Inilah Perubahan Termurah Yang Akan Membantu Jutaan Murid

mulailah dari kelas || dekoruma.com

Oleh: Ali Fauzi

Mulailah dari kelas, jangan yang lain!

Memperbaiki pendidikan—proses dan hasil—bisa menggunakan cara dengan istilah apa saja. Reformasi, reorientasi, evolusi, dan sebagainya. Bahkan ketika Sir Ken Robinson melihat kondisi yang ada saat ini, dia menyebut hanya kata “revolusi”-lah yang pantas untuk perbaikan pendidikan.

Milyaran rupiah, mungkin bisa jadi trilyunan, telah dihabiskan untuk melakukan perbaikan di bidang pendidikan. Kurikulum baru, sistem baru, metode baru, buku baru, dan seterusnya. Padahal, hampir semua pembahasan baru menyentuh satu bagian saja, yakni sekolah. Dan pendidikan lebih luas dari sekadar sekolah.

Share
Continue Reading

Senang Karena Hilangnya Jabatan Ketua Kelas

semangat ke sekolah || 4.bp.blogspot.com

Oleh: Ali Fauzi

Ma, Aku Harus Sekolah dan Berangkat Pagi-pagi. Hari Ini Aku Piket

Peristiwa ini terjadi setelah aku menghapuskan jabatan ketua kelas

Pembelajaran sudah tiga bulan lebih. Tidak ada ketua kelas lagi. Yang buru-buru aku buat di awal tahun adalah daftar piket kelas.

Ini adalah tahun keduaku mencoba menggabungkan tugas ketua kelas dan tugas piket menjadi satu. Tahun pertama memberikan banyak sekali pelajaran.

“Jika hari ini bapak bertanya kepada kalian siapa ketua kelas kalian, maka yang menjadi ketua kelas adalah petugas piket hari ini. Begitu juga besok dan seterusnya.”

Share
Continue Reading

Pendidikan Karakter Dari Lionel Messi

messi || sport.detik.com

www.sejutaguru.com||

Ini adalah bocoran dari pelatihnya saat ini.

“Messi normal saja melakukannya karena kita selalu melihatnya. Di antara kita, itu tidak normal, tapi Messi melakukan hal-hal luar biasa dan membuatnya menjadi kebiasaan”, ujar pelatih Ernesto Valverde.

Komentar itu dia katakan ketika Messi mencetak hat-trick dan mengantarkan Barcelona menang 4-0 saat menjamu PSV pada Selasa (18/9/2018).

Yang istimewa adalah kalimat “melakukan hal-hal luar biasa dan membuatnya menjadi kebiasaan”. Inilah awal mula pendidikan karakter, yaitu membangun kebiasaan.

Saya teringat buku Daniel Kahneman yang berjudul Thinking, Fast and Slow. Buku bagus yang akan memperkaya fondasi berpikir kita sebagai pendidik. Buku yang menjelaskan bahwa ada dua sistem cara kita berpikir. Sistem 1 adalah yang cepat, intuitif, dan emosional. Sistem 2 adalah yang lebih lambat, penuh pertimbangan, dan sangat logis.

Share
Continue Reading

Anak Harus Tahu Bahwa Gagal Itu Positif

Makna kegagalan || vix.com

Oleh: Ali Fauzi

Setiap kali latihan soal,  biasanya hanya dua soal, aku sering mengucapkan alhamdulillah ketika ada siswa yang salah dalam menyelesaikan tugasnya.

“Kok, bapak bilang Alhamdulillah. Kan saya salah”.

“Anak yang salah karena telah berusaha sendiri, berarti dia akan menjadi paham dan pintar. Ayo berusaha lagi. Mana yang masih kamu bingungkan?”

Pertama, saya ingin membiasakan anak dengan kegagalan. Saya ingin setiap anak meyakini bahwa kegagalan bukanlah identitas. Ya, identitas bahwa akhirnya “saya menjadi orang gagal”. Kegagalan harus menjadi keyakinan sebagai tindakan. Yang berarti bahwa jika saya gagal maka saya akan mengubah tindakan untuk berusaha lagi.

Share
Continue Reading

‘Mengamputasi’ kebiasaan; Proses Penting Dalam Pendidikan Karakter

mengubah kebiasaan || pixabay.com

Oleh: Ali Fauzi

Aku memulainya dari sebuah “bisikan”.

Tangannya sedang asyik memegang penggaris. Dia berlarian mengintai temannya seolah sedang baku tembak. Dor… dor.. itulah keasyikan bermain tanpa batas bagi anak. Aku mengenalnya sebagai sosok yang tenang, sedikit berbicara, dan senang bermain. Di antara semua keceriaannya, satu yang menarik perhatianku, yaitu kebiasaannya menggigit dasi.

Saat belajar, saat menunggu giliran, atau saat mengerjakan tugas yang agak sulit, tangannya memegang dasi dan langsung masuk mulutnya. Berputar-putar dan digigit sampai basah kuyup. Sungguh, tidak ada yang salah dengan kebiasaan tersebut. Tidak mengganggu belajar ataupun mengganggunya saat berteman dan bermain.

Hanya, sesekali temannya akan meneriakkan, “jijik, jijik, jorok,” dan tangannya langsung mencabut dasi dari mulutnya.

Share
Continue Reading