KAJIAN BUDAYA LINTAS DISIPLINER

Jawa Pos, 11 September 2006
Judul buku : Cultural Studies; Teori Dan Praktik
Penulis : Chris Barker
Penerjemah : tim KUNCI cultural studies center
Tebal : xiii+568 hlm.
Cet. : I, Februari 2005
Penerbit : Bentang, Yogyakarta

Akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, kita menyaksikan kebudayaan dunia mengalami kekacauan yang luar biasa. Pergeseran makna kebudayaan terjadi tanpa kontrol. Inilah dunia tak pasti di mana metafora-metafora relasi yang tertata dan pasti antara yang ekonomi, sosial, politik, dan kultural tersingkir oleh relasi-relasi yang lebih kacau, menyebar dan disjungtif.
Meski dalam masa ini, kekuatan-kekuatan homogenisasi kultural memang ada, namun heterogenisasi dan lokalisasi kultural yang terjadi juga sama signifikannya. Karena itu, di ujung abad ke-20 dan awal abad ke-21 ini, globalisasi dan hibriditas dalam kebudayaan adalah konsep-konsep yang lebih pas ketimbang imperialisme dan homogenitas. Kekacauan global tidak hanya berimplikasi pada batas-batas negara bangsa, melainkan terimplikasi lebih luas dalam proses globalisasi yang justru mempertanyakan keberadaan garis-garis batas antar masyarakat dan antar kebudayaan. Atas dasar inilah kajian kebudayaan harus menemukan makna dan langkah baru.
Buku ini mencoba menawarkan, baik secara teoritis maupun secara praktis, langkah dan metode baru dalam kajian kebudayaan (cultural studies). Sebuah kajian kebudayaan bisa dipengaruhi dari beberapa pemikiran. Misalnya oleh Marxisme, yang dalam hubungannya dengan kebudayaan telah sama-sama berkomitmen untuk melakukan perubahan lewat agensi manusia dengan mengkombinasikan teori dan aksi. Atau juga dipengaruhi oleh kulturalisme yang memberikan kapasitas aktif dan kreatif manusia dalam membentuk praktik-praktik bersama yang sarat makna, juga ada pengaruh dari strukturalisme, pascastrukturalisme, psikoanalisis, dan politik perbedaan (semisal feminisme, teori ras, etnisitas, dan pascakolonialisme). Yang kesemuanya mencoba menganalisis kebudayaan dari berbagai aspek kehidupan yang lebih menekankan kontekstualisasi. Dan Cultural studies lebih mengarahkan kebudayaan dalam makna antropologisnya yang lebih dekat.
Sebuah kebudayaan terdiri dari nilai-nilai dan simbol. Nilai-nilai budaya itu tidak kasat mata, sedangkan simbol budaya yang merupakan perwujudan nilai itulah yang kasat mata. Candi, masjid, istana, gedung, kuburan, misalnya, adalah perwujudan dari nilai-nilai budaya masyarakatnya. Nilai-nilai budaya selalu hadir dalam setiap perwujudan. Bahkan, pada benda yang tampaknya tidak dimaksudkan sebagai simbol budaya. Sebuah pabrik, misalnya, juga mengandung nilai budaya. Nilai itu ialah efisiensi, kerja sama yang terorganisasikan, pembagian kerja, dan hierarki sosial.
Persoalan makna dan simbol dalam kebudayaan manusia inilah yang sebenarnya menjadi titik fokus utama perhatian buku ini. Bagaimana sebuah nilai dipersepsi oleh masyarakatnya, bagaimana nilai-nilai itu diproduksi dan diikuti, serta kepentingan-kepentingan apa yang terkait di dalamnya. Sehingga, dengan penegasan sebuah makna, akan lahir sebuah identitas kebudayaan tertentu. Namun, lebih dalam bahwa identitas tersebut bukanlah sesuatu yang tetap dan universal, melainkan sebuah deskripsi dalam bahasa. Sebagaimana gaya Derridean, ada sebuah penekanan ketidakstabilan makna. Tidak ada kategori yang punya makna universal, semuanya adalah konstruksi sosial bahasa.
Titik fokus kajian budaya dari aspek kebahasaan, sebagaimana ditunjukkan dalam buku ini, merupakan kajian yang harus difikir ulang. Karena, meskipun pendekatan kritisnya tidak melupakan aspek yang lain, namun sebuah kajian kebahasaan sangat dekat dengan penafsiran. Dan setiap penafsiran adalah persepsi sarat makna. Dan inilah yang seringkali harus berbenturan dengan kajian kebudayaan, di mana wilayah kajiannya langsung menyentuh dimensi kehidupan sehari-hari. Seberapa jauhkah kajian cultural studies ini dapat berjalan?
