Senang Karena Hilangnya Jabatan Ketua Kelas

semangat ke sekolah || 4.bp.blogspot.com

Oleh: Ali Fauzi

Ma, Aku Harus Sekolah dan Berangkat Pagi-pagi. Hari Ini Aku Piket

Peristiwa ini terjadi setelah aku menghapuskan jabatan ketua kelas

Pembelajaran sudah tiga bulan lebih. Tidak ada ketua kelas lagi. Yang buru-buru aku buat di awal tahun adalah daftar piket kelas.

Ini adalah tahun keduaku mencoba menggabungkan tugas ketua kelas dan tugas piket menjadi satu. Tahun pertama memberikan banyak sekali pelajaran.

“Jika hari ini bapak bertanya kepada kalian siapa ketua kelas kalian, maka yang menjadi ketua kelas adalah petugas piket hari ini. Begitu juga besok dan seterusnya.”

Share
Continue Reading

Bahayanya Berkata “Namanya juga anak-anak…”

Cinta yang tegas || i.huffpost.com

Oleh: Ali Fauzi

Namanya Mr. X. Dia guru SMP Kelas IX. Siang itu, seorang murid mendatanginya dengan sebuah berita. Tentu saja bukan berita biasa. Di usia seperti itu, murid melaporkan sebuah kejadian sudah bukan lagi karena mencari perhatian. Bagi sebagian besar mereka, daripada mencari perhatian guru lebih baik mencari perhatian teman lawan jenisnya.

Isi beritanya adalah kasus asusila dan pornografi. Dalam satu tarikan nafas, badan Mr. X mengejang kaget. Gerak tubuhnya berhenti sesaat. Selang beberapa waktu, dia berpikir sejenak sebelum akhirnya melanjutkan aktivitas lain.

Hari berikutnya. Berita itu berlari dengan cepat, lebih cepat dari lompatan kucing liar saat kita siram air. Jika ingin mengetahui berita yang merayap lebih cepat katimbang berita hoax, maka jenis berita ini adalah salah satunya.

Share
Continue Reading

Anak Harus Tahu Bahwa Gagal Itu Positif

Makna kegagalan || vix.com

Oleh: Ali Fauzi

Setiap kali latihan soal,  biasanya hanya dua soal, aku sering mengucapkan alhamdulillah ketika ada siswa yang salah dalam menyelesaikan tugasnya.

“Kok, bapak bilang Alhamdulillah. Kan saya salah”.

“Anak yang salah karena telah berusaha sendiri, berarti dia akan menjadi paham dan pintar. Ayo berusaha lagi. Mana yang masih kamu bingungkan?”

Pertama, saya ingin membiasakan anak dengan kegagalan. Saya ingin setiap anak meyakini bahwa kegagalan bukanlah identitas. Ya, identitas bahwa akhirnya “saya menjadi orang gagal”. Kegagalan harus menjadi keyakinan sebagai tindakan. Yang berarti bahwa jika saya gagal maka saya akan mengubah tindakan untuk berusaha lagi.

Share
Continue Reading

‘Mengamputasi’ kebiasaan; Proses Penting Dalam Pendidikan Karakter

mengubah kebiasaan || pixabay.com

Oleh: Ali Fauzi

Aku memulainya dari sebuah “bisikan”.

Tangannya sedang asyik memegang penggaris. Dia berlarian mengintai temannya seolah sedang baku tembak. Dor… dor.. itulah keasyikan bermain tanpa batas bagi anak. Aku mengenalnya sebagai sosok yang tenang, sedikit berbicara, dan senang bermain. Di antara semua keceriaannya, satu yang menarik perhatianku, yaitu kebiasaannya menggigit dasi.

Saat belajar, saat menunggu giliran, atau saat mengerjakan tugas yang agak sulit, tangannya memegang dasi dan langsung masuk mulutnya. Berputar-putar dan digigit sampai basah kuyup. Sungguh, tidak ada yang salah dengan kebiasaan tersebut. Tidak mengganggu belajar ataupun mengganggunya saat berteman dan bermain.

Hanya, sesekali temannya akan meneriakkan, “jijik, jijik, jorok,” dan tangannya langsung mencabut dasi dari mulutnya.

Share
Continue Reading

Tontonlah Film Yang Tidak Happy Ending! Inilah Alasannya

sad movie || zimbio.com

Oleh : Ali Fauzi

Menonton film happy ending sangatlah positif. Ternyata, menonton film yang tidak happy ending jauh lebih banyak manfaatnya.

Film happy ending membuat penontonnya berseri-seri dan berbunga-bunga. Film yang tidak happy ending justru membuat penontonnya bahagia lebih lama lagi.

Profesor komunikasi, Silvia Knobloch-Westerwick dan koleganya di Universitas Ohio State melakukan penelitian yang mengungkapkan bahwa menonton film sedih atau tragis sebenarnya membuat orang merasa lebih bahagia. Orang menjadi lebih meningkatkan perhatiannya pada aspek-aspek yang lebih positif dari kehidupan mereka sendiri.

Share
Continue Reading