Apakah Pandemi Mengubah Pendidikan Kita? Sudahkah Engkau Melihat Cahaya Di Ujung Terowongan Covid-19?

Share
pendidikan era pandemi || sumber gambar: pxhere

Oleh: Ali Fauzi

Jika engkau seolah sudah melihat cahaya akhir pandemi di ujung terowongan, tunda dulu rasa gembiramu! Kaena memang belum dan tidak ada yang tahu. Sekarang, mari kita lihat cahaya pendidikan di ujung terowongan.

Ketika UNESCO melaporkan adanya 1,6 milyar anak yang putus sekolah pada krisis akibat pandemi ini dan laporan Bank Dunia menunjukkan bahwa Covid-19 kemungkinan akan menyebabkan kemiskinan ekstrem sejak 1998. Dan yang sudah kita saksikan bersama adalah terbukanya kesenjangan digital. Maka, inilah ruang gelap yang kita hadapi bersama.

Tidak ada yang bisa memprediksi terhadap dunia setelah semua ini berlalu. Banyak yang hanya berharap kembali normal dan segera memulai lagi di tempat yang sama saat awal pandemi. Tidak sedikit juga yang berharap ada kenormalan baru yang menawarkan stabilitas, inovasi, dan kontinuitas.

Masing-masing negara memiliki titik fokus yang berbeda saat menghubungkan pandemi dengan pendidikan. Banyak negara menyimpulkan bahwa teknologi tidak cukup untuk mendidik anak-anak kita. Sampai-sampai Filsuf Pendidikan kelahiran Belanda, Gert Biesta, mengungkapkan bahwa dibutuhkan pandemi untuk membawa kembali pentingnya peran guru.

Sementara beberapa pihak dengan entengnya berani mengatakan bahwa kita harus menjadi digital dan “boleh” mengurangi peran guru.

Dalam pendidikan, cahaya apa yang engkau lihat di ujung terowongan covid-19? Sehingga muncul titik fokus pendidikan yang tidak sama dalam menyikapi pandemi ini?

Praktik pendidikan saat ini (fakta mayoritas) bukanlah online learning, blended learning atau sejenisnya. Ini hanyalah Pembelajaran Jarak Jauh. Ya, praktik-praktik tatap muka yang ditarik terpisah oleh jarak. Materinya sama, metode mengajar juga sama, sampai cara mengevaluasi juga sama. Karena berjarak, maka semua media berubah menjdai digital.

Andy Hargreaves, pakar pendidikan ternama, mengingatkan agar kita berhati-hati dalam menjaga keseimbangan antara teknologi dan pedagogi di sekolah (2020). Jangan sampai, teknolognya dipakai, pedagoginya tidak disertakan.

Memang kondisi ini darurat. Kondisi yang mengharuskan kita menomorsekiankan pendidikan. Kondisi yang “memenangkan” Maslow atas Bloom. Kondisi yang memosisikan kita dalam terowongan pendidikan yang gelap.

Bagaimana tidak, kita harus melakukan transisi digital dalam semalam. Padahal, transisi apapun tidak pernah terjadi secepat ini. Akibat dari transisi terpaksa ini, kita harus menyelesaikan sendiri kesulitan-kesulitan dalam menerapkan praktik-praktik pedagosis, seperti: pembelajaran kooperatif, fasilitator diskusi kelompok, pendampingan Pembelajaran berbasis Proyek, dan lain sebagainya.

Hasilnya adalah kalimat, “LAKUKAN CARA TERBAIK YANG MAMPU KAMU LAKUKAN”

Ada kata mampu di sana. Mampu secara akses internet, akses gawai, melek teknologi, dan seterusnya. Kemampuan itu tidak sama pada setiap murid dan setiap guru.

Sekarang, jika pilihannya adalah mendatangi cahaya ujung terowongan menuju dunia yang benar-benar berbeda, apakah kita siap? Harus siap.

Jika yang kita lakukan saat ini adalah proses tatap muka yang berjarak, maka penutupan sekolah yang hampir satu tahun ini hanya kita anggap sebagai pemadaman listrik, yang hanya sementara dan sejenak akan menyala lagi. Kondisi akan tetap sama seperti sebelumnya.  

Memang, butuh puluhan tahun untuk mendapatkan perubahan dari “mengajar” menjadi “belajar”, yakni mengubah peran guru dari orang bijak di atas panggung menjadi pembimbing di samping. Itupun diiringi krisis pendidikan yang meresahkan. Kondisi “krisis” juga pernah mewujudkan perubahan dalam pendidikan, yakni setelah perang dunia kedua.

Sekali lagi, kita memilih cahaya yang mana di ujung terowongan? Kita melihat cahaya ujung terowongan di belakang kita dan kembali seperti biasa, atau cahaya ujung terowongan yang ada di depan kita dengan kenormalan dan bersiap menata ulang pendidikan kita?

Namun, jika kita tetap kokoh bahwa kondisi ini adalah hanya seperti pemadaman listrik, maka kita benar-benar sudah memasuki masa krisis, bahkan sebelum pandemi dimulai.

Ingat, Haruskah dibutuhkan krisis untuk mewujudkan perubahan pendidikan?

Author: Ali Fauzi

Orangtua, Guru, Penulis, Pembaca, dan Pembelajar.

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.