Secara lebih ketat, Cultural studies didefinisikan sebagai sebuah formasi diskursif, yaitu “sekumpulan (formasi) gagasan, citra, dan praktek yang menyediakan cara-cara untuk berbicara tentang, menyediakan bentuk-bentuk pengetahuan dan tingkah laku yang diasosiasikan dengan, suatu topik, aktivitas sosial atau wilayah institusional tertentu dalam masyarakat”.
Cultural studies merupakan fenomena penting dan kontroversial dalam dunia akademis, terutama bidang humanities selama kurang lebih tiga dekade terakhir. Bukan saja lantaran ia adalah “gerakan akademis” yang multidsipliner (melibatkan sastra, sejarah, antropologi, dan filsafat sekaligus), melainkan juga melampaui dinding disiplin ilmu, bahkan dinding akademis. Pretensinya bukanlah kajian-kajian yang steril yang selama ini tampak dalam disiplin akademis yang ada, melainkan kajian yang berwatak emansipasi, yakni berpihak kepada yang terpinggirkan dan tak tersuarakan baik dari segi kelas sosial, ras, maupun gender—dalam kanon resmi suatu kebudayaan.
Penelitian kajian budaya berpusat pada tiga pendekatan; pertama, etnografi, yang sering dikaitkan dengan pendekatan-pendekatan kulturalis dan penekanan pada “pengalaman hidup sehari-hari.” Kedua, pendekatan tekstual, yang cenderung mengambil dari semiotika, pasca strukturalisme dan dekonstruksi derridean. Dan ketiga kajian resepsi, yang akar teoretisnya bersifat eklektik.
Dari beberapa pendekatan tersebut, tampak karakteristik cultural studies bersifat: penolakan terhadap esensialisme dalam kebudayaan. Melihat kebudayaan sebagai efek hegemoni dengan sendirinya mengakui proses konstruksi sosialnya. Budaya tidak terbentuk secara alamiah, given dan menyatu dengan komunitas tertentu, melainkan selalu didekonstruksikan. Dan dalam proses konstruksi, pertarungan memperebutkan pemaknaan pun terjadi. Selain merupakan konstruksi sosial, budaya juga selalu bersifat hibrida. Tidak ada yang tetap dan tegas dalam identitas budaya. Juga tidak ada yang murni dan monolitik. Budaya merupakan situs bagi proses negosisasi yang tak putus-putus yang dilakukan oleh para pelaku kebudayaan itu sebagai respon terhadap kondisi kekiniannya.
Cultural studies memberikan karakteristik lanjutan dengan memberikan penghargaan terhadap budaya sehari-hari, teruatama budaya pop dan media. Adalah prestasi besar bagi cultural studies untuk dapat merelativir perbedaan high culture dan mass culture. Jika relativisasi itu dilihat sebagai upaya ‘counter-hegemoni’ dan ‘perayan kemajemukan’, maka relativisasi perbedaan high culture dan mass culture mesti dilihat sebagai suatu prestasi.
Karakteristik yang tak dapat dipisahkan dari cultural studies karakteristik yang bersifat kuat dalam politik. Baik dari jalur Gramsci maupun Foucault, cultural studies adalah suatu agenda politik dalam dunia akademi. Perhatian mereka adalah penelanjangan terhadap hubungan kuasa yang timpang dalam kebudayaan. Unsur politik ini, terutama, terkait dengan proses produksi makna, kekuasaan, ideologi, juga hegemoni.
Dimensi kebudayaan manusia adalah dimensi kemanusiaan itu sendiri. Kajian komprehensif atas kebudayaan merupakan kebutuhan yang tak terelakkan. Karena bagaimanapun, persepsi tentang kebudayaan tertentu terkait dengan kualitas makna yang dikandungnya. Dan ini akan berpengaruh dalam kehidupan masyarakat, tidak hanya antar daerah, melainkan juga antar bangsa dan antar peradaban.
Menyadari pluralitas budaya pada masa kini sudah menjadi kesadaran umum pengkajian jejak-jejak absolutisme dalam pemikiran apapun, termasuk cultural studies, yang sama sekali tidak berarti mencari kebenaran sejati yang universal. Secara lebih luas, kajian cultural studies adalah upaya menemukan kebenaran kontekstual.[]

