Jebakan Teknologi Dalam Pendidikan. Waspadalah!

jebakan teknologi dalam pendidikan || sumber gambar: nytimes.com

Oleh: Ali Fauzi

Tahun 2011, New York Times menulis berita “In Classroom of Future, Stagnant Scores”. Tulisan tersebut membahas sebuah sekolah yang sejak tahun 2005 telah menginvestasikan sekitar 33 juta dolar dalam teknologi. 

Sayangnya, justru tidak berbuah baik.

Memang, hasilnya adalah ruang kelas berubah drastis. Setiap siswa menggunakan laptop dan tablet saat beajar, papan tulisnya digital dan dapat dikendalikan melalui komputer, ruang kelas pun hadir dengan kelengkapan digital yang membuatnya menjadi kelas dinamis abad 21. Bahkan, beberapa tugas dan informasi sekolah, mereka integrasikan ke sosial media.

Sayangnya, saat ujian sekolah, hampir seluruh wilayah lain mengalami peningkatan nilai ujian, sekolah tersebut dengan segala inovasinya, mengalami perolehan nilai yang stagnan dan tidak berkembang. Hal itu terjadi dalam beberapa tahun.

Sebagian guru mengatakan, “bisa jadi, anak-anak mendapatkan dimensi kreativitas namun kehilangan konsep-konsep dasar dalam pelajaran bahasa, sains, dan matematika.”

Evaluasi terhadap penggunaan teknologi di dunia pendidikan, terutama di sekolah dasar dan menengah, dilakukan kembali setelah sepuluh tahun. Akhirnya, menurut catatan seorang psikolog kognitif, Daniel Willingham, tahun 2016 para pembuat kebijakan menyadari bahwa pembelian teknologi semacam itu tidak meningkatkan prestasi atau menciptakan generasi progammer baru.

Kisah lain terjadi  pada tahun 2016. Amazon, sebagai perusahaan raksasa, memenangkan kontrak penjualan e-book senilai 30 juta dolar ke sekolah-sekolah di kota New York. Namun, dalam penelitian demi penelitian, ternyata membaca di layar menghasilakan pemahaman yang kurang baik dibandingkan dengan proses membaca di kertas. Bahkan, penelitian juga menunjukkan bahwa pembaca berusia muda dengan banyak pengalaman berbasis layar, mengatakan mereka lebih suka kertas saat membaca buku.

Inilah jebakan teknologi dalam pendidikan.

Beberapa sekolah menghadirkan laptop, tablet, media sosial, dan lain sebagainya di ruang kelas, semata-mata menjawab tantangan zaman. Yakni, setiap siswa harus mampu menerapkan apa yang mereka pelajari di kelas dalam kehidupan sehari-hari. Sementara, dunia kita saat ini sudah penuh sesak dengan teknologi.

Jika ada anak-anak kita sudah mampu mengoperasikan smartphone, laptop, atau tablet, maka itu adalah hal yang sudah biasa. Justru, ketika kita memutuskan untuk membuang sama sekali pembelajaran teknologi, itu sama artinya dengan menjauh dan mengasingkan diri dengan dunia saat ini.

Ketika ada sekolah yang peserta didiknya belum mampu mengoperasikan smartphone, komputer, laptop, maka pembelajaran teknologi menjadi keterampilan wajib yang harus kita ajarkan. Menguasai teknologi menjadi keharusan dan kebutuhan ketika dunia kerja saat ini membutuhkan generasi dengan kecakapan teknologi yang handal.

Sayangnya, ketika menghadapi tantangan ini, banyak yang gagap dan bingung bersikap. Akhirnya, inovasi di bidang teknologi di sekolah justru menjadi masalah.

Perubahan adalah sesuatu yang pasti. Jika tidak ikut, siap-siap tertinggal. Ikut tanpa pertimbangan matang juga beresiko. Dalam kasus ini, setidaknya sudah ada bukti dan penelitian bahwa inovasi teknologi di sekolah tanpa pertimbangan yang baik justru bisa menghambat perkembangan.

Uniknya, di tengah padatnya teknologi dan media sosial yang jarang menggunakan kemampuan menulis dengan tangan, penelitian terbaru menunjukkan bahwa keterampilan motorik halus yang baik (seperti menulis, menggambar, membuat mind map, dsb)dikaitkan dengan hasil belajar yang lebih baik. Keterampilan motorik halus berarti kemampuan untuk mengintegrasikan informasi visual dan gerakan otot kecil yang terkait dengan pembelajaran.

Terimakasih.

Author: Ali Fauzi

Orangtua, Guru, Penulis, Pembaca, dan Pembelajar.
Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.