Belajar Sejarah Dengan “Dikte”. Bukan Dikte Biasa, Dan Sangat Efektif

sumber gambar: okezone.com

Oleh: Ali Fauzi

“Aku mencoba cara baru dalam mengajar sejarah, yaitu dikte. Caranya…”

Aku mengajar di tingkat Sekolah Dasar. Pelajaran sejarah yang disisipkan dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, seringkali bukanlah pelajaran favorit. Terlebih lagi, materi tersebut menjadi identik dengan hafalan seputar tahun dan nama seseorang.

Kini, aku memegang tugas tersebut. Aku bertekad menggengam pelajaran sejarah layaknya menggenggam batangan besi di roller coaster. Harus menyenangkan, menegangkan, dan melekat di ingatan.

Aku meyakini bahwa pelajaran sejarah di tingkat Sekolah Dasar, sebaiknya tidak berfokus pada tahun dan tanggal. Kecuali, tahun-tahun penting, misalnya tahun kemerdekaan negara. Setiap orang suka dengan cerita, terlebih lagi anak-anak. Di usia dasar, jika pelajaran sejarah hadir sebagai sebuah kisah menarik tanpa tuntutan menghafal tanggal dan tahun, maka akan lebih mudah diterima.

Buatlah menarik dengan tempo cepat, maka anak akan hanyut dalam sungai ceritamu!  

Bagi yang akrab dengan Jostein Gaarder, buku Dunia Sophie adalah contoh bagus. Buku tersebut berisi filsafat, namun Gaarder bertutur sangat ringan layaknya mendongeng kepada anak. Hasilnya, filsafat pun mudah dipahami.

Metode yang sering dipakai untuk belajar sejarah adalah sosio-drama dan bermain peran. Bentuknya juga bermacam-macam. Ada yang berperan langsung, ada juga yang berbentuk wayang. Pilihan umum yang lainnya adalah membuat komik atau video tentang materi yang bersangkutan. Banyak juga yang belajar sejarah dengan langsung mengunjungi situs dan museum-museum bersejarah.

Kali ini, aku mencoba cara baru. Yaitu dikte.  

Bukan dikte biasa. Ada unsur mengikat makna di dalamnya, meminjam istilah alm. Hernowo. Apa maksudnya? Inilah caranya.

Pertama, instruksi. Berikut adalah peraturannya.

“Hari ini, kita akan latihan dikte. Akan tetapi, diktenya bersyarat. Yaitu, saat bapak membacakan kalimat, tidak boleh ada yang memegang pensil apalagi menulis. Jadi, kalian hanya menulis saat bapak sudah berhenti. Satu lagi, bapak tidak mengharuskan kalimat yang sama. Akan tetapi, isinya harus sama”. “Mari kita mulai!”.

Kedua, Dikte.

Aku mulai dengan kalimat pendek. “Amerika menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945”.

“Silakan tulis!”

Berikutnya dan berikutnya lagi, aku menaikkan level ke kalimat yang lebih panjang. Mulai dari dua kalimat hingga satu paragraf.

Ada beberapa keuntungan yang bisa aku dapatkan dari praktik ini:

Pertama, murid belajar memahami isi berdasarkan kalimat penuh.

Kedua, murid mengikat makna terhadap informasi yang didengar dan kemudian menuliskannya.

Ketiga, murid belajar menggunakan bahasa mereka sendiri saat menulis. Inilah tahap awal belajar menulis dan mengarang.

Keempat, murid belajar memahami sendiri, yang keuntungan tidak langsunya adalah mengetahui dan langsung menghafal materi yang telah ditulisnya.

Tentu saja, ini hanya proses awal. Masih ada kebutuhan lain, yakni konfirmasi diri terhadap pengetahuan yang diterimanya. Proses di atas sebenarnya sudah mengandung pengiriman pesan, konfirmasi pesan yang diterima, kemudian mengikat pesan dalam ingatan.

Kita perlu menancapkan pesan lebih dalam lagi. Kali ini, aku memilih untuk menindaklanjuti dalam bentuk tugas. Yaitu, membuat cerita bergambar.

Silakan mencoba!

Terimakasih.   

Author: Ali Fauzi

Orangtua, Guru, Penulis, Pembaca, dan Pembelajar.
Share

Artikel terkait

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.