Share
Continue Reading

Sejarah Uang

pernah dimuat di Suara Merdeka, 14 Agustus 2005

Judul : Sejarah Uang
Judul asli : The History of Money
Penulis : Jack Weatherford
Penerjemah : Noor Cholis
Tebal : xxxiii + 427 hlm.
Cet. : I, Juli 2005
Penerbit : Bentang, Yogyakarta

Sejak ditemukannya uang tiga ribu tahun yang lampau, orang bertikai memperebutkan dan berusaha keras mendapatkannya sebanyak mungkin dalam bentuk apa saja; batangan emas, keping perak, koin tembaga, uang kertas, atau kulit kerang cowrie.
Di sisi lain, uang sanggup menghubungkan dua masyarakat yang sangat berbeda untuk memenuhi impian yang sama. Orang yang ada di pasar pedalaman Kalimantan dan para pengusaha di Amerika Serikat, misalnya, bisa dihubungkan dalam sebuah sistem pasar dunia dimana uang menjadi aktor utama. Mereka digerakkan oleh bahasa yang sama—uang. Saat ini, kita telah memasuki persimpangan dunia dalam memasuki hubungan antara masyarakat dan uang.

Dengan moneterisasi yang berlari begitu kencang, hampir semuanya bisa dinyatakan menurut sebuah denominator umum yang bernama uang. Dengan cara demikian, sebuah sistem nilai bersama ditetapkan untuk menghitung nilai hampir segala sesuatu, mulai dari sekedar roti hingga puisi, dari sejam layanan seks hingga pajak, atau dari tempat-tempat makan anak domba hingga ongkos sewa sebulan. Semua menjadi begitu sederhana dengan uang. Uang menciptakan sebuah cara yang sepenuhnya baru untuk mengorganisasi kehidupan manusia.

Buku karya Antropolog Jack Weatherford ini, mengamati peran uang dalam membentuk kebudayaan manusia. Weatherford menyajikan ulasan sejarah uang dengan sangat detail. Mulai dari pengaruh uang terhadap sistem jual-beli manusia, pergesekan uang dan politik, persinggungannya dengan agama, pertautannya dengan karya sastra, sampai keterkaitannya dengan revolusi ilmu pengetahuan.

Menurut Weatherford, uang telah mengalami tiga revolusi; uang koin, uang kertas, dan uang elektronik. Sejak awal kemunculannya, Uang tidak pernah hadir dalam kehampaan kultural ataupun sosial. Bukan sekedar obyek tak berjiwa, ia adalah sebuah institusi sosial. Kebutuhan akan uang muncul pada saat seseorang ingin mendapatkan segala sesuatu di luar miliknya. Bangsa Aztec menggunakan cokelat atau biji kakao sebagai uang, bangsa-bangsa lainnya menggunakan kulit kerang cowrie, gigi binatang, dan sebagainya. Semua alat komoditas tersebut digunakan sebagai alat tukar untuk mendapatkan benda-benda yang diinginkan.

Perjalanan uang sebenarnya memang rumit dan mencemaskan, sebab pada dasarnya ia merupakan perjalanan dari benda-benda ke komoditas. Ketika barter komoditas makanan dirasa tidak memadai lagi, maka perhatian diarahkan ke logam-logam; perak, perunggu, emas, timbal, kuningan dan sebagainya. Pada abad 7 SM. uang koin pertama dibuat di Lydia. Dan dengan luar biasa, uang koin mampu menggerakkan revolusi perdagangan, dari sekedar barter biasa menuju pasar perdagangan yang sesungguhnya.

