“The Art of War” Dalam Mendidik Anak

source: medium.com

One hundred victories in one hundred battles is not the most skillful. Subduing the other’s military without battle is the most skillful

Sun Tzu

Apakah kalau kita memaksaa anak untuk diam, itu pertempuran?

Apakah kalau kita, dengan dominasi kita sebagai orang dewasa, memerintah anak untuk tunduk tanpa alasan juga merupakan pertempuran?

Silakan Tafsirkan sendiri.

Kalau anda mampu menaklukkan hati anak didik karena “bertempur”, bisa jadi itu bukan cara atau metode terbaik. Pasti ada cara meluluhkan hati di mana anak-anak memulai langkah bukan dengan rasa takut.

Arti “bertempur” sangat beragam. Seni perang Sun Tzu ternyata bisa kita terapkan dalam mendidik anak. Tentu, dalam tafsiran yang sesuai.

Share
Continue Reading

Menaklukkan Si Pendiam

Ilustrasi: Seorang profesor menaklukkan anak pendiam yang jenius dalam film Good Will Hunting (1997)

Oleh: Ali Fauzi

Saat ini, dunia tidak bisa berhenti berbicara. Saat kita diam, maka orang lain yang berbicara. Pesan pendek, status di media sosial, timeline, twit, video youtube, dan percakapan lain terus bergerak tanpa henti. Sampai-sampai, penulis terkenal Amerika, Susan Cain, menulis buku bagus berjudul Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking.

Setiap tempat pasti ada pribadi yang aktif berbicara, ada juga yang memilih pasif. Dengan bisingnya media sosial, kategori anak pendiam lebih sulit didefinisikan.

Share
Continue Reading

Kajian Psikologi; Efek “Ikan Besar—Kolam Kecil”

anak minder || cognitivepsychology.blogspot.com

Oleh : Ali Fauzi

Perempuan itu beberapa kali mengusap dahi. Tangannya bergerak tak teratur saat bicara. Suaranya terputus-putus emosional. “Ada apa dengan anak saya ya pak? Dia tidak pernah mendapat nilai serendah ini kecuali sekarang. Di kelas sebelumnya, dia selalu masuk tiga besar”.

“Tidak ada masalah, ibu. Hanya…” jawab saya.

Ini adalah tahun pertama anaknya memasuki kelas unggulan. Sebuah konsep kelas di mana para anggota kelasnya diambil dari para peraih nilai tertinggi secara akademis di kelas sebelumnya. Dan anak tersebut, juga orangtuanya, terguncang hebat secara psikologis.

Share
Continue Reading

Jangan Lagi Gunakan Kalimat “jangan menyontek”. Inilah Pengganti Yang Tepat

mencontek || aplvblog.com

Oleh: Ali Fauzi

Setiap kata atau kalimat memiliki dampak psikologis dan sosial. Inilah salah satu alasan munculnya diksi.
Cobalah mengubah pesan, baik tertulis maupun lisan, dari “jangan menyontek” menjadi “jangan jadi penyontek”.

Terlihat sepele. Mari kita bedah apel dan durian ini! Tidak mungkin rasanya sama.

Share
Continue Reading

Penilaian Karakter; Harap-Harap Cemas Si Anak Cuek

Oleh: Ali Fauzi

Seorang anak memandang gambar pada papan tulis. Kertas yang dia lihat hanya bergambar tanda tanya dan sedikit tulisan di bawahnya.

Aku mendatanginya secara diam-diam. Bagi teman-temannya, dia adalah anak yang super cuek. Bahkan, menurutku, dia anak yang sangat kuat. Pujian tidak akan membuatnya terbang, kritikan juga tidak membuatnya tumbang. Selama ini, ranking atau kejuaraan apapun, baginya biasa saja. Namun kali ini, dia rela menatap gambar itu berlama-lama. Pasti ada sesuatu yang menarik hatinya.

“Kamu ingin fotomu ada di bagian mana?”, sapaku dengan suara lirih.

Share
Continue Reading

Senang Karena Hilangnya Jabatan Ketua Kelas

semangat ke sekolah || 4.bp.blogspot.com

Oleh: Ali Fauzi

Ma, Aku Harus Sekolah dan Berangkat Pagi-pagi. Hari Ini Aku Piket

Peristiwa ini terjadi setelah aku menghapuskan jabatan ketua kelas

Pembelajaran sudah tiga bulan lebih. Tidak ada ketua kelas lagi. Yang buru-buru aku buat di awal tahun adalah daftar piket kelas.

Ini adalah tahun keduaku mencoba menggabungkan tugas ketua kelas dan tugas piket menjadi satu. Tahun pertama memberikan banyak sekali pelajaran.

“Jika hari ini bapak bertanya kepada kalian siapa ketua kelas kalian, maka yang menjadi ketua kelas adalah petugas piket hari ini. Begitu juga besok dan seterusnya.”

Share
Continue Reading

Bahayanya Berkata “Namanya juga anak-anak…”

Cinta yang tegas || i.huffpost.com

Oleh: Ali Fauzi

Namanya Mr. X. Dia guru SMP Kelas IX. Siang itu, seorang murid mendatanginya dengan sebuah berita. Tentu saja bukan berita biasa. Di usia seperti itu, murid melaporkan sebuah kejadian sudah bukan lagi karena mencari perhatian. Bagi sebagian besar mereka, daripada mencari perhatian guru lebih baik mencari perhatian teman lawan jenisnya.

Isi beritanya adalah kasus asusila dan pornografi. Dalam satu tarikan nafas, badan Mr. X mengejang kaget. Gerak tubuhnya berhenti sesaat. Selang beberapa waktu, dia berpikir sejenak sebelum akhirnya melanjutkan aktivitas lain.

Hari berikutnya. Berita itu berlari dengan cepat, lebih cepat dari lompatan kucing liar saat kita siram air. Jika ingin mengetahui berita yang merayap lebih cepat katimbang berita hoax, maka jenis berita ini adalah salah satunya.

Share
Continue Reading