Jika Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Dilanjutkan, Jangan Seperti Ini Lagi!

Share
Online learning || sumber gambar: radarsurabaya.jawapos.com

Oleh: Ali Fauzi  

Ketika bel berbunyi di sebuah selasar sekolah, obrolan apapun di kelas harus berhenti. Semua harus berganti aktivitas. Itulah gambaran kelas standar tatap muka.

Sayangnya, bel itu masih berbunyi bahkan di saat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat pandemi covid-19 ini terjadi. Mengapa demikian? Mari kita bahas!

Beberapa pakar pendidikan, baik luar negeri maupun dalam negeri, meyakini akan terjadinya perubahan besar dalam pendidikan setelah pandemi covid-19 ini. Beberapa pengamat, guru, dan beberapa orangtua murid menyetujui kemungkinan tersebut. Salah satu gejalanya adalah masifnya penggunaan teknologi.

Saya, sebagai seorang guru, justru meragukan perubahan tersebut. Beberapa hal berikut ini yang mendasari pandangan ini.

1. Darurat.

Ya, PJJ saat ini terjadi dalam kondisi darurat. Karena darurat, maka penggunaan internet dan macam-macam aplikasinya tidak bergerak secara sadar dan penuh rencana. Akhirnya, yang terjadi adalah proses mencicipi. Semua dipaksa mencicipi beragam aplikasi, mulai dari Google Form, Google Classroom, edmodo, Whatsapp, dan lain sebagainya. Setelah mencicipi, mereka diminta menyesuaikan diri dan menyetujui hubungan penting aplikasi-aplikasi tersebut dengan proses belajar.

Kenapa mencicipi? Karena mayoritas guru, murid, ataupun orangtua, baru saat ini menyentuh dan menggunakan internet beserta aplikasi lainnya untuk belajar. Berpikir untuk mengembangkan proses belajar saja belum, mereka kebanyakan baru berpikir bagaimana cara menggunakan alat baru tersebut dengan baik.

Apakah semua guru dan murid di negara ini bisa ikut mencicipi? Tentu tidak. Dalam hal ini, pemerataan akses pendidikan dan sarana prasarana menjadi penentu dan pengaruh yang besar. Bagi mereka yang bisa mencicipi saja masih banyak kendala, bagaimana dengan saudara-saudara kita yang belum bisa mencicipi sama sekali?

 2. Relaksasi kurikulum.

Dalam kondisi darurat, wajar jika semua hal menjadi boleh dan longgar, termasuk kurikulum. Sambil berproses mencicipi PJJ, maka pagar kurikulum dicabut, target dikendorkan, dan pembelajaran lebih terbuka. Maksudnya, terbuka diadakan, terbuka juga tidak diadakan setiap hari.

Tidak ada yang berubah dalam pendidikan kita jika pencapaian saja belum terukur. Baik mengukur perencanaan, pelaksaan, hingga hasil belajar. Untuk saat ini, seolah-olah satu-satunya ukuran adalah “asal terlaksana. Yang penting belajar”.  

3. Tidak ada bukti bahwa PJJ ini efektif sebagai proses belajar.

Betul sekali apa yang diungkapkan oleh pakar pendidikan Yong Zhao, bahwa dalam kondisi seperti ini tidak lagi relevan bertanya, Apakah model pembelajaran di saat seperti ini efektif. Karena tidak relevan, maka tampaknya kita belum menjumpai sebuah laporan akademis bahwa proses PJJ ini sangat bagus dan efektif sebagai model pembelajaran.

Seorang tetangga bercerita bahwa sudah dua bulan lebih anaknya tidak belajar sama sekali. Yang dia maksud tidak belajar adalah anaknya tidak mendapatkan apapun dari proses PJJ ini. Sampai-sampai, dia berkomentar, “lebih baik cepat masuk ke sekolah saja”.

Sekali lagi, saat ini tidak ada model terbaik untuk pembelajaran jarak jauh. Siswa yang berada di pedesaan dengan keterbatasan perangkat, bisa jadi model terbaik adalah siswa mengambil soal ke sekolah dan mengerjakanya di rumah. Model ini tentu tidak cocok dalam lingkungan yang berbeda.

4. Mindset belum berubah.

Ini benar-benar terjadi di banyak tempat. Bagi yang tiba-tiba mengenal aplikasi Zoom, maka seolah-olah menemukan kelas baru. Dia mulai merencanakan jadwal pelajaran dengan waktu tertentu untuk tatap muka melalui aplikasi tersebut. Lagi-lagi, ritmenya diatur kembali oleh sekolah. Ritme yang sama persis dengan tatap muka di kelas.

Inilah yang saya sebut dengan “bel itu berbunyi” lagi.

Padahal menurut Salman Khan, pendiri Khan Academy, semangat dasar belajar berbasis internet adalah kebebasan. Dalam bukunya yang berjudul The One World Schoolhouse (2012), Khan mengungkapkan bahwa semangat internet dan komputer/gadget pribadi adalah adanya kebebasan untuk menentukan di mana dan kapan proses belajar terjadi. Belajar apapun bisa dilakukan kapan saja dan sumbernya juga beragam.

Faktanya, semua kembali menerapkan standar tatap muka. Dan itu terjadi dengan tidak sadar. Dalam kondisi tidak siap seperti sekarang, belajar menjadi lebih sulit lagi. Setelah melalui zoom meeting, misalnya, murid tidak menemukan tempat bertanya saat tidak paham, tidak ada feedback dari guru, apalagi perhatian individu. Lebih mengenaskan lagi jika kuotanya terbatas.

Sekali lagi, tidak ada yang berubah jika mindset juga belum berubah. 

Apakah tidak ada perubahan sama sekali?

Pasti ada. Minimal banyak guru dan murid yang telah mencicipi fungsi internet, gawai, dan aplikasi-aplikasinya untuk pembelajaran. Kini, banyak guru yang lebih dekat dengan internet dan manfaatnya bagi pembelajaran.

Namun, ingat, layaknya seorang pemuja lidah, setelah mencicipi masakan tertentu di sebuah warung, maka selalu memiliki dua kemungkinan; kembali lagi karena merasa nyaman dan enak atau tidak kembali karena alasan tertentu.

Itulah refleksi PJJ hingga sejauh ini.

Tengoklah ke belakang!, perubahan-perubahan dalam pendidikan akan terjadi lebih karena penemuan, baik yang teoritis maupun praktis. Misalnya, penemuan kertas, mesin cetak, televisi, internet, dan media sosial. Atau yang bersifat teori pemikiran, misalnya psikologi positif, multiple intelligence, neurosains, dan teori-teori lainnya.

Sekali lagi, jika bel sekolah atau sejenisnya terus membatasi waktu belajar, maka kreativitas dan kemajuan akan terhambat. Jika PJJ dilakukan dengan masih menggunakan standar tatap muka langsung, harapan berubah terhadap pendidikan kita belum akan muncul.

Bayangkan jika ada yang mengatakan kepada Einstein, “Oke, selesaikan urusan relativitas itu!. Kita akan lanjut ke palajaran berikutnya, yaitu sejarah Eropa”

Atau ke Michelangelo, “Waktunya sudah habis untuk atap itu. Sekarang waktunya mencat tembok”.

Ambyar semua. Jika PJJ masih belanjut, kondisi ini tidak berubah, maka berat ferguso….

Salam. 

Author: Ali Fauzi

Orangtua, Guru, Penulis, Pembaca, dan Pembelajar.

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.