Waktu Duduk dan Layar; Inovasi Yang Harus Kita Tinggalkan

Share
zoom fatigue || sumber gambar: The Asian Parent

Oleh: Ali Fauzi

Ada inovasi-inovasi yang lahir dalam praktik belajar mengajar selama masa pandemi. Tidak semua perubahan tersebut adalah positif. Tentu saja, ada inovasi yang perlu dipertahankan, ada juga yang harus segera ditinggalkan.

Ada sekolah yang memiliki jadwal ketat untuk melaksanakan zoom setiap hari, ada juga yang tidak. Bagi yang belum bisa zoom setiap hari, biasanya ingin menaikkan targetnya di tahun ajaran baru agar bisa zoom setiap hari. Bagi yang sudah melaksanakannya setiap hari, tentu akan menambah indikator baru. Contoh saja, aturan kamera semakin ketat yakni kamera harus selalu menyala dan harus memperlihatkan muka.

Apakah ini termasuk inovasi yang perlu dikembangkan?

Saya mencari data penelitian di dalam negeri tentang hal ini. Hasilnya belum ada. Secara pribadi, akhirnya saya selalu melakukan penelitian di kelas saya sendiri. Sebelum akhirnya saya menemukan ada penelitian tentang hal ini di luar negeri.

Michel J Petrili, presiden Thomas B. Fordham Institute, setelah meneliti tentang hal ini mengatakan bahwa praktik mengajar dengan mensyaratkan waktu duduk dalam durasi tertentu harus segera ditinggalkan.

Salah satu alasannya adalah, apa yang sebenarnya ingin kita capai dalam belajar? Kepatuhan atau ketercapaian?

Mari kita ulik!

Kita tumbuh dan belajar di ruang kelas tatap muka. Kita juga memiliki pengalaman mengajar di ruang kelas juga, maka kalau kita tergoda untuk memperlakukan belajar virtual seperti tatap muka biasa, maka itu adalah wajar. Sekarang, bagaimana ketika harus memilih antara kepatuhan dan ketercapaian belajar?

Di Indonesia, keduanya harus bisa kita capai. Tidak hanya hadir yang menjadi kewajiban seorang murid, namun sekolah mengiginkan murid hadir dengan penuh sopan santun dan keterlibatan. Bagi sebagian besar kita, bisa jadi ukuran kesopanan saat virtual meeting adalah menampakkan wajah ke layar dan menatapnya.

Akhirnya, kepatuhan berupa kehadiran tepat waktu dan menampilkan muka di layar adalah bagian penting pendidikan kita.

Di usia sekolah, kita harus melihatnya secara lebih luas. Kita juga harus melihat usia peserta pertemuan tatap maya. Menurut beberapa penelitian, semakin tinggi usia seseorang maka semakin tidak relevan mengukur efektivitas pertemuan virtual dengan kepatuhan untuk menyalakan layar dan menatapnya. Sedangkan di usia-usia semakin muda, maka menampakkan wajah di layar akan sangat bermakna.

Dalam proses belajar, maka sebaiknya kita mulai mempertimbangkan untuk mendesain pembelajaran dengan menyesuaikan kebutuhan murid sesuai usianya.

Sekarang, bagaimana dengan dampak fisik jika seorang murid setiap hari dengan durasi waktu panjang harus duduk dan menatap layar terus menerus? Pasti ada akibat yang tidak ringan.

Lantas, bagaimana dengan ketercapaian belajar? Sebelumnya, tentukan terlebih dahulu target capaian belajarnya! Kemudian baru kita tentukan pengaturan keseimbangan antara synchronous dan asynchronous learning.

Ingat, Kesuksesan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tidak identik dengan banyaknya synchronous learning.

Jika murid belum memliki kemandirian belajar, dan pertemuan virtual adalah satu-satunya waktu belajar, maka pertemuan virtual menjadi sangat penting. Namun, kita tetap harus berjuang menaikkan level belajar mereka kepada level belajar mandiri dengan projek dan tugas terukur. Terutama, untuk kelas yang lebih tinggi.

Seringkali yang membuat seorang guru terkunci pada kondisi menyamakan PJJ dengan tatap muka biasa adalah kebiasaan dan aturan. Sungguh, keduanya berbeda.

Merencanakan berubah adalah keharusan. Terlebih jika untuk hasil yang lebih efektif dan bagus.

