Ruang Kelas …

belajar di mana saja || harnas.co

Rumah adalah ruang kelas sesungguhnya bagi anak. Kini, ruang kelas lebih banyak lagi.

Media online menjadi ruang kelas yang paling terbuka. Ketika rumah sudah mulai sepi dari nasihat, contoh baik, dan sepi penghuni, maka media online memenuhi ruang kosong anak-anak.

Model hidup yang kita tampilkan di rumah kepada anak-anak kita akan mejadi pelajaran dan pengalaman nyata bagi anak-anak. Apa yang kita bicarakan, respon kita terhadap banyak hal, dan cara kita mengurus rumah, semua akan masuk rekaman memori anak.

Media online hampir “merebut” peran semua ruang kelas yang ada.

Youtube. Inilah ruang kelas terbesar dalam sejarah setelah Google. Setiap orang bisa belajar dan berbagi apa saja di youtube.

Media sosial (facebook, instagram, twitter, dll) lebih masif lagi. Banyak anak mencari figur, mencari jati diri, dan menjelajah kebanggaan diri melalui media sosial. Memang itulah ruang kelas baru bagi mereka.

Apakah Google, Youtube, dan media-media sosial bisa sepenuhnya menggeser peran guru? TIDAK.

Media online mampu menyesaki otak dengan big data yang wah. Pendidikan tidak hanya urusan otak. Ada pendidikan hati, emosi, dan spiritual.

Share
Continue Reading

Pendidikan Karakter Dari Lionel Messi

messi || sport.detik.com

www.sejutaguru.com||

Ini adalah bocoran dari pelatihnya saat ini.

“Messi normal saja melakukannya karena kita selalu melihatnya. Di antara kita, itu tidak normal, tapi Messi melakukan hal-hal luar biasa dan membuatnya menjadi kebiasaan”, ujar pelatih Ernesto Valverde.

Komentar itu dia katakan ketika Messi mencetak hat-trick dan mengantarkan Barcelona menang 4-0 saat menjamu PSV pada Selasa (18/9/2018).

Yang istimewa adalah kalimat “melakukan hal-hal luar biasa dan membuatnya menjadi kebiasaan”. Inilah awal mula pendidikan karakter, yaitu membangun kebiasaan.

Saya teringat buku Daniel Kahneman yang berjudul Thinking, Fast and Slow. Buku bagus yang akan memperkaya fondasi berpikir kita sebagai pendidik. Buku yang menjelaskan bahwa ada dua sistem cara kita berpikir. Sistem 1 adalah yang cepat, intuitif, dan emosional. Sistem 2 adalah yang lebih lambat, penuh pertimbangan, dan sangat logis.

Share
Continue Reading

Anak Harus Tahu Bahwa Gagal Itu Positif

Makna kegagalan || vix.com

Oleh: Ali Fauzi

Setiap kali latihan soal,  biasanya hanya dua soal, aku sering mengucapkan alhamdulillah ketika ada siswa yang salah dalam menyelesaikan tugasnya.

“Kok, bapak bilang Alhamdulillah. Kan saya salah”.

“Anak yang salah karena telah berusaha sendiri, berarti dia akan menjadi paham dan pintar. Ayo berusaha lagi. Mana yang masih kamu bingungkan?”

Pertama, saya ingin membiasakan anak dengan kegagalan. Saya ingin setiap anak meyakini bahwa kegagalan bukanlah identitas. Ya, identitas bahwa akhirnya “saya menjadi orang gagal”. Kegagalan harus menjadi keyakinan sebagai tindakan. Yang berarti bahwa jika saya gagal maka saya akan mengubah tindakan untuk berusaha lagi.

Share
Continue Reading

‘Mengamputasi’ kebiasaan; Proses Penting Dalam Pendidikan Karakter

mengubah kebiasaan || pixabay.com

Oleh: Ali Fauzi

Aku memulainya dari sebuah “bisikan”.

Tangannya sedang asyik memegang penggaris. Dia berlarian mengintai temannya seolah sedang baku tembak. Dor… dor.. itulah keasyikan bermain tanpa batas bagi anak. Aku mengenalnya sebagai sosok yang tenang, sedikit berbicara, dan senang bermain. Di antara semua keceriaannya, satu yang menarik perhatianku, yaitu kebiasaannya menggigit dasi.

Saat belajar, saat menunggu giliran, atau saat mengerjakan tugas yang agak sulit, tangannya memegang dasi dan langsung masuk mulutnya. Berputar-putar dan digigit sampai basah kuyup. Sungguh, tidak ada yang salah dengan kebiasaan tersebut. Tidak mengganggu belajar ataupun mengganggunya saat berteman dan bermain.

Hanya, sesekali temannya akan meneriakkan, “jijik, jijik, jorok,” dan tangannya langsung mencabut dasi dari mulutnya.

Share
Continue Reading

Cerdas Emosi; Diary Anak Pengubah Orangtua

Pendidikan emosi anak || sumber gambar : tempo.co

Oleh: Ali Fauzi

Inilah pengalaman nyataku.

Gadis itu masih kelas 5. Dia tidak segan-segan bergabung dengan siapapun yang sedang asyik bermain. Langkahnya begitu ringan untuk berteman. Kata-katanya juga membuat temannya merasa nyaman. Bahkan, saat sendiri, tangannya sering ditarik-tarik utk bermain baersama.

Bagiku, dia adalah pribadi unik. Tubuhnya sangat ringan dalam dua sisi. Geraknya untuk bermain dan bergembira sangat lincah, namun sering juga aku melihat langkah cepatnya untuk menyendiri. Mungkin, bagi teman-temannya dia sedang belajar. Kalau aku yang melihat matanya, dia berada sangat jauh di kedalaman hatinya.

Share
Continue Reading

Karakter Itu…

pendidikan karakter

 

Karakter itu…

Sudah tertangkap, divonis bersalah, dibui, dan tetap masih melakukan suap di dalam penjara, itulah karakter.

Di alat pemasak nasi sudah ada garis dan ukuran air, tapi masih saja mengukur menggunakan jari.

Ketika melihat peristiwa tertentu, dia memotretnya, tulis status dan lebih memilih “nyinyir” dan mem-viralkannya di media sosial ketimbang mencari solusi.

Share
Continue Reading
1 2 3 6