Pembelajaran Emosi Dan Karakter–Tips Manajemen Kelas Akhir Tahun

pendidikan emosi dan karakter || 42gears.com

Oleh: Ali Fauzi

Aku masuk kelas dan menayangkan sebuah foto. Beberapa foto muncul bergantian. Saat itu aku mengajar anak-anak kelas 5 SD. Aku sengaja fokus pada ekspresi anak-anak saat melihat foto itu kembali. Dan betul, aku melihat ekspresi yang unik.

Melihat foto kembali adalah salah satu caraku menutup tahun pembelajaran. Ya, hanya salah satu dan tentu masih ada yang lain. Tapi, ini adalah yang paling berkesan bagi anak-anak.

Foto yang mereka lihat adalah foto belajar kelompok di awal tahun. Terus, apa istimewanya?

Cara menyikapi perubahan.

Share
Continue Reading

Bukan Murid Yang Tidak Bisa, Tapi Gurunya Yang Kurang

jadilah guru hebat!! || SONY DSC

Oleh: Ali Fauzi

Jika ada murid yang tidak santun dalam bertutur kata, bisa jadi bukan muridnya yang salah. Bisa jadi gurunya yang kurang pintar dalam memilih kata-kata ketika membenci seseorang dan ketika kesal dan marah. Gurunya yang kurang kaya akan diksi ketika bermedia sosial. Gurunya yang kurang menghargai kesantunan. Gurunya yang kurang sabar dalam mengingatkan dan menegur ketika bibit-bibit ketidaksantunan muncul. Bisa jadi, gurunya yang kurang mengajarkan tanggung jawab dan risiko atas apa yang kita tulis dan ucapkan.

Bisa jadi, gurunya lupa mengajarkan bahwa akhlak harus diletakkan di atas ilmu.

Share
Continue Reading

Epidemi Kejahatan Dalam Pendidikan

bullying di sekolah || sumber gambar: goodtoknow.co.uk

Oleh: Ali Fauzi

Masih ingat dengan teori broken windows?.

Broken windows merupakan buah pikiran kriminolog James Q. Wilson dan George Kelling. Mereka berpendapat bahwa kriminalitas merupakan akibat tak terelakkan dari ketidakteraturan.

Teori ini berasumsi bahwa jika jendela sebuah rumah pecah namun dibiarkan saja, siapapun yang lewat cenderung menyimpulkan pastilah di situ tidak ada yang peduli atau bahwa rumah tersebut tidak berpenghuni.

Share
Continue Reading

Kisah “Siswa SD” Berusia 39 Tahun

ilustrasi || sumber gambar : mendozapost.com

Oleh: Ali Fauzi

Seorang guru, suatu siang di waktu istirahat sekolah, sambil menikmati tahu goreng bercerita tentang rumitnya mendidik anak. Di ruang guru, mereka biasa ngobrol ngalor ngidul. Terlebih jika ada murid yang kemauannya melebihi kemampuannya.

Jika seorang anak memiliki kemauan melebihi kemampuannya, maka itu percikan sukses yang tidak boleh diabaikan. Tidak perlu latah membatasi dengan kata-kata yang membunuh. “kamu belum waktunya belajar itu”, “Jangan tanya yang macam-macam”, “pelajari ini saja, jangan lebih!”, “jangan sok tahu!”, dan sebagainya.

Sambil nyeruput teh hangat, guru tersebut bercerita tentang perilaku murid yang dia hadapi.

Share
Continue Reading