Guru, Hindari“Diskriminasi Bawah Sadar”! Agar Proses Belajar Lebih Maksimal

diskriminasi guru. sejutaguru.com || sumber gambar: internet

Oleh: Ali Fauzi

Ada yang sadar, ada juga yang tidak sadar. Banyak yang sudah membuangnya, lebih banyak lagi yang masih memilikinya. Padahal, jika kita membiarkannya terus menerus, akan berakibat buruk dalam pendidikan. Itulah efek dari Diskriminasi Bawah Sadar.

Istilah diskriminasi bawah sadar saya temukan dari ilmuwan sosial Malcolm Gladwell. Kita akan memahaminya perlahan-lahan. Jangan lupa sak-seruput ya…

Gladwell memulai dengan cerita seorang penjual mobil bernama Bob Golomb. Dia adalah seorang laki-laki yang berprofesi sebagai direktur penjualan mobil di daerah negara bagian New Jersey. Golomb mampu menjual mobil rata-rata dua puluh mobil perbulan. Jumlah itu lebih dari dua kali hasil penjualan rata-rata para penjual mobil lain. Di dunia penjualan mobil, Golomb adalah seorang virtuoso.

Ketika beberapa ilmuwan melakukan penelitian, ternyata voucher sukses Golomb adalah memberikan pelayanan yang sama terhadap siapapun yang datang ke showroom mobil-nya. Sementara di tempat lain, banyak sekali penjual yang memberikan kesan kurang baik bagi calon pembeli.

Misalnya, seseorang datang dengan pakaian lusuh dan tidak rapi, maka penjual lain tidak seramah ketika yang datang ke showroom adalah orang yang berpakaian rapi, berdasi, dan tampak bersih. Juga, ketika yang datang adalah anak muda, banyak sekali penjual yang mendahulukan buruk sangka dan buru-buru berkesimpulan bahwa yang datang “ini bukan calon pembeli.”

Bagaimana bisa mengetahui bahwa pelayanan para penjual itu bisa berbeda? Mudah saja. Salah seorang ilmuwan membuat beberapa kelompok orang yang akan berkunjung ke tempat penjualan mobil. Ada kelompok dengan pakaian rapi, bersih, dan elegan. Kelompok berikutnya adalah kelompok dengan pakaian biasa, tidak rapi, dan agak sombong. Kelompok lainnya adalah pakaian kusut, bergaya kampung, dan polos. Kelompok lainnya lagi adalah anak muda yang serba tidak tahu namun banyak bertanya. Kelompok-kelompok tersebut selalu terdiri dari dua cabang kelompok, yakni laki-laki dan perempuan. Dan, semua dimulai dengan mendekati mobil termurah.

Hasilnya, kelompok-kelompok tersebut menerima perlakuan sangat berbeda dan mencolok. Namun, bagi Golomb, dia memperlakukan sama persis kepada setiap calon pembeli yang datang. Hasilnya, sekali lagi, Golomb adalah seorang virtuoso di dunia penjualan mobil.

“Anda tidak boleh salah menilai orang dalam bisnis ini,” katanya dalam sebuah wawancara. “Buruk sangka sama saja dengan bunuh diri. Anda harus mengusahakan yang terbaik bagi setiap orang”, kata Golomb.

Penilaian sesaat berdasarkan jenis kelamin, suku, agama, penampilan, dan kesan sekilas inilah awal mula diskriminasi. Karena berlangsung di alam bawah sadar, maka muncul pembedaan perlakuan yang tidak disadari pula. Inilah Diskriminasi bawah sadar.  

Apakah karena itu terjadi di alam bawah sadar, lantas tidak bisa kita kendalikan? Bisa.

Bagaimana dengan guru? Apa hubungannya?

Ini bulan Juli, awal tahun pembelajaran di sekolah formal. Jika anda sudah memahami tentang diskriminasi bawah sadar dari ilustrasi di atas, maka sangat baik jika kita menghentikannya sekarang juga. Jika belum paham juga, mari kita perjelas.

Kalau seorang guru sering sekali mengatakan bahwa “anak perempuan lebih mudah diatur daripada anak laki-laki”, atau “anak dari sekolah A lebih penurut daripada anak dari sekolah B,” dan seterusnya. Itulah ciri-ciri tipis terjadinya diskriminasi bawah sadar. 

Ingat, meskipun penilaian tersebut tidak anda sampaikan dan hanya batin anda yang berbicara. Itulah diskriminasi bawah sadar.

Jika anda mendengar dari guru yang mengajar di tahun sebelumnya, bahwa anak bernama si A adalah anak dari keluarga miskin dan si B berasal dari keluarga kaya, kemudian anda bersikap berbeda kepada keduanya, maka diskriminasi bawah sadar telah terjadi.

Pikiran bawah sadar ini perlu kita waspadai karena, secara tidak sadar, seringkali menggerakkan perilaku kita sesuai pikiran tersebut. 

Meskipun hampir semua guru sudah mulai meyakini bahwa semua anak memiliki potensi unik yang berbeda-beda. Namun, diskriminasi bawah sadar telah membelokkannya dalam bentuk tindakan yang berbeda. Ya, tidak jauh berbeda dengan orang yang mengetahui bahwa cara diet terbaik adalah olahraga dan menjaga pola makan, namun malas melakukannya.

Mari, kita ubah!

Yakinkan terus menerus bahwa setiap orang yang datang ke showroom mobil kita adalah calon pembeli potensial, sebagaimana Golomb. Siapapun anak di kelas kita, dari manapun asalnya, yakinkan terus menerus bahwa setiap anak tersebut memiliki potensi jika kita layani dengan baik. Selamat mendidik anak-anak bangsa.

Author: Ali Fauzi

Orangtua, Guru, Penulis, Pembaca, dan Pembelajar.
Share

Artikel terkait

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.