kelas hanya menggunakan sisa energi yang ada, maka apa yang terjadi?

Kamu boleh tidak sependapat dengan pandanganku. Dan aku menghargai pendapatmu. Selayaknya aku menghargai kopi manis kesukaanmu. Meskipun bagiku, jika kopi itu manis, apa bedanya dengan dawet?  

B: Bisa saja, kamu. Tapi, betul juga, ya. Banyak yang merasa “gagah” kalau sudah ikut berkomentar dan berpendapat tentang kebijakan besar. Mereka lupa, sepeda yang kuat pasti dimulai dari pemasangan sekrup yang tepat dan rapat.

Saya jadi ingat dengan kalimat seorang ilmuwan yang mengatakan bahwa “kesalahpahaman terjadi bukan karena ketidaktahuan. Kesalahpahaman terjadi karena apa yang kita percaya”.

A: Ada orang memiliki tanah kosong dan menanaminya dengan beberapa pohon pisang. Tiba-tiba kita memberikan komentar bahwa pemiliknya akan menumpuk kekayaan dari hasil menjual pisang dan daunnya. Padahal, pemilik tanah hanya ingin menjaga kesuburan tanah.

B: Kenapa tiba-tiba ngomongin pisang?

A: Lha ini, kopi sudah habis. Pisang gorengnya gak ada.

Ha ha ha ha      

Author: Ali Fauzi

Orangtua, Guru, Penulis, Pembaca, dan Pembelajar.
Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.