LQ (Love Quotient), Kecerdasan Baru Yang Harus Murid Miliki

peduli || sumber gambar: balipost.com

Oleh: Ali Fauzi

Bulan lalu, Jack Ma berbicara tentang pendidikan di World Economy Forum. Salah satu poin penting yang menjadi perhatian Jack Ma adalah bahwa perubahan pendidikan sebaiknya tidak berfokus pada kurikulum, melainkan pada kapasitas peserta didik. Di antara kapasitas tersebut adalah kapasitas LQ di samping IQ dan EQ.

“Jika kamu ingin sukses, kamu harus memiliki EQ (Emotional Quotient), untuk membangun relasi dengan orang lain. Jika kamu tidak ingin tertinggal, maka kamu harus memiliki IQ (Intelligence Quotient) yang baik. Jika kamu ingin dihormati dan dihargai, maka kamu harus memiliki LQ (Love Quotient), The quotient of love.”

Berita tentang siswi bunuh diri, bully di sekolah, dan kekerasan cyber yang menimpa murid-murid kita, seharusnya membuka kesadaran kita semua. Kita harus sadar bahwa pendidikan tidak cukup hanya menjadi sarana untuk melatih pekerja masa depan. Tidak cukup kalau hanya berfikir tentang bagaimana cara memberi makan generasi berikutnya. Pendidikan juga tidak cukup jika kita memandangnya sebagai sebuah kurikulum belaka.   

Sayangnya, beberapa orang masih dengan gigihnya memiliki kepercayaan tentang kurikulum sebagai faktor utama. Mereka meyakini bahwa perubahan harus kita mulai dari sana. Menurutnya,  untuk mengubah program kegiatan dan hasil pendidikan, terlebih dahulu kita harus mengubah kurikulum. Maka, aktor utamanya yang muncul adalah silabus, KKM, SKL, dan RPP.

Yuk, kita masuk kembali ke jalur yang lebih penting. Pendidikan adalah tentang manusia bukan tentang dokumen kurikulum. Ketika pelatihan dan workshop melulu berisi tentang kajian kurikulum dan perangkat-perangkatnya, maka kapasitas murid menjadi bukan yang utama. Terlebih lagi, kapasitas mencintai.

Pengetahuan yang baik tidak boleh kita remehkan, disiplin akademik harus kita jaga dengan baik. Betul, hal itu tidak boleh kita lewatkan. Namun, pendidikan lebih luas dari itu.

Ingat, “Jika anda fokus pada standardisasi, semuanya dapat diganti dengan mesin”.

Kita kembali fokus pada LQ, kecerdasan atau kemampuan mencintai. Sejak lahirnya psikologi positif, ilmu pengetahuan mengarahkan perhatiannya pada sisi positif manusia; mengembangkan potensi, optimisme, dan rasa mencintai. Manusia tidak hanya ingin terbebas dari masalah tetapi juga mendambakan kebahagiaan.

Apakah kemampuan mencintai bisa diajarkan? Bisa. Semakin dini memulai semakin besar hasil yang kita dapatkan. Mulai dari rumah, dari PAUD, TK, SD, dan seterusnya. Dalam konteks mengembangkan perasaan emosi dan mencintai, maka berbicara pendidikan berarti berbicara tentang  ilmu perilaku.

Mulai dari mana? Mulailah dengan kepedulian dan rasa hormat terhadap diri sendiri. Kemudian, peduli kepada setiap murid dan menghormati setiap orang. Setiap kita memiliki cara yang berbeda dalam mengungkapkan cinta dan peduli. Apapun cara yang kita pilih, menyampaikan dan memberikan cinta harus dengan penuh rasa cinta pula.

Apakah tepat, misalnya, mengajarkan dan mengungkapkan cinta dengan hinaan dan kebencian?  

Mulai hari ini, tebarkan rasa cinta dan peduli setiap hari. Banjiri mereka dengan kasih sayang yang menguatkan. Gunakan cara apa saja agar benih-benih cinta di setiap anak tumbuh sehingga mereka saling peduli dan menyayangi.

Jadilah orang dewasa yang menginspirasi kepedulian dan cinta, layaknya puisi dan lagu yang menumbuhkan bunga-bunga di hati para penikmatnya.

“Otak bisa saja digantikan oleh mesin, tetapi mesin tidak pernah bisa menggantikan hatimu”.   

Terimakasih.

Author: Ali Fauzi

Orangtua, Guru, Penulis, Pembaca, dan Pembelajar.
Share

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.