Sistem perdagangan dunia modern dibuka dengan pelayaran Christopher Columbus ke dunia baru dan Vasco da Gama ke India. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kapal-kapal malang melintang di laut lepas, mengunjungi pelabuhan hampir di setiap benua dalam sebuah jaringan perdagangan global. Pelayaran Columbus dan Vasco da Gama membuka zaman merkantil besar perdagangan internasional. Aktifitas menjual barang, akhirnya dilengkapi juga dengan perdagangan uang yang meliputi layanan penukaran uang, dan peminjaman uang. Proses ini terus meluas, dan puncaknya pada tahun 1422 terdapat tujuh puluh dua ‘bank internasional’ beroperasi di Florensia.

Diciptakannya uang kertas pada masa Renaissans, semakin membuka lebar perdagangan dunia. Uang kertas pertama digunakan di Cina, namun tidak menyebar dan berkembang. Pada Juli 1661, Bank Stockholm Swedia menerbitkan surat uang pertama di Eropa untuk mengatasi kekurangan koin perak. Sedangkan eksperimen nasional pertama dalam menggunakan uang kertas dilakukan di Perancis. Semua mengalami kegagalan. Uang kertas berkembang sangat bagus justru terjadi di Amerika Utara, dengan tokohnya, Benjamin Franklin, yang dijuluki sebagai Bapak uang kertas. Hingga abad ke-20 uang kertas memainkan peranan penting. Dan abad ke-20 dijuluki sebagai abad uang kertas.

Pada paruh kedua abad ke-20, pembayaran tunai semakin kehilangan arti dan peran. Uang beralih dengan cepat dari kertas menuju plastik, lalu menjadi sekedar kerlip elektronik yang ditampilkan dalam komputer, tanpa eksistensi jasmani di luar domain elektronik. Beragam uang elektronik dan mata uang baru bermunculan; e-cash, e-money, cyber cash, DigiCash, cyberbuck, dollar, pound sterling, mark, baht, ringgit, kwanza, biplwelle, dan 200 nama aneh mata uang lainnya. Semua memperkaya kebutuhan manusia.
Perdagangan kini tidak hanya berdasarkan kebutuhan akan barang, melainkan telah menuju era perdagangan mata uang. Hantu uang elektronik memiliki kekuatan jauh lebih besar dari pada bank atau korporasi terbesar; ia bahkan mempunyai kemampuan untuk memaksa para politisi negara-negara ekonomi terkuat dunia, patuh terhadap kehendak semaunya dan gerak tak terduganya. Dunia Cyber benar-benar telah merubah dunia menjadi kian praktis, efisien, dan serba cepat.

Ketika uang menjadi kian penting, pertarungan baru dimulai untuk memperebutkan kontrol atas uang pada abad berikutnya. Sejarah berulang kali memperlihatkan bahwa tidak ada pemerintah atau pasar, yang berdiri sendiri, yang mampu mengatur uang. Dari Nero hingga Nixon, dari denarius Romawi semasa pemerintahan Nero hingga assignat Perancis semasa Duke of Arkansas, para politisi dan pemodal menciptakan sistem moneter baru yang diniatkan untuk memperbaiki sistem perekonomian, tetapi ujung-ujungnya, sistem uang yang direduksi nilainya itu pun roboh.

Uang telah menjadi sebuah persekongkolan yang tak diucapkan. Dengan uang, bisa kita sulap sejumlah galon minyak jadi sejumlah suara demonstran, sebuah rumus obat jadi sekantong gandum, sebuah karya Rembrandt jadi sejumlah traktor. Uang juga telah mengilhami beberapa karya sastra. Karya Shakespeare The Merchant of Venice, menjadikan uang sebagai fokus utama. Atau juga Faust karya Goethe yang diilhami oleh kegagalan produksi uang kertas secara massal di Eropa.

Selain bertaburan informasi-informasi ringan yang mudah diikuti, buku ini juga menyajikan sebuah data-data sejarah yang menarik tentang uang. Weatherford mengutip dan mengkritik Plato, Voltaire, Newton, Michelangelo, Shakespeare, Goethe, L. Frank Baum. Yang kesemuanya membangun bersama peradaban manusia yang rumit ini.
Perjalanan sejarah uang, pada hakekatnya adalah perjalanan kebutuhan manusia itu sendiri. Orang pun akan diam atau ia justru akan bergerak karena angka-angka yang diciptakan uang. Akhirnya, sebagaimana kata Aphra Behn, seorang dramawan abad ke-17, dalam lakonnya The Rover, “uang berbicara dalam semua bahasa yang dimengerti semua bangsa”. []

Share
Continue Reading