Sekolah, Operator Drone, dan Youtuber

Share

Oleh: Ali Fauzi

Sekitar 100 meter dari rumahku, ada pool taksi. Kini, tempat itu lebih layak menjadi tempat barang bekas ketimbang pool taksi itu sendiri. Puluhan karyawan harus melepaskan kemudi taksinya setelah transportasi online mengaspal di jalanan.

Menurut Kang Har, saat ini zaman sedang bukan mendorong pengemudi delman agar beralih menjadi pengemudi taksi, tetapi sedang menggeser kuda di abad ke-19 untuk keluar dari arena pasar kerja. Kita bukan sedang menggeser, melainkan memindahkan dan mengganti.

Ya, Kang Har betul. Dia menulis dalam bukunya, 21 Lessons for the 21st century, “ketika anda tumbuh dewasa, anda mungkin tidak memiliki pekerjaan.” Nama lengkap Kang Har adalah Yuval Noah Harari.

Memang, salah satu sisi pendidikan adalah menyiapkan manusia agar mampu memenuhi kebutuhan hidupnya melalui bekerja. Saat ini, kita bingung. Di kelas-kelas tingkat dasar. Kita lebih memilih bertanya, “apa cita-citamu?” ketimbang bertanya, “masalah apa yang ingin kamu selesaikan?”. Di kelas yang lebih tinggi, kita menambah jam belajar dan semakin gencar melatih keterampilan kerja yang dibutuhkan saat ini.

Seringkali, pada akhirnya saat mereka lulus, keterampilan tersebut butuh pembaruan atau bahkan sudah usang. Banyak kita jumpai, kemampuan dari sekolah tidak nyambung otomatis dengan kebutuhan kerja.

Ingat, anak SD aat ini, masih akan hidup sampai tahun 2050. Bahkan bisa jadi ada yang masih aktif sampai tahun 2100. Keterampilan apa yang dia butuhkan untuk mendapatkan pekerjaan? Jangan-jangan apa yang mereka pelajari hari ini, sudah tidak relevan pada tahun 2050.

Seandainya sekolah pada saatnya nanti harus menyiapkan kemampuan-kemampuan dasar untuk menjadi youtuber atau opeator drone, jangan kaget. Bagaimanatidak? Perubahan begitu cepat. Maka, jangan heran juga jika dalam satu dekade saja, kemampuan miliaran orang akan menjadi mubazir secara otomatis.

Aku jadi teringat tahun 2015, saat George Couros menulis dalam bukunya The Innovator’s Mindset bahwa “kita harus menyiapkan anak-anak kita untuk pekerjaan yang belum pernah ada.”

Sekilas, apa yang ditulis Kang Har dan Kang George menggambarkan rasa pesimis. Tapi sebenarnya tidak. Itu hanyalah alarm agar kita siap menghadapinya.

Anda juga tidak perlu bingung. Belajar dan mengajar saja terus tanpa henti. Siapapun yang terus belajar, maka dialah yang paling siap menghadapi perubahan.

Renungan tambahan. Hampir semua mengakui bahwa pendidikan yang baik bisa menghasilkan ekonomi yang baik. Pendidikan adalah alat terbaik untuk mengurangi angka kemiskinan. Namun, sangat sedikit yang berani mengakui bahwa silabus dan kurikulum kita, jangan-jangan, disusun dan didesain oleh korporasi kapitalisme.

Jika memang iya, bersiaplah menuai apa yang kita tanam.

Akhirnya, apapun kondisinya, seberapapun cepatnya timbul dan tenggelamnya sebuah pekerjaan, Kang Harari menyimpulkan bahwa pada akhirnya yang harus kita lindungi adalah MANUSIA, bukan pekerjaan.

Continue Reading