Ingat, jangan pernah membiarkan seorang murid, baik saat synchronous atapun asynchronous, dalam kondisi tanpa instruksi dan target yang jelas.

Terimakasih.

Continue Reading

Murid Bahagia Dengan Sekolah Online; Bahagia Yang (Bisa Jadi) Salah

Share
sejutaguru || sumber gambar: Republika

Oleh: Ali Fauzi

“Rebahan saja sudah bisa naik kelas”. 

Saat ini, kelompok manusia (siswa) pendukung bangun siang menemukan momen untuk mengajukan alasan-alasan yang kuat. Mereka meyakini bahwa layar tidak bisa menilai apakah dirinya sudah mandi atau belum. Bahkan, saat layar hanya menunjukkan kepala bagian atas, seseorang di layar lain tidak bisa membedakan antara duduk atau rebahan.

Continue Reading

Waspada! Salah Kaprah Asesmen Nasional; (Bisa Tercabik-cabik Karena Salah Sikap)

Share
Asesmen Nasional || sumber gambar: medcom.id

Oleh: Ali Fauzi

Asessment bukanlah pertunjukan sulap yang siapapun cukup berlatih berulang-ulang dan menghafal polanya, maka pertunjukan bisa sukses. 

Inilah obrolan santai kami tentang AKM.

A: Pak, Ujian Nasional sudah dihapus ya? Katanya diganti AN (Asessmen Nasional). Betul nggak?

B: Yang aku tahu, betul. Tetapi, AN bukan pengganti UN.

A: Lha wong mas menteri mengatakan bahwa Ujian Nasional ditiadakan dan diganti dengan asesmen kompetensi minimal, survey karakter, dan survey lingkungan belajar.

B: Iya betul, tapi aku memahaminya tidak seperti itu.

Continue Reading

EFEKTIFKAH Pembelajaran Menggunakan “Zoom” ? Inilah Peluang-Peluang dalam Remote Learning

Share
remote learning || sumber gambar: selular.id

Oleh: Ali Fauzi

—untuk memahami penggunaan teknologi di sekolah, mulailah dengan memahami cognitive science dan cara kerja otak—

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) telah mengalihstatuskan semua guru sebagai guru baru. Meskipun tidak semua, mayoritas guru belum memiliki keahlian dalam merencanakan, mengaplikasikan, dan meng-evaluasi pembelajaran jarak jauh.

Secara intuitif, kita ingin meniru proses belajar tatap muka. Intuisi ini bisa saja tidak tepat saat kondisi belajar tidak lagi sama. Kehadiran aplikasi Zoom, microsoft teams, google meet, dll menggoda kita untuk meniru proses belajar tatap muka.

Continue Reading

LQ (Love Quotient), Kecerdasan Baru Yang Harus Murid Miliki

Share
peduli || sumber gambar: balipost.com

Oleh: Ali Fauzi

Bulan lalu, Jack Ma berbicara tentang pendidikan di World Economy Forum. Salah satu poin penting yang menjadi perhatian Jack Ma adalah bahwa perubahan pendidikan sebaiknya tidak berfokus pada kurikulum, melainkan pada kapasitas peserta didik. Di antara kapasitas tersebut adalah kapasitas LQ di samping IQ dan EQ.

Continue Reading

Jebakan Teknologi Dalam Pendidikan. Waspadalah!

Share
jebakan teknologi dalam pendidikan || sumber gambar: nytimes.com

Oleh: Ali Fauzi

Tahun 2011, New York Times menulis berita “In Classroom of Future, Stagnant Scores”. Tulisan tersebut membahas sebuah sekolah yang sejak tahun 2005 telah menginvestasikan sekitar 33 juta dolar dalam teknologi. 

Sayangnya, justru tidak berbuah baik.

Memang, hasilnya adalah ruang kelas berubah drastis. Setiap siswa menggunakan laptop dan tablet saat beajar, papan tulisnya digital dan dapat dikendalikan melalui komputer, ruang kelas pun hadir dengan kelengkapan digital yang membuatnya menjadi kelas dinamis abad 21. Bahkan, beberapa tugas dan informasi sekolah, mereka integrasikan ke sosial media.

Sayangnya, saat ujian sekolah, hampir seluruh wilayah lain mengalami peningkatan nilai ujian, sekolah tersebut dengan segala inovasinya, mengalami perolehan nilai yang stagnan dan tidak berkembang. Hal itu terjadi dalam beberapa tahun.

Continue Reading
1 2 3 7