“Hard Work” dan “Fun”. Mana Yang Lebih Dulu Dalam Belajar?

belajar cerdas || sumber gambar : internet

Oleh: Ali Fauzi

“Mana yang lebih dulu dalam proses belajar, hard work atau fun?”, tanyaku kepada beberapa rekan guru. Pertanyaan semacam ini seringkali mendapat respon unik. Ketika hardwork dan fun menjadi pilihan, maka jawabannya adalah hard work yang fun. Rekanku memberikan alasan, “saat kita di ranjang dengan istri, kita pasti menerapkan hard work yang fun.”

Saat ini, pembelajaran yang menyenangkan telah menjadi unsur pokok dalam proses belajar. Para ahli otak menyebut bahwa proses seperti itulah yang sangat efektif sesuai dengan cara kerja otak manusia.

Ketika yang tertangkap oleh guru adalah rasa senang saja, maka muncul pemahaman yang tidak lengkap. Seolah-olah, belajar yang menyenangkan adalah tidak ada PR, tidak ada tugas, tidak banyak hapalan, tidak boleh memaksa anak untuk belajar, soal dipermudah, dan harus santai.

Jika kondisi ini yang muncul maka standar-standar dalam pembelajaran bisa saja mengalami penurunan level.

Tantangannya adalah mampukah kita menjadikan kerja keras dalam belajar menjadi aktivitas yang sangat menyenangkan dan membanggakan?

Seorang rekan bertanya, kenapa harus kerja keras? Bukankah lebih baik kita mengajarkan tentang kerja cerdas?    

Betul, kerja keras seringkali disandingkan dengan kerja cerdas. Tidak hanya disandingkan, keduanya telah menjadi standar baku perbandingan kinerja. Padahal, hampir semua kerja cerdas berawal dari kerja keras yang panjang. Dalam hal sifat, baik kerja keras maupun kerja cerdas keduanya sama-sama sikap mulia yang harus kita tanamkan ke anak-anak kita.

Berikut cara agar hard work dan fun bisa berjalan seiring dalam belajar.

  1. Kerja keras itu membanggakan

Bangunlah suasana dan lingkungan yang selalu menghargai siapapun yang memiliki sifat kerja keras, ketekunan, dan pantang menyerah. Ingat, jangan membangunnya dengan ancaman, tekanan, dan kemarahan. Kita bisa memilih utk membangunnya dengan sikap rasional, penuh dukungan, kata-kata positif, konsisten, dan pendampingan.

Ketika kerja keras itu membanggakan, maka harga diri seorang anak akan meningkat. Sebagai seorang guru, kita harus bisa membangun kesenangan dengan meningkatkan harga diri anak. Mari kita yakinkan ke anak-anak kita bahwa perasaan senang yang paling keren adalah yang mampu meningkatkan harga diri.

2. Kerja keras dulu, bersenang-senang kemudian

Jadikan kalimat di atas sebagai semacam “mantra”. Ya, layaknya peribahasa bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Kita harus mampu meyakinkan anak-anak kita bahwa kerja keras tidak sama dengan rasa lelah.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mengubah segala macam tugas dalam belajar menjadi sebuah tantangan. Ya, tantangan buat fisik, otak, jiwa, dan ketahanan diri kita. Kenapa kata yang menjadi pilhan adalah “tantangan”? karena tantangan terkait dengan harga diri seseorang.

Begitu seorang anak mampu menyelesaikan tantangan dengan baik, rayakan!

Tugas berikutnya, carilah cara yang tepat saat menghadapi kenyataan, bahwa “kerja keras tidak selalu membuahkan hasil”.

Ingat, man jadda wajada  

Author: Ali Fauzi

Orangtua, Guru, Penulis, Pembaca, dan Pembelajar.
Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.