Ranking Dunia; Mau Paling Bahagia, Paling Pintar, Atau Paling Kaya?

negeri paling bahagia || ceoworld.biz

Oleh: Ali Fauzi

“Uang tidak bisa membeli kebahagiaan”. Itulah yang bisa kita tangkap dari ranking dunia di bawah ini. Di sisi lain, Apakah pendidikan yang baik bisa memberikan jaminan kebahagiaan? Mari kita lihat ranking dunia tahun 2018 di bawah ini!

Negara dengan sistem pendidikan terbaik dunia tahun 2018:

Share
Continue Reading

Merasa Termotivasi Saja Tidak Cukup; Inilah Perspektif “Kegagalan”

Oleh: Ali Fauzi

Kata “gagal” dan “kegagalan” sungguh menghasilkan respon yang unik.

LUCUNYA, ada yang beranggapan gagal=bohong.

Apakah kalimat di bawah ini memotivasi kita? Jika iya, maka belum cukup.

Seorang ilmuwan memandang kegagalan sebagai sebuah informasi. Kegagalan adalah sebuah data yang menunjukkan bahwa kita tidak lagi harus melewati jalan dan cara yang sama. Sebuah informasi yang berisi sekumpulan data dan hasil yang kita beri nama kegagalan. Sebagai sebuah informasi, maka kegagalan tidak menghambat apapun.

Share
Continue Reading

Ruang Kelas …

belajar di mana saja || harnas.co

Rumah adalah ruang kelas sesungguhnya bagi anak. Kini, ruang kelas lebih banyak lagi.

Media online menjadi ruang kelas yang paling terbuka. Ketika rumah sudah mulai sepi dari nasihat, contoh baik, dan sepi penghuni, maka media online memenuhi ruang kosong anak-anak.

Model hidup yang kita tampilkan di rumah kepada anak-anak kita akan mejadi pelajaran dan pengalaman nyata bagi anak-anak. Apa yang kita bicarakan, respon kita terhadap banyak hal, dan cara kita mengurus rumah, semua akan masuk rekaman memori anak.

Media online hampir “merebut” peran semua ruang kelas yang ada.

Youtube. Inilah ruang kelas terbesar dalam sejarah setelah Google. Setiap orang bisa belajar dan berbagi apa saja di youtube.

Media sosial (facebook, instagram, twitter, dll) lebih masif lagi. Banyak anak mencari figur, mencari jati diri, dan menjelajah kebanggaan diri melalui media sosial. Memang itulah ruang kelas baru bagi mereka.

Apakah Google, Youtube, dan media-media sosial bisa sepenuhnya menggeser peran guru? TIDAK.

Media online mampu menyesaki otak dengan big data yang wah. Pendidikan tidak hanya urusan otak. Ada pendidikan hati, emosi, dan spiritual.

Share
Continue Reading

Tontonlah Film Yang Tidak Happy Ending! Inilah Alasannya

sad movie || zimbio.com

Oleh : Ali Fauzi

Menonton film happy ending sangatlah positif. Ternyata, menonton film yang tidak happy ending jauh lebih banyak manfaatnya.

Film happy ending membuat penontonnya berseri-seri dan berbunga-bunga. Film yang tidak happy ending justru membuat penontonnya bahagia lebih lama lagi.

Profesor komunikasi, Silvia Knobloch-Westerwick dan koleganya di Universitas Ohio State melakukan penelitian yang mengungkapkan bahwa menonton film sedih atau tragis sebenarnya membuat orang merasa lebih bahagia. Orang menjadi lebih meningkatkan perhatiannya pada aspek-aspek yang lebih positif dari kehidupan mereka sendiri.

Share
Continue Reading

Jika Kepala Sekolah Tidak (Hadir) Memimpin

kepemimpinan || ywln.org

Oleh: Ali Fauzi

Selalu menarik ketika ngobrol dengan rekan guru di luar sekolah kita. Pengalaman tak terduga bisa muncul dari guru PNS sekolah negeri, guru honorer, juga guru sekolah swasta.

Kali ini, petikan kecil dari obrolan adalah tentang kepemimpinan kepala sekolah.

Semua kepala sekolah selalu bertanggungjawab terhadap tugasnya. Itulah kesimpulan obrolan kami. Hanya saja, gaya dalam memimpin sangat beragam. Ada yang sangat detail dan disiplin di semua bagian. Ada yang sangat longgar dan memberikan kebebasan kepada guru-gurunya untuk “bereksplorasi”. Kadang-kadang saking longgarnya, kehadirannya pun menyesuaikan kebutuhan tanda tangan.  Ada juga, kepala sekolah yang lebih rajin rapat dinas ketimbang hadir di sekolah. Dan sebagainya.

Perbedaan gaya itulah yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap proses pendidikan dan belajar mengajar di sekolah.

Share
Continue Reading

Kunci Sukses Bernama “GRIT”

grit www.sejutaguru.com

Oleh : Ali Fauzi

Duckworth berbicara dalam forum TED tentang teori dalam buku ini. Videonya telah ditonton lebih dari 13,5 juta kali. Kini, bukunya bisa kita nikmati.

Ketika disebutkan nama Mozart, Bill Gates, Steve Jobs, dan B.J. Habibie, maka respon pertama yang sering terdengar adalah “mereka adalah jenius, cerdas, dan berbakat”. Betul. Mereka memang demikian. Kecerdasan mereka telah menginspirasi kita semua.

Sayangnya, sebagian dari kita menerima inspirasi dengan cara yang tidak lengkap. Sehingga kita merasa dilatih bertahun-tahun bahwa tokoh-tokoh itu adalah manusia ajaib dan hebat karena mereka cerdas sejak lahir. Bakat mereka adalah bakat bawaan.

Sering dilewatkan, misalnya, bahwa Mozart—musisi jenius terhebat sepanjang masa—baru menciptakan karyanya yang paling hebat setelah berkarya selama lebih dari dua puluh tahun, sebagaimana dicatat oleh psikolog Michael Howe dalam bukunya Genius Explained.

Share
Continue Reading